Keretanya Bagus, Penumpangnya “Barbar”

Penumpang KRL yang berdesakan saat turun di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – KRL Commuter Line merupakan salah satu moda transportasi yang kini paling sering digunakan oleh masyarakat, terutama yang tinggal di daerah Jabodetabek. Tarifnya yang murah dan jangkauannya yang luas membuat banyak orang dari berbagai latar belakang untuk menggunakan KRL Commuter Line. Armada dan stasiun keretanya pun dalam kondisi yang baik.

Namun sangat disayangkan, sebagian masyarakat masih belum sadar akan etika sebagai pengguna kereta Commuter Line.

Barbar. Itulah satu kata yang bisa digunakan untuk menjelaskan perilaku pengguna kereta Commuter Line. Di jam-jam sibuk saat orang-orang berangkat atau pulang dari kantor, tiba-tiba semua orang berubah menjadi ganas. Terlihat orang-orang berlarian mengejar kereta yang akan segera berangkat seolah tidak ada kereta lagi yang akan datang.

Saling dorong dan gencet adalah hal biasa. Tidak peduli jika ada penumpang yang ingin keluar atau kereta sudah dalam keadaan penuh. “Kaum barbar” memaksakan diri untuk masuk ke dalam kereta dengan mendorong paksa penumpang-penumpang lain yang sudah ada di dalam.

Tidak peduli siapa yang ada di dalam, yang terpenting adalah segera naik kereta.

Di dalam kereta, keadaannya penuh dan sesak. Pendingin ruangan hampir tidak terasa karena penuhnya gerbong, pengap, dan hampir tidak ada ruang untuk bergerak. Bahkan, para penumpang saling bersenggolan saat kereta berbelok.

Ada pula penumpang wanita dan lansia yang tidak diberikan tempat duduk. Mereka dibiarkan berdiri dan berhimpitan dengan penumpang-penumpang lain, sementara “kaum barbar” duduk dan sibuk dengan gawainya atau tertidur.

095117020130402NUT03780x390

(Sumber : megapolitan.kompas.com)

Bahkan hingga di stasiun pemberhentian terakhir, sikap barbar itu berlanjut. Saat pintu dibuka, dengan tidak sabar para penumpang mendorong keluar penumpang lain. Beberapa sampai tersandung atau terjungkal.

Begitu pula saat menaiki tangga menuju ke bagian atas stasiun. Tidak ada yang mau mengalah. Semuanya saling serobot dan mendahului dengan ganasnya.

Lagi-lagi banyak yang tergencet, tersandung, bahkan terjatuh. Saling dorong pun tidak terelakan. Bahkan, para penumpang pria tidak segan-segan mendorong dan menyelak penumpang wanita yang ingin menaiki tangga. Kekacauan dan kegaduhan yang terasa.

Seringkali situasi di perparah dengan para penumpang yang menerobos tangga ke bawah sehingga antrian penumpang yang ingin turun ke peron tersendat. Lalu, setelah tiba di atas, mereka semua kembali berlarian, mengejar kereta berikutnya untuk sampai ke tujuannya masing-masing.

Miris. Pemerintah sudah menyediakan transportasi umum yang cukup baik dibanding moda transportasi lain, namun penumpangnya tidak beretika dan egois? Memang jadwal keberangkatan kereta belum optimal dan masih harus diperbaiki, namun itu bukan sebuah alasan untuk menjadi penumpang yang barbar.

Tidak memberikan kesempatan bagi penumpang yang ingin turun, memaksakan diri masuk ke dalam kereta yang sudah penuh, mendorong-dorong penumpang yang sudah ada di dalam kereta, dan menyerobot antrian saat menaiki tangga bukanlah sesuatu yang pantas dilakukan. Hal itu membuktikan bahwa bukan transportasinya yang belum siap, tetapi penumpangnya yang masih harus belajar hal-hal dasar seperti etika, toleransi, tata krama, dan norma kesopanan.

Penulis : Christian Karnanda Yang 

Editor : Alif Gusti Mahardika 

Gambar : www.republika.co.id

  • Agus

    Saya laki2 nyasar ke artikel lama, tp klo soal penumpang wanita tdk diberi duduk memang knp? Yg wajib kan lansia, ibu hamil, dan orang cacat. Anda tau sudah bbrp kejadian ibu2 mengusir laki-laki tua dari tempat duduknya? Pdhl scr tema inti artikel ini benar tp salah konsep ttg gender. Kalau saya memang tdk akan mau beri selain penumpang prioritas, apalagi setelah tau gerbong khusus wanita selalu mubazir krn sedikit sekali wanita yg mau berdiri di sana.