Remaja Berisiko Alami Depresi Jika Sering Konsumsi Makanan Cepat Saji

Ilustrasi makanan cepat saji. (Foto: thejakartapost.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Selain menyebabkan obesitas dan sejumlah penyakit kronis, sebuah penelitian menunjukkan bahwa makanan cepat saji menjadi salah satu penyebab meningkatnya risiko depresi pada usia remaja. Hal itu disebabkan oleh tingginya kadar natrium dan rendahnya kalium dalam makanan cepat saji.

Menurut National Institutes of Health (NIH), makanan cepat saji dapat diartikan sebagai makanan alternatif yang cepat, mudah diakses, dan memiliki harga yang relatif murah. Selain itu, makanan cepat saji juga cenderung memiliki kadar lemak jenuh, gula, garam, dan kalori yang tinggi. Namun, makanan ini menjadi pilihan berbagai kalangan karena rasanya yang lezat dan cepat disajikan.

Sebuah studi dari Universitas Alabama di Birmingham (UAB) menemukan bahwa meningkatnya depresi di kalangan remaja Amerika Serikat salah satunya disebabkan oleh tingginya konsumsi makanan cepat saji dan rendahnya konsumsi nabati. Artinya, asupan garam yang dikonsumsi tinggi, sedangkan asupan kaliumnya rendah. Pola konsumsi makanan cepat saji yang dilakukan dalam jangka waktu yang panjang ditemukan berkaitan dengan meningkatnya risiko depresi.

Hasil studi ini ditemukan setelah peneliti menganalisis urine siswa sekolah menengah dan dikaitkan dengan gejala depresi. Dalam urine siswa yang memiliki gejala depresi, ditemukan kadar natrium yang tinggi. Sementara itu, tingkat kaliumnya rendah.

“Natrium yang tinggi terdapat dalam banyak makanan yang melewati banyak proses pengolahan, termasuk makanan cepat saji, makanan beku, dan makanan ringan yang tidak sehat,” ujar Peneliti Sylvie Mrug, dikutip dari cnn.com

Peserta terdiri dari 84 anak perempuan dan laki-laki sekolah menengah. 95% di antaranya merupakan orang Afrika-Amerika dari keluarga berpenghasilan rendah. Peneliti menguji kelompok yang sama dalam kurun waktu satu hingga satu setengah tahun untuk menemukan lebih banyak tanda-tanda depresi. Mereka menyimpulkan bahwa natrium tinggi dan camilan tidak sehat adalah penyebabnya. Sementara itu, rendahnya kadar kalium merupakan indikasi dari kurangnya makan sayuran dan buah, seperti bayam, tomat, kacang-kacangan, jeruk, alpukat, dan yoghurt.

Kesimpulan yang didapatkan juga tetap kuat setelah peneliti menyesuaikanya dengan variabel lain, seperti tekanan darah, berat badan, usia, dan jenis kelamin. Artinya, pengaruh makanan cepat saji terhadap risiko depresi tidak bergantung pada kondisi tubuh.

“Temuan penelitian ini masuk akal, karena makanan kaya kalium adalah makanan sehat. Jadi jika remaja mengonsumsi lebih banyak makanan kaya kalium, mereka akan memiliki lebih banyak energi dan merasa lebih baik secara keseluruhan, yang dapat mengarah pada kesejahteraan yang lebih baik dan peningkatan kesehatan mental,” ujar Ahli Nutrisi Lisa Drayer, dikutip dari cnnindonesia.com

Penulis: Xena Olivia

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: thejakartapost.com

Sumber: cnn.com, cnnindonesia.com, gatra.com