‘Emotional Eating’, Kebiasaan Makan Sebagai Pelampiasan Stres

Cokelat dipercaya menjadi salah satu makanan untuk mengurangi stres. Kondisi ini disebut dengan 'emotional eating', yaitu kebiasaan makan berlebihan untuk mengurangi stres. (Foto: pexels)
Share:

Serpong, ULTIMAGZ.comTingginya aktivitas yang dilakukan seseorang seringkali memberikan dampak pada menurunnya sistem kekebalan tubuh. Tak hanya itu, perubahan sistem kekebalan tubuh juga dipicu oleh stres yang dihasilkan oleh banyak faktor, baik dari dalam atau luar dirinya.

Stres merupakan reaksi tubuh yang muncul saat seseorang menghadapi tekanan, ancaman, atau suatu perubahan. Situasi tersebut akan memicu respons tubuh, baik secara fisik ataupun mental. Respons tubuh terhadap stres dapat berupa napas yang pendek, detak jantung yang cepat, otot menjadi kaku, dan tekanan darah meningkat.

Salah satu cara yang banyak dilakukan orang guna mengatasi stres adalah makan. Makan berlebihan di bawah pengaruh stres dikenal dengan istilah ‘emotional eating. Aktivitas makan ini seringkali lebih ditujukan sebagai pelarian, penghilang stres, atau ‘hadiah’ untuk diri sendiri. 

Dilansir dari hallosehat.com, struktur dalam otak yang disebut hipotalamus memproduksi hormon cortictropin yang menekan nafsu makan. Otak mengirimkan sinyal pada kelenjar adrenal untuk melepaskan adrenalin. Adrenalin membantu memicu respons fight or flight” tubuh-kondisi fisiologis yang mengesampingkan kebutuhan akan makan secara sementara. 

Namun, membiasakan makan berlebihan sebagai cara untuk mengatasi stres justru dapat memberikan tekanan yang baru, yaitu naiknya berat badan yang dapat mengganggu psikologis seseorang. Apabila sampai kepada kondisi yang memengaruhi kesehatan mental, tekanan tersebut akan berakhir pada depresi.

Mengalihkan pikiran saat tubuh terus meminta makanan merupakan salah satu cara untuk mengalihkan emotional eating. Mengalihkan perhatian dari emotional eating dapat dilakukan dengan beberapa cara, di antaranya sebagai berikut.

  1. Kenali Penyebab Emotional Eating

Penyebab setiap orang mengalami kecenderungan emotional eating berbeda-beda. Ada yang mengalami emotional eating karena rasa bosan, sedih, kebingungan, hingga kecewa. Mengenali penyebab ini penting karena dapat membuat kita lebih mudah memberikan respons terhadap keinginan makan tersebut. Selain itu, dengan mengenali penyebabnya, maka akan lebih mudah pula bagi kita untuk menemukan solusinya.

  1. Menentukan Waktu Makan

Dengan menentukan waktu makan, kita akan lebih mudah mengendalikan emotional eating. Saat tubuh meminta makan di luar waktu makan kita, maka kita akan cenderung lebih terdorong untuk mengabaikan keinginan tersebut. Dalam menentukan waktu makan, kita pun juga perlu memperhatikan pola makan yang baik beserta keseimbangan gizinya. Walaupun menentukan waktu makan sendiri, jangan sampai kita justru membuatnya terlalu ketat hingga membuat kita sakit.

  1. Melakukan aktivitas lain

Guna mengalihkan perhatian dari emotional eating, kita bisa melakukan apa saja yang kita inginkan. Kita bisa melakukan hobi yang selama ini mungkin tidak sempat kita lakukan. Sebagai contoh, kita bisa membaca, mendengar musik, melihat video Youtube, atau olahraga! Hal tersebut dapat membantu kita mengalihkan keinginan untuk makan secara berlebihan. Stres pun dapat hilang tanpa kita perlu makan berlebihan!

 

Penulis: Maria Soterini

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: pexels.com

Sumber: kompas.com, hallosehat.com, lagizi.com