Polemik RUU Permusikan di Mata Musisi Indonesia

Para pekerja di industri musik membuat Koalisi Nasional Tolak RUU yang menolak adanya RUU Permusikan. (Foto: kompas.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com–Rancangan Undang-Undang (RUU) Permusikan tengah ramai menjadi perbincangan masyarakat, terutama para musisi. Draf yang sudah ada sejak 2017 tersebut kini mendapat beberapa respons, baik pro maupun kontra. Sejak 24 Oktober 2018, RUU Permusikan telah resmi masuk ke dalam Program Legislasi Nasional dengan 54 pasal yang terkandung di dalamnya.

Rancangan ini menjadi polemik lantaran beberapa pasalnya dianggap membelenggu kreativitas musisi dalam berkarya. Sebagai contoh, pasal 5 yang berisikan 7 ayat. Salah satu ayat berbunyi, “Dalam proses kreasi, musisi dilarang mendorong khalayak melakukan kekerasan serta melawan hukum, dilarang membuat konten pornografi, dilarang memprovokasi pertentangan antarkelompok, dilarang menodai agama, dilarang membawa pengaruh negatif budaya asing, dan dilarang merendahkan harkat serta martabat manusia.”

Pasal ini dianggap ‘karet’ karena bisa dipelintir sesuai keinginan pelapor. Musisi yang melakukan kritik melalui lagunya seperti Iwan Fals dan Feast bisa jadi dipidanakan. Pengaturan perihal pidana mengenai musisi yang melanggar aturan diatur dalam pasal 50 meskipun belum dijelaskan jangka waktu penjara dan jumlah denda yang harus dibayarkan.

Sumber: CNNIndonesia.com

 

Dikutip dari cnnindonesia.com, pengamat musik Wendi Putranto menilai Pasal 5 RUU Permusikan sangat tidak jelas karena tidak memiliki tolok ukur yang pasti. Misalnya, tidak ada penjelasan pasti soal hal-hal yang dilarang dalam pasal tersebut.

“Kalau baca Pasal 5, ini merendahkan kecerdasan intelektual seniman, khususnya pencipta lagu. Enggak perlu dilarang kayak begitu, setiap musisi pasti punya self-censorship. Kalau mau ada aturan, kasih tolok ukur yang jelas,” kata Wendi kepada cnnindonesia.com melalui sambungan telepon, Rabu (30/01/19).

Ketidaksetujuan atas adanya RUU Permusikan ini membuat beberapa musisi, produser musik, dan pekerja industri musik bersatu membentuk Koalisi Nasional Tolak RUU. Hingga Selasa (05/02/19), terdapat total 262 orang yang bergabung, di antaranya Endah Widiastuti (Endah n Rhesa), Danilla Riyadi, Superman is Dead, dan Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca). Komisi Nasional Tolak RUU ini melihat adanya masalah dalam 19 pasal yang ada, seperti pasal 4, 5, 7, dan 10 yang berpotensi menghambat perkembangan proses kreatif di dunia musik.

Melihat penolakan terhadap RUU Permusikan, musisi dan anggota Komisi X DPR RI Anang Hermansyah sempat berdialog dengan ratusan musisi, seperti Rara Sekar, Glenn Fredly, Kadri Mohamad, Once Mekel, Anji, dan Armand Maulana pada Senin (04/02/19).  Namun, diskusi ini tidak menemui titik tengah.

 

Banyaknya penolakan terhadap RUU Permusikan juga membuat musisi Danilla Riyadi membuat petisi penolakan yang ia sebarkan melalui akun Twitternya. Hingga Rabu (06/02/19), petisi tersebut telah ditandatangani lebih dari 188.000 orang.

Meskipun banyak menuai kontra dari para musisi, ada pula yang melihat sisi baik dari RUU Permusikan. Salah satunya yaitu Sandy dari PAS Band. Ia mengklaim dirinya tidak berpihak di sisi pro maupun kontra karena RUU ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Di sisi baiknya, Sandy mengapresiasi draf RUU Permusikan yang masih memikirkan nasib musisi kelak di hari tuanya.

“Musisi di masa tua itu enggak boleh susah. Makanya lawan pembajakan, lawan holding company besar yang mengkebiri kita, misalnya dengan memberi gaji murah. Dasarnya (tujuan RUU Permusikan) untuk kesejahteraan musisi, saya setuju,” pungkas Sandy, dikutip dari kompas.com.

 

Penulis: Andi Annisa Ivana Putri

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Infografis: cnnindonesia.com

Sumber: cnnindonesia.com, kompas.com, idntimes

Foto: kompas.com