“Long COVID”: Pulih, Tapi Bukan Akhir

Foto Illustrasi Vaksinasi Covid-19 sebagai cara efektif untuk menggurangi kasus positif di Indonesia(ULTIMAGZ/Androw Parama)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Setiap hari, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI melaporkan baik kenaikan maupun penurunan angka kasus COVID-19. Masyarakat biasanya hanya paham perkata positif dan negatif; sembuh dan meninggal dunia. Namun, sebagian penyintas ternyata masih menderita gejala COVID-19 pasca kesembuhannya. Inilah yang dinamakan “long COVID”.

“Long COVID” atau “COVID panjang” diderita oleh pasien COVID-19 yang berhasil sembuh. Keadaan ini juga disebut sebagai gejala pasca COVID oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). 

Sebuah penelitian yang diunggah ke jurnal pengobatan umum The Lancet menyatakan bahwa ada lebih dari 200 gejala yang dilaporkan oleh penderita “long COVID”. Namun, napas pendek, masalah daya ingat dan konsentrasi, serta kelelahan adalah gejala yang paling umum.

Hingga kini, masih belum diketahui berapa lama pastinya durasi “long COVID”. Ada pasien yang menderita “long COVID” selama tiga bulan, ada juga yang bertahan sampai sembilan bulan. 

Angka kasus COVID-19 yang setiap hari direkap oleh Satuan Petugas (Satgas) COVID-19 masih berfokus ke mereka yang sembuh dan meninggal. Lalu, bagaimana dengan mereka yang sudah sembuh tetapi masih mengalami gejala COVID-19?

“Long COVID” dan bagaimana mengatasinya

Komunitas penyintas COVID-19 Indonesia, COVID Survivor Indonesia (CSI) merilis, dari 496 orang yang positif, terdapat 349 orang atau 70 persen penyintas mengalami “long COVID” sejak 11 Maret hingga 8 Agustus 2021. Dari jumlah tersebut, sebagian besar adalah wanita (246 orang) dan sisanya adalah laki-laki (103 orang).

Profesor sekaligus konsultan di University of Southampton Nisreen Alwan dalam penelitiannya yang dimuat dalam jurnal the BMJ menjabarkan penyintas COVID-19 dapat menghindari penyakit ini dengan mempelajari apa yang menyebabkan mereka kelelahan. Jika sudah sadar akan kelemahan tubuh, seseorang akan lebih mudah untuk terhindar dari “long COVID”.

Selain itu, menerima “long COVID” tanpa berpikir negatif secara tidak langsung akan membantu tubuh melawan penyakit ini. Menurut Profesor Perawatan Kesehatan Primer di University of Oxford Trisha Greenhalgh, isolasi mandiri tanpa harus ke rumah sakit juga memberi peluang besar untuk kesembuhan pasien.

Melansir dari kompas.com, cara lain untuk menghindari “long Covid” adalah dengan memahami kapasitas diri dan meningkatkan porsi olahraga secukupnya. Jangan lupa pula untuk menjaga suasana hati dengan menyayangi diri sendiri selama masa pemulihan.

Sertifikat vaksinasi COVID-19 dapat diakses melalui aplikasi PeduliLindungi yang bisa diunduh di App Store ataupun Playstore. (ULTIMAGZ/Hedwige Gevelyne Arsietha)

Vaksinasi bagi penyintas “long COVID”

Saat ini, vaksin menjadi salah satu jalan untuk menghentikan penyebaran COVID-19. Mereka yang sebelumnya terjangkit COVID-19 pun tak terkecuali dapat menerima vaksinasi setelah tiga bulan kesembuhannya.

Begitu pula dengan penderita “long COVID”. Menurut dokter spesialis anak dr. Kurniawan T. Kadafi, Sp.A, mereka yang terkena “long COVID” dapat menerima vaksin dengan syarat sudah dinyatakan sembuh atau menjalani isolasi mandiri selama minimal 14 hari. 

Dikutip dari suara.com, menurut dr. Kurniawan, vaksin untuk penyintas “long COVID” justru tidak memperburuk keadaan tubuh, tetapi malah mempercepat pemulihan gejala COVID-19.

“Justru yang dilakukan vaksinasi secara jumlah ada terjadi perbaikan. Jadi, keluhan kelelahan dan batuk setelah divaksinasi pada usia dewasa (18 hingga 59 tahun) justru mengalami perbaikan secara klinis,” ujarnya dilansir dari suara.com.

Baca juga: 4 Makanan yang Baik untuk Tubuh Setelah Vaksin COVID-19

Selain mempercepat pemulihan, vaksinasi bagi penyintas “long COVID” juga membantu tubuh untuk memperbaiki inflamasi atau peradangan akibat virus. 

Penderita “long COVID” masih perlu perhatian khusus 

Hingga kini, belum ada penelitian khusus mengenai “long COVID” di Indonesia.  Padahal, angka penyintas COVID-19 di negara ini sudah melebihi empat juta. Angka penderita “long COVID” dari CSI hanyalah yang terlapor, sedangkan jumlah sebenarnya masih belum diketahui. 

Selain menghambat kesembuhan fisik dan mental penyintas, gejala-gejala “long COVID” juga memperlambat penyesuaian kembali ke dalam masyarakat. Cepat lelah dan terhambatnya daya pikir membuat penyintas sulit untuk melakukan kegiatan sehari-hari sebelum COVID-19.

Sudah waktunya pemerintah tidak hanya fokus pada angka kematian dan kesembuhan COVID-19, tetapi juga pada mereka yang masih menderita setelahnya. Pemerintah sudah membiayai perawatan pasien COVID-19 dengan sumber dana dari Kemenkes RI. Namun, belum ada perhatian maupun alokasi dana khusus untuk proses rehabilitasi penderita “long COVID”.

 

Penulis: Maria Katarina, Nadia Indrawinata

Editor: Maria Helen Oktavia

Foto: Androw Parama, Hedwige Gevelyne A.

Sumber: COVID19.go.id, halodoc.com, kesehatan.kontan.co.id, theguardian.com, who.int, suara.com, cnnindonesia.com, kompas.com,

Davis, H., Assaf, G., McCorkell, L., Wei, H., Low, R., & Re’em, Y. dkk. (2021). Characterizing long COVID in an international cohort: 7 months of symptoms and their impact. Eclinicalmedicine, 38, 101019. 

Mahase, E. (2020). COVID-19: What do we know about “long COVID”? BMJ, m2815.

Nabavi, N. (2020). Long COVID: How to define it and how to manage it. BMJ, m3489.