Kenali Cyclist’s Palsy, Cedera Tangan Saat Bersepeda

Cyclist's Palsy, Cedera Tangan Saat Bersepeda (ULTIMAGZ)
Cyclist's Palsy merupakan gangguan pada tangan seseorang yang bersepeda (Foto: sportcoaching.co.nz)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Sejak pandemi COVID-19 merebak, bersepeda menjadi salah satu olahraga yang peminatnya terus meningkat. Namun, saat bersepeda pastikan posisi tubuh dan tangan berada dalam posisi yang benar agar tidak mengalami cedera atau hal lain yang tidak diinginkan. Jika Ultimates merasakan sakit di jari manis atau kelingking setelah bersepeda, kemungkinan besar Ultimates mengalami gangguan Cyclist’s Palsy.

Cyclist’s Palsy adalah kondisi tidak nyaman saat dan setelah bersepeda pada jari manis dan kelingking. Hal ini disebabkan oleh tekanan di ulnar neve.

Melansir kompas.comulnar neve merupakan saraf di kelingking dan jari manis yang melewati pergelangan tangan melalui sebuah terowongan (guyon canal). Rasa sakit dapat muncul bila terlalu lama berpegangan dengan handle bar.

“Kondisi ini disebut juga dengan Guyon canal syndrome, kalau terjadi pada pesepeda disebut cyclist’s palsy,” ucap Dr. Oryza Satria, SpOT (K), salah satu Dokter Spesialis Bedah Ortopedi Konsultan Hand and Microsurgery dilansir dari detik.com.

Biasanya, gangguan ini akan muncul ketika bersepeda dalam jangka waktu yang lama. Terutama, ketika bersepeda menuruni bukit. Sebagian besar bobot tubuh akan ditopang tangan yang menyebabkan beban yang lebih besar di jari-jari tangan.

Ada dua kategori gejala pada gangguan bersepeda ini, yaitu gangguan sensorik dan motorik. Gejala gangguan sensorik yang terjadi adalah kesemutan dan mati rasa pada jari manis atau kelingking. Secara umum, kesemutan dan mati rasa akan menghilang 1-2 hari setelah berolahraga.

Sedangkan, gangguan motorik terlihat dari jari kelingking dan manis sulit diluruskan, massa otot di antara ibu jari dan telunjuk terlihat mengecil, dan kesulitan untuk menggerakkan jari-jari.

Apabila gejala-gejala tersebut berlanjut dan tidak ditangani, kemungkinan besar akan menjadi gangguan yang permanen. Maka, penting untuk memeriksakan diri ke dokter spesialis ortopedi konsultan dan microsurgery agar penanganan dapat diberikan sedini mungkin.

Oryza juga menjelaskan beberapa penyebab seseorang mengalami cyclist’s palsy. Pertama, posisi tangan dan badan yang salah. Posisi pergelangan tangan yang ekstensi, yaitu mengarah ke atas dan keluar, bukan ke dalam seperti menggenggam akan mempengaruhi regangan pada saraf.

Hal ini juga mempengaruhi ketika seseorang memberikan tekanan besar yang lama pada tangan, maka akan terhambat aliran darah ke saraf ulnaris, salah satu saraf utama di lengan dan tangan.

Posisi duduk yang terlalu tinggi atau setang yang terlalu rendah juga menjadi penyebab karena seluruh beban tubuh ditopang oleh tangan. Begitu pula tekanan ban sepeda yang terlalu tinggi dan ban yang digunakan terlalu tipis menimbulkan banyak getaran pada tangan.

Lalu, bagaimana cara mencegahnya? Benda yang harus Ultimates utamakan adalah setang atau handle barUltimates dapat menggunakan bantalan yang empuk dan nyaman. Jangan lupa untuk menggunakan sarung tangan, semakin tebal akan semakin baik.

Perhatikan pula kondisi tangan. Posisi yang baik adalah mempertahankan pergelangan tangan supaya tetap lurus dan tidak hiperekstensi. Jika Ultimates melakukan olahraga jarak jauh atau waktu yang lama, seringlah mengganti posisi tangan di setang.

Sepatu yang digunakan juga penting untuk diperhatikan. Pakailah sepatu yang tepat dan sesuaikan dengan posisi sadel supaya posisi duduk juga lebih nyaman ketika bersepeda.

Terakhir, jangan lupa untuk menerapkan VDJ, ventilasi, durasi, dan jarak. Di masa pandemi ini, sudah seharusnya menerapkan penjagaan jarak.

Bersepeda memang menyenangkan, tetapi Ultimates juga harus memperhatikan tubuh sendiri. Jangan sampai bersepeda bersepeda menimbulkan cedera, alih-alih manfaat baik untuk tubuh.

 

Penulis: Maria Katarina

Editor: Andi Annisa Ivana Putri

Foto: sportcoaching.co.nz

Sumber: kompas.com, detik.com, cnnindonesia.com.