SERPONG, ULTIMAGZ.com — Manusia diciptakan sebagai makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Hanya saja ada sebagian orang yang mengidap gangguan kepribadian dependen yang membuat dirinya harus bergantung secara berlebihan kepada orang lain.
Apa itu gangguan kepribadian dependen?
Gangguan kepribadian dependen atau dependent personality disorder (DPD) merupakan salah satu jenis gangguan kepribadian yang membuat penderitanya tidak mampu melakukan berbagai hal sendirian.
Orang yang menderita gangguan ini memiliki ketergantungan berlebihan terhadap orang lain demi mendapatkan kenyamanan, kepastian, nasihat, dan dukungan. Mereka juga selalu merasa perlu diperhatikan karena merasa sangat cemas jika harus ditinggalkan oleh seseorang yang dianggap penting dalam hidupnya.
Penyebab gangguan kepribadian dependen
Dari laporan yang tertulis dalam Graduate Journal of Counseling Psychology tahun 2009, gangguan kepribadian dependen merupakan salah satu gangguan yang paling sering didiagnosis. Bahkan, orang-orang yang mengalami DPD ini telah diperkirakan sekitar 2,5 persen dari populasi umum, melansir dari idntimes.com.
Artinya, ada banyak orang yang mengalami gangguan ini, hanya saja mereka tidak menyadarinya. Terdapat beberapa hal yang dapat memicu atau meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan kepribadian dependen, seperti pola asuh orang tua yang otoriter, trauma di masa kecil atau trauma karena ditinggalkan seseorang.
Ada pula mereka yang mengalami tindakan kekerasan, mendapatkan pola asuh yang terlalu protektif, memiliki penyakit kronis, dan pernah berada dalam hubungan yang abusif dalam jangka waktu yang lama. Beberapa pengalaman tersebut membuat mereka harus bergantung secara berlebihan kepada orang lain dan merasa tidak dapat hidup mandiri.
Gejala dependent personality disorder
Terdapat beberapa tanda atau gejala dari seseorang yang mengidap gangguan kepribadian dependen. Pertama, kesulitan membuat keputusan dalam kehidupan sehari-hari. Mereka cenderung meminta pendapat atau nasihat dari orang lain untuk meyakinkan keputusan yang ia miliki.
Selanjutnya, sulit menolak atau menunjukkan rasa tidak setujunya dengan orang lain karena mereka khawatir akan kehilangan bantuan serta pengakuan dari orang lain. Gejala yang ketiga adalah kurangnya inisiatif, mereka cenderung menunggu orang lain memintanya untuk melakukan sesuatu karena merasa tidak nyaman untuk melakukannya secara sukarela.
Mereka juga merasa tidak nyaman ketika sendirian, yang akan membuatnya merasa ketakutan, gugup, cemas, tidak berdaya, bahkan memicu serangan panik (panic attack) ketika dirinya terpaksa harus sendirian. Tidak hanya itu, orang yang mengalami DPD juga memiliki kesulitan dalam memulai sebuah pekerjaan yang harus dilakukan sendiri karena kurangnya kepercayaan diri atas kemampuan dirinya.
Kemudian, mereka juga selalu berusaha untuk mencari ikatan atau hubungan dengan orang lain terutama ketika putus dari sebuah hubungan. Hal ini disebabkan dirinya memiliki pandangan atau perspektif mengenai sebuah hubungan adalah sumber dari perhatian dan dukungan.

Alasan gangguan dependen tidak dapat diabaikan
Jika seseorang yang mengalami gangguan kepribadian dependen tidak sadar atau bahkan mengabaikannya, hal ini akan memengaruhi kemampuan dirinya dalam menjalani hidup bersosialisasi atau bekerja. Gangguan kepribadian dependen tidak dapat diabaikan karena orang yang mengidap gangguan ini rentan untuk mengalami depresi, fobia, dan penyimpangan perilaku seperti penyalahgunaan obat-obatan.
Gangguan yang terus diabaikan ini tentu akan sangat mempengaruhi kehidupan pribadi seseorang terutama jika ia sudah dewasa. Mereka yang dapat hidup mandiri dan tidak bergantung dengan orang lain, lebih mudah cemas ketika tidak ada orang lain di sekitarnya.
Kerugian yang akan didapatkan bukan hanya tidak dapat hidup mandiri, melainkan mereka juga akan terbiasa untuk tetap bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Seringkali harus mengalami kekerasan secara verbal ataupun fisik karena mereka bergantung pada orang yang salah. Mereka terpaksa bertahan meskipun harus diperlakukan secara buruk karena terlalu bergantung pada orang tersebut serta rela untuk melakukan apa saja demi bisa menyenangkan orang lain dan tetap bersamanya.
Baca juga “Stockholm Syndrome: Bergantung pada Si Antagonis”
Penanganan dependent personality disorder
Melihat dampak dari gangguan dependen tersebut maka dapat dikatakan gangguan kepribadian dependen ini tidak bisa dibiarkan, berikut adalah beberapa penanganan yang bisa dilakukan untuk mencegah perkembangan DPD menjadi komplikasi-komplikasi tersebut.
Penanganan yang bisa dilakukan adalah terapi, seperti terapi perilaku kognitif yang bisa menjadi solusi perawatan pertama bagi pasien gangguan kepribadian dependen. Terapi ini berfokus untuk mengubah cara berpikir serta perilaku pasien ke arah positif. Dengan menerima terapi perilaku kognitif, pasien yang sebelumnya selalu berpikir negatif lama-lama merubah pikiran dan perilakunya ke arah yang positif.
Selain itu, mereka yang mengidap DPD dapat menjalani terapi psikodinamik. Tujuannya untuk mencari tahu dan memperbaiki segala bentuk penyimpangan yang pernah terjadi sejak masa kanak-kanak. Setelah mengetahuinya, pasien akan diajarkan untuk menangani masalah-masalah tersebut yang berkaitan dengan penyimpangan secara mandiri.
Terakhir, menjalani terapi interpersonal yang dilakukan dengan penggunaan obat-obatan dan perubahan gaya hidup. Jenis yang digunakan adalah obat-obatan psikiatri, seperti antidepresan, mood stabilizer, antipsikotik, dan pereda cemas untuk membantu meredakan gejala yang dialami pasien. Perubahan gaya hidup ini dilakukan dengan rajin berolahraga dan selalu aktif dalam berbagai kegiatan untuk membantu mengelola emosi pasien agar terhindar dari depresi, stres, dan kecemasan yang berlebih.
Jika Ultimates mengenal orang lain maupun orang terdekat yang mengalami gejala-gejala dari gangguan kepribadian dependen, penting untuk mendorong mereka mencari bantuan ke profesional sebelum kondisinya memburuk dan bisa mendapatkan penanganan yang tepat. Sudah seharusnya untuk tidak mengabaikannya dan terus mendorong pengidap DPD karena hal ini akan memengaruhi kualitas hidup mereka serta meningkatkan risiko jangka panjang untuk mengalami kecemasan dan depresi.
Penulis: Stephanie Amelia Wijaya (Strategic Communication, 2020)
Editor: Maria Katarina Susanto
Foto: ashefagriyapusaka.co.id
Sumber: idntimes.com, hellosehat.com, sehatq.com, halodoc.com, alodokter.com
Your article helped me a lot, is there any more related content? Thanks!