“Antologi Rasa”: Kisah Cinta Segi Empat yang Antiklimaks

Film "Antologi Rasa" yang diangkat dari novel Ika Natassa tayang perdana pada Kamis(14/02/19). (Foto: insertive.com)
Share:

“Kalau dia bikin lo ketawa, itu tandanya lo suka sama dia. Kalau dia bikin lo nangis, itu tandanya lo cinta sama dia.” -Haris Risjad

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Bertepatan dengan hari kasih sayang sedunia, Valentine, film “Antologi Rasa” diluncurkan. Film yang diadaptasi dari novel karangan Ika Natassa ini bergenre percintaan. Sebelumnya, novel Ika Natassa yang berjudul “Critical Eleven” juga diangkat ke layar lebar pada tahun 2017.

Inti cerita dari film ini merupakan kisah cinta antar sahabat yang nampak sederhana namun nyatanya pelik. Haris Risjad (Herjunot Ali) jatuh cinta pada sahabatnya yang bernama Keara (Carissa Perusset). Namun, Keara menganggap Haris sebagai temannya dan malah menaruh hati pada Ruly (Refal Hady). Tetapi Ruly tidak menaruh minat pada Keara dan cinta mati pada Denise (Atikah Suhaime). Peliknya alur cinta di film ini membuat kisah cinta ini bukan lagi cinta segitiga, namun segi empat. Ketiga sahabat itu memilih untuk memendam rasa demi mempertahankan pertemanan yang sudah terjalin cukup lama.

Film ini sejak awal menggugah minat penonton lantaran visual pemeran yang ditawarkan begitu menarik. Sejak diunggah pada 12 Januari 2019, trailer film Antologi Rasa sudah menembus 866,678 penonton. Meskipun Carissa Perusset tergolong aktris pendatang baru, namun kehadiran Herjunot Ali sebagai pemeran utama merupakan pilihan yang tepat. Hal ini dapat ‘mendongkrak’ nama film “Antologi Rasa”.

Kata yang dapat menggambarkan film ini mungkin adalah ‘lumayan’. Film yang disutradarai oleh
Rizal Mantovani ini dapat dinikmati penonton, tetapi tidak memiliki sesuatu yang luar biasa untuk diacungi jempol. Di beberapa bagian, pergerakan cerita terasa agak lambat sehingga terasa membosankan. Misal, film dimulai dengan monolog Keara mengenai kisah cintanya. Ia menceritakan pertemuan pertamanya dengan Haris dan Ruly. Usai Keara bercerita, giliran Haris yang memberikan sudut pandangnya. Hal ini cukup memakan waktu karena inti cerita mereka kurang lebih sama.

Selain itu chemistry dari keempat sahabat itu kurang terasa. Ada celah yang jelas di antara Keara dan Ruly yang membuat mereka terlihat jauh. Padahal jika mengikuti cerita, mereka berdua sudah bersahabat selama lima tahun. Seharusnya rasa canggung sudah tidak nampak lagi jika sudah mengenal orang selama lebih dari satu tahun.

Dan yang paling menonjol adalah tidak adanya klimaks dalam film ini. Konflik tersebar di beberapa bagian film, tetapi tidak memiliki suatu titik puncak. Tidak adanya klimaks ini membuat ending terasa ‘hambar’ karena tidak ada yang mendebarkan.

Namun terlepas dari kekurangannya, “Antologi Rasa” mengangkat kehidupan realistis para pekerja muda yang harus berjuang untuk hidup. Para tokoh yang berusia di kisaran 25 tahunan dituntut untuk bekerja keras untuk bertahan di kota.

Film “Antologi Rasa” berlatar di tiga tempat, yaitu Jakarta, Bali, dan Singapura. Banyaknya lokasi syuting membuat ada variasi latar yang memanjakan mata. Terutama saat di Bali, Ruly dan Keara mengunjungi Pantai Melasti, Bukit Campuhan, dan air terjun. Pengambilan sudut yang ciamik membuat film ini diperkaya oleh pemandangan indah.

“Antologi Rasa” merupakan film yang baiknya dinikmati dalam keadaan santai karena masalah yang disajikan tergolong umum dan tidak perlu menguras otak. Film ini cocok untuk ditonton oleh remaja dan dewasa.

Penulis: Andi Annisa Ivana Putri

Editor: Nabila Ulfa Jayanti

Foto: insertive.com