• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Sunday, August 31, 2025
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Kenali Impulsive Buying dan Doom Spending, Fenomena Konsumtif dalam Kehidupan Modern

Jesslyn Gunawan Wijaya by Jesslyn Gunawan Wijaya
March 13, 2025
in Lifestyle
Reading Time: 6 mins read
Impulsive Buying

Ilustrasi impulsive buying. (ULTIMAGZ/Gabri Perboire)

0
SHARES
230
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Beriringan dengan tren belanja online, istilah impulsive buying juga menjadi semakin populer. Istilah ini digunakan untuk mendeskripsikan perilaku konsumtif seseorang demi kepuasan sesaat.

Tanpa disadari, perilaku impulsif tersebut dapat berujung pada pola pengeluaran yang tidak terkendali atau doom spending. Pengeluaran tersebut dapat berpotensi merusak stabilitas keuangan.

Baca juga: Tips Belanja Pakaian Menjadi Lebih Ramah Lingkungan

Kedua tindakan ini mengarah pada masalah finansial apabila dilakukan secara terus-menerus. Lantas, apa yang membedakan dua istilah ini? Mari simak penjelasan mengenai impulsive buying dan doom spending beserta penyebab dan dampaknya di bawah ini!

Apa Itu Impulsive Buying?

Tidak jarang orang beranggapan bahwa membeli barang secara impulsif adalah kegiatan yang biasa, bahkan menyenangkan. Terdapat beberapa yang faktor dapat memengaruhi pemikiran dan tindakan ini, misalnya ketika melihat penawaran diskon besar-besaran saat berbelanja online.

Mengutip siloamhospitals.com, impulsive buying merupakan perilaku membeli barang secara spontan dan tidak bermanfaat. Impulsive buying berasal dari kata impulsive yang berarti melakukan suatu tindakan tanpa berpikir ke depannya. Biasanya, pelaku akan merasa menyesal tetapi cenderung mengulanginya lagi.

Perilaku impulsif ini bukan terjadi berdasarkan rencana atau kebutuhan, melainkan dipicu oleh faktor-faktor yang memengaruhi secara emosional, dilansir dari halodoc.com. Namun, impulsive buying tidak selalu dinilai negatif. Beberapa orang menjadikan tindakan ini sebagai cara untuk mengapresiasi diri mereka atau yang biasa disebut self-reward. 

Berikut adalah beberapa penyebab tindakan impulsive buying.

1. Faktor emosional

Mengutip halodoc.com, dorongan emosional merupakan faktor utama perilaku ini. Kondisi emosional seseorang sangat memengaruhi keputusan pembelian. Misalnya, pada saat seseorang merasa stres, bosan, sedih, atau bahkan bahagia, reaksi emosional dapat memancing hasrat untuk berbelanja. Reaksi tersebut kemudian dapat memberikan rasa puas dan berpengaruh pada sisi psikologis, mendorong seseorang untuk terus berbelanja.

2. Promosi dan diskon

Hal ini mencakup penawaran diskon dan iklan yang terpasang baik di toko offline atau online. Ketika konsumen dihadapkan dengan penawaran yang menarik seperti promosi flash sale atau buy one get one, timbul dorongan untuk membeli meskipun sebenarnya tidak dibutuhkan.

3. Fear of missing out (FOMO)

Fear of missing out (FOMO) merupakan faktor kepribadian yang berpengaruh besar dalam perilaku belanja impulsif. Seseorang akan merasa tertinggal dan gengsi apabila tidak memiliki barang atau sesuatu yang sedang tren. 

Meskipun tidak selalu dinilai sebagai tindakan yang negatif, impulsive buying akan kembali berdampak buruk apabila dilakukan terus-menerus hingga menimbulkan kerugian. Hal ini dapat berisiko terhadap kondisi keuangan maupun psikologis.

Kenali Lebih Jauh Doom Spending!

Doom Spending
Ilustrasi doom spending. (ULTIMAGZ/Gabri Perboire)

Mengutip detik.com, doom spending adalah situasi ketika seseorang berbelanja dengan impulsif dengan tujuan untuk menenangkan pikiran karena merasa cemas dan pesimis atas finansial. Alih-alih menabung, mereka yang merasa tertekan akan hal ini lebih memilih menghabiskan untuk kesenangan instan, dilansir dari kompas.com.

Profesor Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Kota University of New York, Bruce Y. Lee, mengatakan bahwa fenomena ini dapat terjadi ketika seseorang merasa tertekan dalam suatu situasi, dilansir dari detik.com. Tidak hanya berpengaruh pada stabilitas keuangan, kondisi emosional seseorang juga dapat terpengaruh. Mengutip tempo.co, perilaku impulsif justru sering terjadi pada orang yang sedang mengalami stres. 

Fenomena doom spending yang juga termasuk bagian dari impulsive buying ini kerap dialami oleh generasi Z dan milenial. Terlebih di era yang serba digital, peran media sosial sangat berpengaruh dalam berlangsungnya kedua perilaku tersebut. Mengutip kompas.com, menurut sebuah studi dari Sky News, terdapat 43 persen generasi milenial dan 35 persen generasi Z yang mengeluarkan uang untuk membuat diri mereka merasa lebih baik. 

