SERPONG, ULTIMAGZ.com – Pernahkah Ultimates membeli sesuatu yang tidak direncanakan? Misalnya, ketika pergi ke toko kelontong, galon air dan susu ada di dalam daftar kalian. Namun, malah permen atau cokelat yang kalian masukkan ke dalam troli secara spontan. Hal ini termasuk ke impulsive buying atau pembelian impulsif.
Pembelian impulsif adalah perilaku membeli yang tidak didasarkan pada pertimbangan yang matang dan biasanya terjadi secara tiba-tiba, dilansir dari pijarpsikologi.org. Jadi, bila Ultimates pernah ada dorongan tiba-tiba untuk membeli sesuatu tanpa perencanaan atau pemikiran sebelumnya, itu tergolong pembelian impulsif.
Baca juga: “Self-Reward”: Bukan Berarti Boros, Ada Cara Sederhananya
Banyak studi dan penelitian yang menunjukkan bahwa terdapat beberapa tanda atau gejala yang mengindikasikan seseorang melakukan pembelian impulsif, yakni sebagai berikut.
- Menghabiskan lebih banyak uang dari pada yang dimaksudkan.
- Pergi ke toko-toko atau tempat-tempat yang sering memicu pembelian impulsif.
- Adanya perasaan puas setelah pembelian yang tidak direncanakan.
- Sering mengembalikan pembelian impulsif karena penyesalan.
Jika merasa memiliki tanda-tanda sebagai pembeli impulsif, Ultimates perlu berhati-hati karena belanja secara impulsif tanpa perencanaan matang dapat mendatangkan masalah besar walau menyenangkan. Dengan begitu, mari menelisik lebih dalam mengenai pembelian impulsif!
Mengapa Seseorang Melakukan Pembelian Impulsif?
Pembelian impulsif terjadi karena adanya pemicu emosional atau psikologis yang membujuk pelanggan agar melakukan pembelian spontan untuk memenuhi dorongan. Pelanggan tidak melakukan perencanaan sebelum membeli dan hanya membeli produk yang tidak dimaksudkan untuk dibeli sejak awal.
CEO Behavioral Cents and Stopping Overshopping Carrie Rattle mengatakan bahwa pembelian impulsif sering kali melibatkan pemicu eksternal. Pemicunya bisa merupakan penjualan atau iklan. Bisa juga karena hanya melihat barang tersebut di toko, media sosial, atau tangan teman-teman yang tiba-tiba membuat seseorang ingin memilikinya, dikutip dari nerdwallet.com.
Segala macam faktor sensorik dan psikologis dapat memicu pembelian impulsif dalam perilaku pembelian konsumen. Biasanya, pembelian impulsif muncul dari pemicu eksternal dan reaksi internal konsumen terhadapnya. Pemicu eksternal ini mungkin terlihat seperti iklan atau pemasaran dengan emosi positif, bisa juga lingkungan toko yang mendorong pembelian impulsif.
Namun, banyak studi menjelaskan bahwa emosi sering memainkan peran yang menentukan dalam pembelian impulsif. Hal ini juga didorong oleh pesan promosi. Jadi, banyak perusahaan dan merek yang melaksanakan pemasaran (marketing) kuat agar bisa mendorong pembelian impulsif pada pelanggan.
Keputusan untuk membeli produk atau jasa dapat dikaitkan dengan sejumlah peristiwa psikologis yang berbeda. Alasan yang paling bisa dimengerti dan paling umum adalah bahwa seseorang mendapatkan perasaan yang baik dari produk ‘baru’. Sebab, mendapatkan sesuatu yang baru dan disukai adalah distraksi di hari yang buruk.
“Dorongan untuk membeli berlebihan adalah bentuk pengobatan diri kita sendiri untuk melepaskan diri dari pikiran sibuk kita,” jelas Psikolog Perpetua Neo, dikutip dari cnalifestyle.channelnewsasia.com.
“Cukup sering, pembelanjaan kecil dapat menjadi pintu gerbang metafora menuju barang-barang yang lebih besar, karena Anda belajar menjadi lebih nyaman dengan pengeluaran dan dengan jumlah total yang lebih besar,” tambah Neo.
