Bandersnatch: Kemasan Segar Interaktivitas yang Depresif

Sumber: Netflix.com
Share:

TANGERANG, ULTIMAGZ.com – Sejak lahirnya internet di kehidupan manusia, interaktivitas melesat menjadi primadona. Mungkin hal ini yang memotivasi Charlie Brooker menggagas film lepas pertama serial Black Mirror yang memberikan penonton hak istimewa sebagai penentu alur cerita film tersebut.

Sejak tayang di Netflix pada 28 Desember silam, Bandersnatch kerap menjadi buah bibir para penikmat film perihal kebaruan yang ditawarkannya. Film ini bak mendudukkan penonton di kursi sutradara atau penulis naskah yang mampu menentukan nasib sang pemeran utama.

Dalam beberapa adegannya, film ini memberikan dua opsi yang mampu membawa pada kelanjutan adegan dan akhir film yang berbeda. Namun jangan berpikir penonton akan diberikan keleluasaan memilih dalam keadaan ‘santai’, karena setiap opsinya harus dipilih dalam waktu 10 detik saja. Keterbatasan waktu ini mampu merangsang penonton merasa cemas akan konsekuensi yang dipilih.

Secara garis besar, film ini berkisah tentang seorang pembuat gim muda bernama Stefan (Fionn Whitehead) yang berusaha mewujudkan ide permainannya menjadi nyata. Gim ini merupakan hasil adaptasinya atas novel berjudul “Bandersnatch”. Di dalam gimnya ini, Stefan ingin orang-orang mampu menentukan akhir dari permainannya sendiri. Berhubung pembuatan gim ini membutuhkan algoritma yang sedemikian rumit, Stefan pun akhirnya tenggelam dalam usahanya.

Kecemasan akan semakin memuncak ketika penonton dihadapkan pada adegan yang menampilkan dua kotak televisi kuno yang mengisyaratkan kita untuk memilih rute perjalanan hidup Stefan yang berbeda. Di tahap ini, mungkin penonton akan sadar bahwa setiap pilihan akan berperan besar dalam jalan hidup Stefan.

Di samping itu, adegan tersebut juga menyadarkan penonton perihal ilusi kebebasan. Penonton yang seolah mampu mengontrol dan menentukan pilihan sendiri ternyata tak ada bedanya dengan Stefan yang hidup layaknya boneka. Secara tidak sadar, penonton memilih pilihan-pilihan yang diarahkan sang kreator film ini.

Film lepasan pertama Black Mirror ini memang konsisten menghadirkan sisi gelap dan depresif dari teknologi layaknya episode Black Mirror lainnya. Namun, sisi cemas dan depresi terasa lebih nyata, sebab penonton dilibatkan dalam lingkaran pertanyaan ilusi kebebasan ini.

Film ini bukanlah sebuah porsi utuh yang memiliki bagian awal, tengah, puncak konflik, serta akhir yang jelas. Karena punya banyak kemungkinan, penonton mampu mengulang-ulang beberapa adegan hingga bagian-bagian tersebut terasa kabur.

Bandersnatch memberikan standar yang cukup tinggi sebagai film lepasan pertama dari serial peraih penghargaan Emmy ini. Nampaknya, kreator film lepasan Black Mirror selanjutnya harus bekerja keras untuk melampaui atau minimal menyamakan kualitas yang dihadirkan sang sutradara, David Slade, dalam film tersebut.

 

Penulis: Diana Valencia

Editor: Gilang Fajar Septian

Foto: Netflix.com