Dampak dan Cara Menghadapi Keduanya

Dalam gaya hidup yang serba modern, sangat memungkinkan bagi seseorang untuk melakukan kedua perilaku di atas. Ada yang melakukannya secara tidak sadar ataupun sebaliknya.

Namun faktanya, baik perilaku impulsive buying maupun doom spending biasanya memberikan dampak yang negatif. Menurut Psikolog Samanta Elsener, dampak dari kedua perilaku ini sangat berbahaya karena kebahagiaan yang didapat dari belanja impulsif hanya bersifat sementara. Ketika kegiatan tersebut selesai dan kembali ke rutinitas awal, perasaan stres akan muncul kembali, dilansir dari tempo.co.

Oleh karena itu, penting untuk lebih memahami mana yang termasuk kebutuhan dan keinginan serta belajar untuk mengendalikan kepuasan sementara. Berikut beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah perilaku impulsive buying dan doom spending.

1. Membuat kerangka pengeluaran

Mengutip kompas.com, tips pertama yang disarankan adalah membuat kerangka pengeluaran. Hal ini dilakukan dengan salah satu metode pengelolaan keuangan, yakni metode 50/30/20.

Artinya, 50 persen dari pendapatan digunakan untuk pengeluaran penting, 30 persen untuk pengeluaran diskresioner atau pengeluaran tidak mendesak, dan 20 persen untuk keperluan lainnya. Dengan menerapkan metode ini, keuangan menjadi lebih teratur walau beriringan dengan pengeluaran untuk kesenangan pribadi.

2. Membuat urutan prioritas 

Membuat daftar urutan prioritas dapat menjadi salah satu cara untuk membedakan hal yang merupakan kebutuhan dan keinginan. Selain membuat urutan prioritas, menentukan batasan anggaran juga dapat dilakukan agar lebih fokus terhadap tujuan utama, dilansir dari halodoc.com.

3. Mencari kegiatan lain sebagai alternatif menghadapi stres

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, salah satu faktor pemicu perilaku impulsive buying dan doom spending adalah stres. Ketika merasa stres, tidak jarang seseorang akan membeli sesuatu untuk menghibur dirinya. Namun, dampaknya menjadi tidak baik jika dilakukan secara terus menerus.

Baca juga: Metode 50/30/20: Cara Efisien Olah Keuangan

Mulailah mengganti kebiasaan tersebut dengan melakukan kegiatan lain yang lebih produktif tanpa harus mengorbankan stabilitas keuangan. Misalnya seperti berolahraga, membaca buku, atau melatih hobi.  

Ultimates, itulah perbedaan antara impulsive buying dan doom spending yang bisa terjadi pada siapapun. Bijaklah dalam mengelola keuangan agar kondisi finansial tetap teratur dan terkontrol!

 

 

Penulis: Jesslyn Gunawan Wijaya

Editor: Jessica Kannitha

Foto: ULTIMAGZ/Gabri Perboire

Sumber: siloamhospitals.com, halodoc.com, detik.com, kompas.com, tempo.co

Tags: 2025doom spendingFOMOGen ZGenerasi MilenialGenerasi Zimpulsive buyinglifestylemilenialmodern
Jesslyn Gunawan Wijaya

Jesslyn Gunawan Wijaya

Related Posts

Tempe: Hasil Fermentasi Mendunia yang Berakar dari Jawa
Kuliner

Tempe: Hasil Fermentasi Mendunia yang Berakar dari Jawa

July 16, 2025
Kopi yang berasal dari feses gajah. (antaranews.com)
Lifestyle

Dari Feses Gajah ke Cangkir Kopi: Cerita di Balik Kopi Ivory

July 16, 2025
Potret salah satu bahan sushi, kani. (istockphoto.com)
Lifestyle

Sushi Kani Ternyata Bukan Kani, tapi Surimi? Ini Faktanya!

July 16, 2025
Next Post
Komunitas Buku

Komunitas Buku: Ruang Diskusi yang Menghidupkan Literasi

Comments 3

  1. وی ایزوله ویسلی says:
    2 weeks ago

    وی ایزوله ویسلی،
    پودری با 6 گرم BCAA و 14 گرم EAA در هر سروینگ است که با روش میکروفیلتراسیون جریان متقاطع تولید می‌شود.

    Reply
  2. وی چمپیون says:
    3 weeks ago

    وی چمپیون،
    ترکیبی قدرتمند از سه نوع پروتئین وی (کنسانتره، ایزوله
    و هیدرولیزه) است.

    Reply
  3. وی ماسل رولز says:
    4 weeks ago

    وی ماسل رولز،
    ترکیبی از پروتئین وی ایزوله و کنسانتره است که در
    هر وعده ۳۴ گرمی، ۲۵ گرم
    پروتئین خالص.

    Reply

Leave a Reply to وی ماسل رولز Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

5 × 1 =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021