• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Sunday, August 31, 2025
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Hiburan Film

Jalan Pikir “Cinta Itu Buta” Timbulkan Sejumlah Pertanyaan

Elisabeth Diandra Sandi by Elisabeth Diandra Sandi
June 16, 2020
in Film, Review
Reading Time: 3 mins read
Tangkap layar salah satu adegan Nik bersama Diah dalam film "Cinta Itu Buta". (Foto: YouTube Dodit Mulyanto)

Tangkap layar salah satu adegan Nik bersama Diah dalam film "Cinta Itu Buta". (Foto: YouTube Dodit Mulyanto)

0
SHARES
5.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA, ULTIMAGZ.com — Berbekal trailer dengan unsur komedi, rasa penasaran pun timbul karena ingin mengetahui cara penulis serta sutradara menyajikan kisah cintanya. Namun setelah menontonnya, “Cinta Itu Buta” masih menimbulkan sejumlah pertanyaan dalam benak terkait cara jalan berpikir cerita tersebut.

Bayangkan apabila Ultimates merupakan perempuan dari Indonesia yang mendadak mengalami kebutaan setelah mengetahui tunangan berselingkuh dengan teman sendiri, apa yang Anda lakukan? Apakah akan pulang dari negeri rantauan agar bisa bertemu dengan keluarga serta memulihkan rasa sakit hati dan kebutaan Anda? Atau memilih untuk sendiri di luar negeri untuk memulihkan kebutaan dan rasa sakit hati itu sendiri?

Dari pilihan yang ada, naskah “Cinta Itu Buta” membiarkan Diah (Shandy Aulia yang pernah berperan dalam “Eiffel I’m in Love”) untuk mengatasi kebutaan dan sakit hatinya seperti pilihan kedua. Terlebih Diah juga tidak diberikan ruang untuk adegan berkonsultasi dengan dokter mengenai penyebab dan cara mengatasi kebutaannya. Dengan berkedok mengalami kebutaan sementara karena stres, masalah seberapa serius penyakitnya pun masih menjadi tanda tanya hingga usai menonton film ini.

Rachmania Arunita sebagai sutradara dengan tiga penulis “Cinta Itu Buta”(Fanya Runkat, Renaldo Samsara, Sigrid Andrea Bernardo) gagal untuk memperbaiki kritikan naskah sadurannya dalam memasukkan elemen kebutaan. Pasalnya, “Cinta Itu Buta” mengadaptasi film asal Filipina yang digarap oleh Sigrid Andrea Bernardo dengan judul “Kita Kita”(2017). Meski “Cinta Itu Buta” mempunyai kesempatan untuk membuatnya kembali, tetapi ternyata mereka puas dengan sebatas meniru jalan cerita yang sudah ada. Pembeda kisahnya sekadar dari pemilihan latar cerita, yaitu di Busan, Korea Selatan.

Dalam “Cinta Itu Buta”, Shandy Aulia bermain peran bersama Dodit Mulyanto sebagai Nik. Masa awal perkenalan mereka pun cukup membuat kening berkerut. Bagaimana bisa Diah yang mengalami kebutaan cepat melunak saat ada laki-laki asing bernama Nik yang setiap hari datang ke rumah dan membawakan makanan untuknya karena Nik itu lucu? Masalahnya, unsur komedi dalam sosok Nik sering kali seksis.

Bagi perempuan yang tinggal sendiri dengan kondisi mengalami kebutaan, tidak seharusnya Nik melontarkan guyonan seakan mereka sudah kenal bertahun-tahun. Bukan marah atau tersinggung, kamera pun merekam ekspresi Diah yang terkesan menyukai semua candaan Nik. Mereka juga baru kenal beberapa hari dan Nik dengan santainya melontarkan candaan seperti ini.

“Tahu enggak bedanya kamu sama rumput laut? Kalau rumput laut mengandung nutrisi. Kalau kamu mengandung anak-anak kita nanti. HAHAHAHAAA”

Dialog tersebut terkesan tidak memerhatikan konteks waktu dan hubungan kedua tokoh. Bukan hanya itu, pada adegan Diah dan Nik di bus, tanpa persetujuan dari Diah, Nik menempelkan kedua jarinya pada bibirnya dan hampir menyentuh bibir Diah yang kondisinya tidak bisa melihat. Kedua skenario tersebut terasa creepy dan memberikan contoh yang tidak baik untuk penonton.

Selama menyaksikan “Cinta Itu Buta”, sulit rasanya untuk menikmati dialog serta gerak Nik karena pendalaman karakternya kurang kuat. Alhasil, sering kali ucapan atau perilaku Nik terlihat tidak natural dan tanggapan dari Diah pun terasa canggung. Tak mengherankan, “Cinta Itu Buta” merupakan kesempatan pertama komika Dodit dalam film layar lebar dengan motivasi menerima tawaran sebagai pemeran utama karena sedang bokek.

Penonton juga tidak diberikan kejelasan siapa sebenarnya sosok Nik, seperti apa profesinya sehingga ia bisa berbahasa Inggris dan membiayai kehidupannya selama di Korea Selatan. Menjelang akhir adegan, tak ada juga penjelasan bagaimana caranya Nik memiliki waktu untuk menulis surat dalam kapsul waktu yang ia sewa. Pasalnya, menulis surat dalam kapsul waktu seakan-akan Nik tahu bahwa saat Diah sudah sembuh dari kebutaan sementaranya, dirinya tidak akan ada di sisi Diah. 

Dengan jelas, film ini menjatuhkan ekspektasi setelah menonton trailernya. Cara jalan berpikir sebab dan akibat dalam film ini juga menimbulkan pertanyaan dari awal menonton hingga adegan selesai. Semua serba kebetulan, terkadang tidak jelas, dan tak masuk akal dengan baluran komedi yang tidak memerhatikan kondisi. Kisahnya seperti sinetron di televisi, tetapi dengan modal biaya yang besar.

 

Penulis: Elisabeth Diandra Sandi

Editor: Agatha Lintang Kinasih

Foto: YouTube Dodit Mulyanto

Sumber: kompas.com

Tags: Cinta itu ButaDodit MulyantofilmFilm IndonesiaRachmania ArunitareviewReview FilmShandy Aulia
Elisabeth Diandra Sandi

Elisabeth Diandra Sandi

Related Posts

Ilustrasi seorang wanita menonton film di waktu rehatnya. (freepik.com)
Film

Pelukan Dalam Bentuk Film: Teman Menonton Saat Dunia Terasa Berat

July 16, 2025
Potret Buku Surrounded by Idiots karya Thomas Erickson (penguin.com.au)
Literatur

Surrounded by Idiots: Mereka Bukan Idiot, Mereka Hanya Berbeda

May 7, 2025
Ethan Hunt (Tom Cruise) dalam trailer Mission: Impossible - The Final Reckoning. (youtube.com/Paramount Pictures)
Film

Mission: Impossible – The Final Reckoning, Inikah Akhir Perjalanan Ethan Hunt?

May 5, 2025
Next Post
"I Lost My Body"

Kisah Tangan Kanan di "I Lost My Body"

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

two × two =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021