“Coco” Suguhkan Nilai Kekeluargaan dengan Sentuhan Budaya Mexico

(sumber foto: klikgame.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Film animasi musikal produksi Disney Pixar bertajuk Coco akhirnya secara resmi dirilis di Indonesia pada Jumat (24/11/17). Selain animasi penuh warna yang dikemas dengan apik, pesan yang disampaikan oleh film Coco ini sangat mendalam. Dengan sentuhan budaya Mexico yang kental, film ini memberi pemahaman tentang pentingnya peran keluarga dalam hidup kita. 

“Bewarna-warni, animasi yang indah dan sensitif secara budaya. Coco adalah drama masa depan yang beragam dan berlapis-lapis,” komentar Sandie Angulo Chen dari Common Sense Media.

Film Coco menceritakan petualangan seorang anak laki-laki bernama Miguel (Anthony Gonzalez) yang ingin mewujudkan mimpinya menjadi seorang musikus seperti idolanya, Ernesto de la Cruz. Sayangnya karena cerita masa lalu keluarga Miguel yang membuat mereka membenci musik, mereka memilih untuk fokus pada bisnis keluarga, yaitu produksi sepatu. Namun, Miguel tetap bersikeras ingin menunjukkan bakat terpendamnya dalam bermain musik dan menjadi seorang musikus.

Mengambil latar saat Día de Muertos atau Hari Orang Mati dalam budaya Mexico, Miguel pergi dari kelurganya untuk membuktikan bakatnya. Miguel pergi ke makam de la Cruz untuk meminjam gitar. Ketika Miguel menyentuh gitar tersebut, tanpa disangka ia malah terbawa ke dunia orang mati. Petualangan seru musikal Miguel pun dimulai ketika ia bertemu keluarganya yang sudah tiada dalam wujud tengkorak. Akankah Miguel keluar dari dunia orang mati dan mewujudkan mimpinya menjadi musikus?

Siapa pun yang menonton film Coco akan belajar mengenal budaya Mexico lebih dalam. Salah satunya yakni nilai kekeluargaan yang erat. Hal ini terlihat dalam salah satu adegan ketika keluarga Miguel benar-benar berpencar untuk mencari Miguel. Hingga akhir film, nilai kekeluargaan masih nampak melekat secara tersirat dalam setiap tokohnya.  

Lagu-lagu dalam film Coco pun dikemas dengan sentuhan musik Mexico yang sangat menarik dan mampu membuat terngiang-ngiang di telinga penontonnya bahkan hingga film usai. Beberapa kata dalam bahasa Spanyol yang digunakan di Mexico pun turut diucapkan. 

Walaupun film Coco dikemas dengan animasi anak-anak, film ini cocok untuk dinikmati semua kalangan. Sutradara film Coco Lee Unkrich berhasil membuat alur cerita yang menarik untuk diikuti siapa pun. Film Coco lulus sensor dengan kategori penonton semua umur. Lebih lagi, film Coco mendapatkan nilai 9.1/10 oleh IMDb dan 96% dari Rotten Tomatoes setelah beberapa hari tayang di beberapa negara. 

Hal menarik lainnya yang tidak boleh dilewatkan yaitu film pembuka yang menjadi ciri khas dari setiap film Disney. Film pendek Olaf’s Frozen Adventure yang menjadi pembuka film Coco di bioskop akan membuat Ultimates tidak sabar untuk juga menontonnya. Jadi tunggu apa lagi Ultimates? Siapkan akhir pekan untuk menonton film.

Penulis: Rachel Rinesya Putri

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Sumber: imdb.com, rottentomatoes.com, vanityfair.com, commonsensemedia.com