Misi Hidup Bersama Sampah

Share:

TANGERANG, ULTIMAGZ.com – Malam itu, kawasan Pasar Lama, Tangerang terlihat lebih ramai dari biasanya. Ratusan warga memenuhi pesta rakyat bertajuk “Pasar Lama Culinary Night”. Bak mendapat durian runtuh, lapak Ujang juga ikut ramai pengunjung. Ditemani temaram cahaya malam dan lampu jalanan, ia sibuk merangkai barang rongsok sembari bercengkrama dengan anak-anak.

Pasar-Muda-Sore-Sampe-Malam-PAMUMINGSOLAM

Foto: abouttng.com

Lapak Ujang terlihat berbeda dari yang lain. Jika hampir seluruh kios di sepanjang jalan menjajakan makanan, lapaknya justru menawarkan sesuatu yang berbeda.

“Beginilah pekerjaan saya setiap akhir pekan. Kalau orang lain mungkin maalam Mingguan atau jalan-jalan, saya malah berjualan sampah,” tutur Ujang membuka percakapan.

Ujang yang memiliki nama asli Tadjudin ini hidup dari sampah-sampah bekas peralatan rumah tangga yang ia kreasikan kembali sehingga menghasilkan sebuah produk robotik. Hasilnya memang tidak sama persis dengan produk yang dijual di mal atau pusat perbelanjaan, tetapi produk ini suksess menarik perhatian setiap orang berkunjung, terlebih anak-anak kecil.

“Tujuan saya di sini ingin memberikan edukasi bagi generasi muda, anak-anak kecil usia 4-12 tahun. Biarlah mereka coba berkreasi sendiri, meningkatkan daya cipta yang mereka punya, agar otak kiri dan otak kanan seimbang. Miris melihat generasi muda sekarang ini lebih memilih bermain games di gadget ketimbang berkreasi seperti ini.”

Setiap hari Minggu, Ujang dan kawan-kawan yang tergabung dalam LUMINTU Recycle Art berjualan di Jalan Kisamaun, Pasar Lama, Tangerang. Tak hanya Ujang dan kawan-kawan, komunitas penghasil produk kreatif lain juga menjajakan produk hasil karya mereka dalam pasar yang biasa dikenal dengan sebutan Pasar Muda MINGgu Sore sampai maLAM (PAMUMING SOLAM)

525403_136461806541475_195496510_n Foto: pamumingsolam.blogspot.com

SEMANGAT BERBAGI INSPIRASI

Bagi sebagian orang, sampah identik dengan kotor, jijik, bahkan sangat dihindari. Namun, bagi yang lainnya, seperti Ujang, sampah justru menjadi kunci penentu dalam menjalankan misi hidup.

“Biasa saya dapat sampah dari tukang atau kios loak. Kalau ada pemulung yang jual ini Rp1.000,- perkilogram, saya berani bayar Rp5000,- perkilogram. Isinya campur-campur, rata-rata sampah yang berbahan plastik pokoknya,” tuturnya.

Dalam hal ini, ia menyadari kemungkinan timbulnya penyakit dari kuman yang ada pada sampah. Terlebih targetnya adalah anak-anak. Dengan begitu, ia tidak pernah mengabaikan kebersihan dengan mencuci kembali sampah menggunakan disinfektan.

Selain itu, bagi Ujang hal penting lainnya adalah menyediakan wadah bagi anak-anak untuk berkreasi dan berbagi inspirasi serta edukasi tentang pemanfaatan sampah. Produk hasil kreasi dari anak-anak ia beri harga sekitar Rp20.000,- hingga Rp35.000,- per buah dengan untung bersih mencapai 300%.

Namun demikian, ia tetap menganggap berbagi inspiras merupakan hal yang lebih penting ketimbang berjualan. Baginya, masyarakat cenderung akan merasa senang karena bisa mendapatkan pengetahuan baru menyulap sampah menjadi sesuatu yang bernilai dan bermanfaat.

“Saya suka dapat undangan ke sekolah-sekolah internasional. Seperti biasa, saya bawakan sampah bahan bakunya, lalu mereka yang kreasikan sendiri. Mereka senang banget, bisa buat robot-robotan, mobil. Atau benda lain. Sampai akhirnya malah mereka yang mengumpulkan sampah bekas sendiri, lalu buat sendiri di rumah,” lanjutnya penuh semangat.

KELILING INDONESIA MELALUI SAMPAH

Berkah yang datang melalui sampah bekas pun berhasil membawanya keliling Indonesia dari Sabang sampai Merauke. Ia pernah mengunjungin Taman Laut Bunaken, Manado, Sulawesi Utara, untuk berbagi ilmu dengan warga sekitar pesisir dalam memilah sampah. Ia pun sempat mengunjungi Dumai, Riau sebagai fasilisator pada kegiatan daur ulang sampah.

Selain itu, ia juga berpartisipasi dalam Jambore I untuk daur ulang sampah tingkat ASEAN dan Jambore II tingkat internasional. Kerajaan Malaysia juga pernah mengundangnya pada Jambore tingkat internasional. Namun sayang, kesempatan itu tidak dapat direalisaikan karena terkendala visa.

Dalam bidang yang sama, ia berhasil menjad juara II Lomba Daur Ulang yang diadakan oleh Pemerintah Tangerang Kota pada 2010.

“Sampah itu menjadi berkah buat saya dan keluarga, terlebih setelah bertemu Pak Slamet Riyadho. Beliau sangat menginspirasi saya hingga seperti sekarang ini.

Ayah mertua Ujang ini merupakan salah satu tokoh yang dikenal karena keberhasilannya dalam mengolah limbah industri. Atas hal itu, Slamet mendaptkan piala Upakarti pada masa kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. Tak disangka, pertemuannya dengan Slamet dan rekan-rekan di LUMINTU Recycle Art menuntunnya ke jalan yang positif di mana sebelumnya ia sempat menjadi seorang copet.

“Kerjaan apa saja saya lakukan demi dapat uang. Mulai jadi tukang parkir, pengamen, sampai jadi maling. Hebatnya Tuhan ya itu. Tuhan memang sayang sama saya. Kalau kita main sama ‘orang benar,’ asti ikut jadi ‘benar’. Saya dipertemukan dengan orang-orang baik, walaupyun bertemunya di pasar,” kenang Ujang dengan mata berkaca-kaca.

Lebih lanjut, Ujang mengungkapkan bahwa ia akan terus meneruskan dan mengembangkan usahanya itu. Ia berharap, apa yang dikerjakan dapat selalu bermanfaat bagi orang banyak.

“Ya, saya akan tetap menjadi Ujang yang bermanfaat untuk orang banyak, dan tentunya untuk bumi tercinta!”

Screen Shot 2015-11-08 at 12.35.39 PMKontributor : Angel Lauzart, Jurnalistik UMN 2012

Editor: Ghina Ghaliya