Love, Hate & Other Filters: Kehidupan Sebagai Seorang Minoritas

Love, Hate & Other Filters merupakan novel besutan Samira Ahmed yang mengisahkan tentang seorang remaja Muslim India-Amerika bernama Maya Aziz yang harus menghadapi tantangan berupa stereotip dan Islamophobia di Amerika Serikat usai peristiwa terorisme yang terjadi di lingkungannya. (Sumber foto: vickywhoreads.wordpress.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com—Menjalani kehidupan yang tak luput dari stereotip berupa pandangan maupun ucapan negatif merupakan tantangan yang kerap dihadapi oleh kelompok minoritas, termasuk seseorang seperti Maya Aziz. Baginya, hal tersebut telah menjadi asupan sehari-hari setelah kehidupannya berubah total akibat peristiwa mencekam yang menyerang lingkungan sekitarnya.

Maya adalah karakter utama dalam novel besutan Samira Ahmed, Love, Hate & Other Filters. Buku yang terbit pada 2018 ini mengisahkan tentang kehidupannya sebagai seorang remaja muslim India-Amerika yang tinggal di Chicago, Amerika Serikat. Seperti orang tua Asia pada umumnya, orang tua Maya menginginkan putrinya yang berusia 17 tahun ini untuk melanjutkan studinya di bidang yang telah mereka setujui, yaitu hukum. Kendati demikian, ia mempunyai rencana lain untuk mengambil bidang film yang telah menjadi kegemarannya sejak kecil.

Konflik semakin meningkat ketika terjadi insiden berupa serangan teroris di kotanya dan pelakunya merupakan seorang muslim. Selain adanya dampak besar yang menimpa seluruh kota, serangan ini membuat masyarakat semakin was-was atau bahkan benci terhadap para muslim yang tinggal di sana, termasuk Maya dan keluarganya.

Seiring berjalannya waktu, mereka pun tak luput dari situasi yang berkaitan dengan Islamophobia. Bagi Maya sendiri, ia seringkali dilontarkan oleh ucapan yang mencaci-maki agama dan rasnya oleh murid-murid di sekolahnya, terutama oleh seorang murid lelaki bernama Brian.

Secara garis besar, Love, Hate & Other Filters cukup sukses dalam menggambarkan seorang muslim yang tinggal sebagai seorang minoritas di suatu negara. Ahmed mampu menunjukkan ketakutan kaum muslim ketika mendengar berita tentang serangan teroris dan bagaimana mereka berharap bahwa sang pelaku bukanlah seorang muslim demi terhindar dari prasangka buruk seperti yang diceritakan.

Melalui karakter Maya Aziz yang kuat dan independen, Ahmed juga menaruh pesan moral bahwa apa pun ketakutan yang dialami, maka kita dapat melawan ketakutan tersebut jika mempunyai keberanian dan percaya dengan diri sendiri.

Kendati demikian, meski mengusung tema yang realistis dan menarik serta menggunakan gaya bahasa yang mudah, novel ini mempunyai beberapa adegan yang cenderung mudah untuk ditebak sehingga terkesan klise. Selain itu, terdapat beberapa representasi muslim yang kurang realistis dalam cerita ini, terutama dalam aspek hubungan romantis Maya dengan Kareem, seorang lelaki yang “dijodohkan” oleh orang tuanya, dan Phil, teman lelaki masa kecil Maya yang ia sukai.

Penulis: Audrie Safira Maulana

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: vickywhoreads.wordpress.com