Bahaya di Balik Diet Keto

Diet Keto. (Ilustrasi: kompas.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Sejak 2018, diet ketogenik atau diet keto menjadi salah satu tren gaya hidup sehat bagi generasi langgas. Diet ini diklaim mampu menurunkan berat badan dalam waktu yang relatif cepat. Namun, sejumlah peneliti justru menemukan bahaya penerapan diet ini dalam jangka panjang.

“Ada kesalahpahaman yang mendalam bahwa orang harus menghindari karbohidrat ketika mereka mencoba menurunkan berat badan,” ujar Kepala Nutrisi dan Penelitian di Slimming World, Dr. Jacquie Lavin, seperti yang dilansir oleh kompas.com.

Diet keto merupakan metode menurunkan berat badan dengan memperbanyak asupan lemak dan protein, sekaligus mengurangi asupan karbohidrat harian hingga 50 gram atau kurang dari 10% dari total kalori. Pola konsumsi ini akan menghasilkan zat keton. Dalam kondisi tertentu, zat keton dapat membuat ginjal dan paru-paru bekerja lebih berat. Dilansir oleh cnnindonesia.com, Ahli Gizi dr. Lukman Halim, M.Gizi., Sp.G.K.(K) menyarankan agar seseorang memeriksakan fungsi ginjal dan paru-parunya terlebih dahulu sebelum memulai diet keto. Diet keto murni atau hanya mengonsumsi lemak dan tidak mengonsumsi protein dalam waktu 4-7 hari dapat menimbulkan risiko gangguan metabolisme.

Dalam pola konsumsi diet keto, makanan seperti roti putih dan gula harus dibatasi, termasuk pula konsumsi buah dan sayur yang mengandung gula, seperti jagung, tomat, kentang, nanas, apel, mangga, dan pisang. Pola konsumsi ini ditentang oleh Peneliti Program Pusat Manajemen Berat Badan di Wake Forest Baptist Health Amerika Serikat Annette Frain. Ia mengatakan, seseorang yang menerapkan diet keto secara terus-menerus, maka asupan nutrisinya akan berkurang.

Mengurangi konsumsi karbohidrat dipercaya membuat proses pembakaran lemak dalam tubuh menjadi lebih efektif. Diet ini bahkan diklaim mampu mengurangi kadar gula darah dan meningkatkan produksi insulin sehingga mengurangi risiko diabetes, alzheimer, hingga kanker. Namun, penelitian Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) justru menunjukkan bahwa kebutuhan akan karbohidrat harus dipenuhi sekalipun tengah menjalankan program diet. Sebab, karbohidrat merupakan sumber utama kalori tubuh.

 

Penulis: Anindya Wahyu Paramita

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Ilustrasi: kompas.com

Sumber: kompas.com, tirto.id, cnnindonesia.com