Lalu Muhammad Zohri, Pelari Indonesia Dalam Daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2021

lalu muhammad zohri
Lalu Muhammad Zohri memegang bendera Indonesia setelah mendapatkan medali perak di Kejuaraan Atletik Asia 2019 (Foto: Liputan6.com)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Pada Selasa (20/04/21) kemarin, majalah Forbes kembali merilis daftar tokoh yang masuk dalam Forbes 30 Under 30 Asia 2021. Tentu saja, beberapa orang Indonesia juga dipilih untuk diberikan gelar tersebut. Salah satunya, Lalu Muhammad Zohri, seorang pelari muda asal Indonesia. Yuk, kenalan lebih jauh! 

Lalu Muhammad Zohri yang baru berumur 20 tahun berhasil masuk ke dalam kategori olahraga dan hiburan pada daftar Forbes 30 Under 30 Asia 2021. Ia menyandang gelar tersebut setelah berhasil meraih medali emas dan menjadi juara dunia pada World U20 Championships 2018, tepatnya pada tanggal 11 Juli 2018 di Tampere, Finlandia silam. Pada saat itu, Zohri berhasil menang dengan catatan waktu 10,18 detik dalam perlombaan jarak lari 100 meter, mengalahkan dua pelari Amerika Serikat, Anthony Schwartz dan Eric Harrison. 

 Kemenangannya telah mencetak sejarah baru dalam cabang olahraga atletik Indonesia. Hal ini karena prestasi terbaik atlet Indonesia di jarak lari 100 meter terakhir adalah urutan kedelapan di babak penyisihan pada 1986. 

 Sebelumnya, pada ajang Asian Junior Athletics Championship 2018, Zohri juga berhasil mendapat gelar juara satu pada perlombaan jarak yang sama dengan catatan waktu 10,27 detik. Tidak berhenti sampai di sana, pelari asal Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat itu juga mengikuti perlombaan lainnya. Mulai dari Asian Games 2018 dengan posisi ketujuh dan kedua, Malaysia Open 2019 yang juga berhasil mendapat juara satu, Asian Athletic Championship 2019 dengan medali perak, dan Seiko Golden Grand Prix 2019 di posisi ketiga. 

 

Selalu ada alasan di balik kesuksesan, rupanya pelari yang dijuluki sebagai “pria tercepat di Asia Tenggara” ini berasal dari keluarga yang kurang mampu secara finansial. Orang tuanya merupakan seorang nelayan dan buruh tani. Zohri sendiri merupakan anak bungsu dari empat bersaudara. Kesulitannya semakin terasa ketika Ia harus kehilangan ibunya pada usia 15 tahun, disusul ayahnya 2 tahun setelahnya. 

 Di tengah segala keterbatasannya, sebenarnya bakat lari Zohri mulai tampak sejak Ia duduk di bangku SD. Hampir setiap hari Zohri berangkat dan pulang sekolah sekitar 2 kilometer dengan berlari. Rosida, guru olahraga Zohri pada saat duduk di bangku SMP, menyadari bakat lari Zohri. Rosida pun meluangkan banyak waktu untuk melatih Zohri mulai dari teknik, posisi tubuh, dan pemanasan. Dukungan semangat untuk tidak pantang menyerah dan selalu disiplin terus menerus ditekankan agar Zohri giat mengasah bakatnya. 

Berkat kegigihannya, Zohri berhasil meraih medali emas dengan jarak 100 meter pada Kejuaraan Daerah Atletik Pelajar tahun 2015 yang berlangsung di Gelanggang Olahraga Turida, Mataram. Setelahnya, Zohri pun ditarik untuk masuk ke Pusat Pendidikan dan Latihan Pelajar (PPLP) oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTB. Hanya setahun berlatih di PPLP Mataram, Ia berhasil meraih penghargaan 3 emas, 2 perak, dan 1 perunggu di beberapa kompetisi dan terus bertambah hingga tahun 2017. 

 

Semua capaian itu membawa Zohri untuk masuk ke Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas) PB PASI dan juga Pelatnas Asian Games 2018. Di sana, Ia banyak belajar dengan pelatih-pelatih hebat seperti Eny Sumartoyo, Erwin Maspaileta, hingga Harry Mara. Mereka membantu Zohri untuk terus memperbaiki teknik larinya agar semakin baik. Latihan dan kerja keras Zohri akhirnya membuahkan hasil.

Sampai sekarang, Lalu Muhammad Zohri terus menerus memberikan kebanggaan yang besar bagi negara Indonesia. 

 

Reporter: Keisya Librani Chandra 

Editor: Nadia Indrawinata

Sumber: Kompas.com, Jakartapost.com, Jaaf.or.jp, Suara.com, CNNIndonesia.com

Foto: Liputan6.com