Lawan Perubahan Iklim, Universitas di London Larang Penjualan Daging Sapi

(Ilustrasi: barrie360.com)
Share:

LONDON, ULTIMAGZ.com – Universitas Goldsmith di London memiliki wacana untuk melarang penjualan daging sapi di kantin mahasiswa dalam rangka melawan perubahan iklim mulai September mendatang. Selain itu, universitas tersebut memiliki target untuk menyandang predikat bebas emisi karbon atau Carbon Neutral pada tahun 2025.

“Saya sungguh-sungguh percaya kita sedang menghadapi momen yang menentukan sejarah global dan Goldsmith sekarang berdiri bahu-membahu dengan organisasi-organisasi lain yang bersedia memunculkan kewaspadaan dan bertindak segera untuk memotong penggunaan karbon,” kata salah satu pengawas Universitas Goldsmith, Frances Corner. Harapannya, pelarangan tersebut meningkatkan kewaspadaan tentang perubahan iklim.

Seiringan dengan wacana ini, terdapat beberapa kebijakan ramah lingkungan yang juga diterapkan. Salah satunya, mahasiswa wajib membayar 12 cent (Rp1.700) untuk menggunakan botol dan gelas plastik sekali pakai. Frances juga menuturkan bahwa Universitas Goldsmith mempunyai rencana untuk memasang lebih banyak panel tenaga surya, mengganti suplai energi menjadi bersih 100%, dan menanam lebih banyak pohon.

Profesor tersebut mengklaim bahwa para staf dan mahasiswa sungguh peduli terhadap masa depan lingkungan hidup. Itu sebabnya, seluruh anggota keluarga besar universitas tersebut bertekad membawa perubahan dengan memotong emisi karbon secara drastis dan cepat.

Namun, tindakan Frances mengundang ragam tanggapan dari sejumlah pihak. Beberapa lapisan masyarakat menilai hal tersebut baik, tetapi pihak lain menilai hal tersebut kurang proporsional lantaran terlalu menyederhanakan masalah.

Wakil Ketua National Farmer’s Union Stuart Roberts menanggapi pelarangan penjualan daging sapi Universitas Goldsmith. Menurutnya, universitas seharusnnya mendukung produksi ternak lokal Inggris. Hal ini dikarenakan standar produksi daging sapi Inggris menggunakan sistem ternak berbasis rumput yang luas, sehingga jejak gas rumah kaca 2,5 kali lebih kecil daripada rata-rata global.

“Melawan perubahan iklim adalah salah satu tantangan terbesar di zaman sekarang, tapi meniadakan salah satu produksi makanan jelas merupakan pendekatan yang terlalu menyederhanakan masalah,” katanya.

Berdasarkan laporan Commite on Climate Change (CCC) 2016, produksi domba, sapi, dan susu turut menyumbang emisi gas hingga 58% dari sektor agrikultur. Secara global, sapi menyebabkan emisi gas ternak hingga 41%, sedangkan sektor ternak berperan sebanyak 14,5% dari total emisi global.

 

Penulis: Ignatius Raditya Nugraha

Editor: Ivan Jonathan

Sumber: cnn.com, telegraph.co.uk, cbsnews.com

Foto: telegraph.co.uk