SERPONG, ULTIMAGZ – Mendengar musik telah menjadi hobi atau bahkan keseharian bagi banyak orang. Meskipun begitu, setiap pendengar musik pasti memiliki preferensi genre musiknya masing-masing.
Mengutip dari boysetfire.net, terdapat 41 genre musik dan 337 turunan kategori. Dari begitu banyak jenis genre musik, terdapat ‘dangdut’ yang merupakan genre musik asli Indonesia.
Musik dangdut merupakan aliran musik yang sudah tidak asing lagi di kalangan masyarakat khususnya masyarakat Indonesia.
Sejarah Dangdut
Dalam sejarahnya, musik dangdut merupakan sebuah musik yang dipengaruhi berbagai budaya yakni, India Utara, Melayu, dan Arab. Dangdut berkembang pada 1950-an dengan lirik lagu berupa kisah cinta. Sementara kata dangdut sendiri berasal dari bunyi alat musik tabla yang sering menjadi alat pengiring kala itu. Mengutip dari gramedia.com, alat musik tabla ini menghasilkan bunyi berupa “tak, tung, dang, dan dut” yang akhirnya menjadi terminologi dari Orkes Melayu.
Selain itu, musik dangdut mulai berpengaruh dan muncul karena musik India di film Bollywood dengan judul ‘Boneka India’, dilansir dari kompas.com. Lalu, perkembangannya dilanjutkan dengan kepopuleran Rhoma Irama yang merupakan salah satu pelopor dangdut kala itu di Indonesia.
Tidak hanya Rhoma Irama, Didi Kempot juga salah satu pionir dalam menyebarkan musik dangdut Jawa di daerah pada 1990-an di Indonesia.
Munculnya Dangdut Koplo
Kepopuleran dan citra baik dangdut sebagai musik rakyat terus berlangsung hingga 2000-an. Setelah tahun tersebut, mulailah muncul dangdut koplo yang memiliki stigma buruk dari masyarakat.
Koplo di bahasa Jawa berarti ‘dungu’, ‘mabuk’, atau ‘campuran’. Sebelum ada genre dangdut koplo, sudah ada minuman koplo, dibuat dari minuman yang dicampur bahan tertentu sehingga menimbulkan efek memabukkan, serta pil koplo, sebutan populer di masa awal penyalahgunaan narkoba.
Dengan tarian yang erotis, penyanyi yang memakai baju terbuka, dan lirik lagu yang dianggap senonoh, membuat citra baik musik dangdut pada zaman Rhoma Irama memudar karena tergantikan dengan citra negatif dari dangdut koplo. Genre dangdut ini juga terkadang selalu mengaitkan tubuh perempuan sebagai objek seksual.
Namun, dangdut koplo sebagian digemari masyarakat. Hal ini terlihat dari seringnya musik dangdut digunakan pada acara-acara di kampung. Apalagi terdapat sebuah tradisi saat di panggung dangdut yaitu ‘Saweran’.
Melansir dari kumparan.com, pada sekitar tahun 2004 hingga saat ini, terdapat upaya dari penyanyi dangdut untuk memikat para penonton dengan tradisi saweran.
Saweran ini berupa interaksi yang dilakukan biduan atau penyanyi dengan penonton, penonton nantinya ikut berjoget dengan biduan sambil memberikan uang sebagai bayaran. Hal inilah yang membuat dangdut koplo semakin dianggap tidak pantas meskipun banyak dilakukan. Dangdut yang diharapkan sebagai kebudayaan bangsa Indonesia, kini menjadi salah kaprah.
Namun, industri dangdut koplo tidak hanya melahirkan pandangan negatif, dangdut koplo kerap melahirkan artis-artis dangdut terkenal yang lagunya diputarkan di televisi.
Era dangdut koplo mulai melambung tinggi berkat Inul Daratista pada awal 2000-an. Ia menggebrak dunia musik Tanah Air melalui dangdut yang lebih modern. Ditambah lagi setelah ramainya lagu Sayang oleh Via Vallen pada 2017 yang diputarkan tidak hanya di kampung-kampung, tetapi di kota besar seperti Jakarta.
Pandangan Masyarakat terhadap Dangdut
Untuk melihat bagaimana genre musik dangdut di mata-mata orang Indonesia, ULTIMAGZ melakukan wawancara. Terdapat dua pandangan yang saling bertentangan akan musik dangdut.
Menurut Adi Pangestu sebagai salah satu penggemar musik dangdut, ia mengutarakan bahwa gambaran musik dangdut yang ‘kampungan’ balik lagi merupakan preferensi personal setiap orang.
Belakangan ini, kerap ditemui beberapa oknum yang merusak citra dari musik dangdut melalui tindakan ‘kampungan’ saat mengikuti konser, menurutnya. Hal inilah yang merusak pandangan sebagian orang terhadap musik dangdut.
“Dangdut adalah budaya Indonesia, jadi tetap harus kita lestarikan,” ungkap Adi kepada ULTIMAGZ pada Senin (27/2/23).