Pembelian impulsif juga diakibatkan oleh kecemasan dan kesulitan seseorang mengendalikan emosinya. Bila terlalu memikirkan apa yang dikatakan atau dimiliki orang lain, seseorang dapat mengintimidasi pikiran diri sendiri. Pembeli impulsif pun akan cenderung kurang bahagia, sehingga berbelanja dapat menjadi cara untuk menaikkan mood mereka.
Faktor lain yang menjadi penyebabnya adalah karena kecemburuan sosial. Terkadang, ketika seseorang melihat sosial media, mereka akan melihat unggahan-unggahan teman mereka. Entah itu pakaian yang mereka gunakan, gaya hidup yang dilakukan, dan sebagainya. Dengan kondisi tersebut, pembeli impulsif mungkin tidak senang dengan apa yang telah temannya capai dan membuat mereka mencari ‘pelampiasan’, sehingga sering kali mereka membeli barang hanya untuk melampiaskan ketidaksenangannya.
Dampak Pembelian Impulsif yang Berlebihan
Pembelian impulsif ini sebenarnya tidak berbahaya jika sesuai dengan anggaran seseorang. Namun sayangnya, pembelian impulsif dapat mengakibatkan pengeluaran yang mahal dan dapat mendatangkan malapetaka pada finansial seseorang.
Oleh sebab itu, perilaku pembelian yang terus-menerus dan berulang dapat sangat merugikan keuangan Ultimates jika tidak berhati-hati. Bila pembelian impulsif dibiarkan dan diteruskan, keuangan atau finansial akan terganggu.
Pembeli impulsif akan mengalami permasalahan pada keuangannya karena sering terjadi pengeluaran yang tidak terencana dan mengganggu pembagian keuangan untuk kebutuhan lain. Hal ini pun dapat menyulitkan seseorang untuk merencanakan keuangannya dengan baik dalam jangka panjang maupun pendek, khususnya dalam menyiapkan sejumlah dana darurat. Apalagi, pembelian impulsif ini bersifat konsumtif. Alhasil, seseorang dapat menjalani pola hidup yang boros.
Dampak negatif atau konsekuensi dari pembelian impulsif tidak hanya pembengkakan pengeluaran, tetapi bisa rasa penyelesaian yang dikaitkan dengan masalah keuangan dan rasa kecewa karena membeli produk berlebihan.
Beberapa Tips Bijak dalam Berbelanja
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk berbelanja dengan bijak seperti berikut.
- Kurangi membeli barang melalui e-commerce.
- Jangan mudah tergiur dengan harga yang murah.
- Membuat daftar belanja dan mulailah dari barang yang paling diprioritaskan.
- Catat pengeluaran agar bisa menyadari dan mengetahui seberapa besar pengeluaran per bulan.
- Merencanakan keuangan perbulan.
- Menahan diri saat melihat barang diskon.
- Melakukan riset saat berbelanja, terutama saat mencari tahu kualitas dan harga pasaran dari produk tersebut.
Baca juga: Studi: Indonesia Paling Gemar Buka Aplikasi Belanja
Pembelian impulsif memang perilaku yang diterima secara sosial, mengingat hal ini juga didorong oleh perusahaan melalui strategi pemasaran. Namun, pembelian dan pengeluaran yang Ultimates lakukan harus diperhatikan baik-baik karena dapat sangat memengaruhi kualitas hidup secara keseluruhan.
Bila Ultimates menemukan bahwa pembelian impulsif telah mengambil alih anggaran kalian, ingatlah bahwa kalian memiliki kekuatan untuk mengambil kembali daya beli ke tangan kalian sendiri.
Penulis: Alycia Catelyn & Sherly Julia
Editor: Vellanda
Foto: Chiquita Aurellia Tjandra
Sumber: pijarpsikologi.org, nerdwallet.com, cnalifestyle.channelnewsasia.com, kompas.com
Can you be more specific about the content of your article? After reading it, I still have some doubts. Hope you can help me.