Beda dengan Febri Anggola, ia adalah penikmat musik yang cenderung tidak mendengarkan genre dangdut. Menurutnya, tidak semua orang tertarik dengan dangdut.
Dangdut memiliki segmen pendengarnya tersendiri. Pada rentang usianya, kebanyakan orang menggemari musik barat atau pop lokal. Misalnya, lagu-lagu besutan Dewa 19, Sheila On 7, Green Day, dan banyak lagi. Jarang sekali ditemukan orang yang menggemari dangdut di rentang usia Febri.
“Memang sudah zamannya yang berubah, dengan kencangnya globalisasi, gue rasa sudah bukan eranya dangdut lagi sekarang,” ujar Febri kepada ULTIMAGZ, Senin (27/2/23).
Hingga saat ini, musik dangdut masih tetap digandrungi oleh masyarakat Indonesia. Dapat dibuktikan melalui alunan musik dangdut yang kerap terdengar pada hajatan, kampanye politik, di pasar dan di transportasi umum seperti angkot.
Berdasarkan survei yang dilakukan oleh skalasurveiindonesia.com pada 2022, ditemukan bahwa dangdut adalah genre musik yang paling disukai warga Indonesia. Dengan proporsi 58,1 persen responden menggemari musik dangdut. Responden dipilih dari bermacam lapisan masyarakat dan dinilai mewakili selera musik penduduk Indonesia.
Anggapan bahwa dangdut adalah musik ‘kampungan’ mungkin masih tertanam di benak sebagian orang. Namun, berdasarkan hasil survei diatas, menyatakan banyak penduduk Indonesia masih menggemari musik dangdut. Bisa dikatakan bahwa dangdut masih diterima dan digemari oleh mayoritas penduduk dari berbagai lapisan masyarakat Indonesia.
Kegemaran akan genre musik tertentu itu balik lagi pilihan masing-masing, sesuai dengan preferensi serta selera yang berbeda-beda dan tidak bisa diseragamkan pada setiap orang. Perbedaan inilah yang memberikan warna bagi dunia.
Maka dari itu, terlepas dari stigma negatif yang melekat, dangdut bukan hanya semata-mata musik ‘kampungan’. Melainkan, dangdut adalah warna dalam dunia musik, serta genre musik dan budaya bangsa yang menjadi bagian dari setiap kita dan Indonesia. Oleh karena itu, tidak ada salahnya untuk menikmati genre musik dangdut.
Dangdut di Era Sekarang

Ada upaya untuk mempopulerkan musik dangdut di dunia pertelevisian, yakni melalui kontes-kontes dangdut di televisi Indonesia. Hal ini dengan harapan dapat mengambil massa audiens masyarakat dari kalangan ekonomi menengah kebawah di Indonesia.
Kontes dangdut pertama di Indonesia saat itu adalah KDI (Kontes Dangdut Indonesia). Ada juga Dangdut Academy (D’Academy) yang bertujuan mencari bibit-bibit unggul penyanyi dangdut.
Ada pula lagu dangdut sering kita temukan saat ini di media sosial seperti TikTok, YouTube, dan lainnya.
Bila melihat perkembangannya, dangdut berusaha bangkit dan terus berkreasi di tengah era yang serba digital. Banyak yang berlomba-lomba untuk menghadirkan musik dangdut berkualitas dan disukai oleh berbagai kalangan, sosial, serta ekonomi masyarakat.
Stigma Dangdut yang Tak Lagi Relevan
Sebagai generasi penerus bangsa, merupakan sebuah kewajiban untuk melestarikan budaya Indonesia. Budaya inilah yang menjadi identitas dan mencerminkan keunikan bangsa Indonesia. Dangdut sendiri merupakan salah satu budaya berupa musik yang menjadi ciri khas dari Indonesia.
Oleh karena itu, peran generasi muda untuk melestarikan dangdut sangat dibutuhkan. Akan sangat disayangkan bila dangdut punah di kemudian hari, apalagi karena ketidakadaan peminatnya. Keberlangsungan musik dangdut bergantung di tangan generasi penerus bangsa, melalui kontribusi dan apresiasi dari masyarakat Indonesia.
Baca juga: Di Tengah Riuhnya Hollywood, Ini Tantangan Industri Perfilman Indonesia
Dengan adanya dukungan dari masyarakat Indonesia, diharapkan stigma ‘kampungan’ dari musik dangdut dapat berangsur menurun. Dangdut bukan sekadar musik daerah, melainkan musik yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.
Melalui upaya mempopulerkan musik dangdut melalui televisi dan media sosial, diharapkan musik dangdut dapat semakin diterima dan diapresiasi oleh masyarakat Indonesia.
Penulis: Rizky Azzahra Rahmadanya (Komunikasi Strategis, 2021) & Felix Abraham Surya (Manajemen, 2021)
Editor: Alycia Catelyn
Foto: Margaretha Netha
Sumber: boysetfire.net, gramedia.com, kompas.com, kumparan.com, skalasurveiindonesia.com
I don’t think the title of your article matches the content lol. Just kidding, mainly because I had some doubts after reading the article.
Thanks for sharing. I read many of your blog posts, cool, your blog is very good.