“Sound of Metal”: Kisah Musisi pada Krisis Gangguan Pendengaran

sound of metal
Film “Sound of Metal” yang dibintangi Riz Ahmed. (Foto: Amazon Studios)
Share:

“If I disappear, who cares? Nobody cares, man. And that’s okay, that’s life. It just passes.”

-Ruben Stone, Sound of Metal

SERPONG, ULTIMAGZ.com — “Sound of Metal” yang dirilis secara teatrikal pada 20 November 2020, menceritakan kisah inspiratif seorang drummer yang tiba-tiba kehilangan pendengarannya. Film ini tidak hanya menunjukkan audiens perjalanan intens seorang pria muda yang kehilangan pendengarannya, tetapi juga mencoba untuk membiarkan audiens mengalami perjuangan bersamanya.

Ruben Stone (Riz Ahmed) adalah pemain drum dari duo band heavy metal bersama kekasihnya yang juga penyanyi utama band, Lou (Olivia Cooke). Mereka tinggal di RV sederhana yang memungkinkan mereka untuk melakukan perjalanan tur keliling negeri.

Setelah mengadakan konser rock yang penuh semangat, pendengaran Ruben mulai menurun. Audio dalam film juga memudar, penonton diberi pendengaran melalui telinga Ruben yang patah.

Semuanya tampak sempurna sampai Ruben tiba-tiba menyadari bahwa ia mulai kehilangan pendengarannya. Saat dokter memberi tahu bahwa kondisinya semakin parah, Ruben merasa hidupnya seakan runtuh.

Saat Ruben ditimpa bencana, ia bergerak melalui tahap-tahap kesedihan seperti penyangkalan, ketakutan, rasa sakit, dan kemarahan. Sangat terguncang dan khawatir tentang status kebersihannya selama empat tahun dari narkoba, Ruben melakukan perjalanan ke fasilitas yang direkomendasikan oleh manajernya, yaitu komunitas bagi para tunarungu.

Ruben kemudian menemukan ketenangan di komunitas tersebut yang dijalankan oleh seorang veteran Perang Vietnam bernama Joe (Paul Raci). Niat baik anggota komunitasnya kepada satu sama lain ditunjukkan melalui bahasa isyarat, perlahan-lahan menghilangkan amarah Ruben. Komunitas tersebut menggandeng dan menyambutnya saat Ruben menolak untuk menjadi dirinya sendiri. Ia perlahan mulai merasa nyaman dengan ketuliannya, seperti yang ditunjukkan Joe kepadanya bahwa itu bukan sesuatu yang perlu disembuhkan.

Klip dari “Sound of Metal”. (Foto: Vulture)

Ruben mulai menyesuaikan diri dengan komunitas itu. Ia juga belajar bahasa isyarat Amerika dan menjalin pertemanan baru. Namun, tarikan dari Lou dan kehidupan yang ditinggalkannya membawanya ke pilihan yang sulit.

Performa Riz Ahmed membuat takjub penonton, ia mulai menjalankan keseluruhan dari ketidakpercayaan mata terbelalak, kemarahan yang ganas, hingga pemahaman yang lembut tentang kesulitannya. Penampilan Ahmed memberikan nuansa yang penuh intensitas dan kerentanan pada “Sound of Metal”.

“Sound of Metal” memperlihatkan pemahaman mengenai tunarungu secara artistik. Film ini  memberikan pengalaman pada penontonnya, tidak hanya secara naratif, tetapi melalui sound effect yang memesona. Desain suara yang rumit membawa kita ke dalam kepala Ruben untuk menangkap distorsi dan keheningan yang ia alami saat pendengarannya berkurang.

Akting dari para pemain, visual dari sinematografi, dan sound effect yang ditampilkan dalam film ini memiliki sinkronisasi sempurna. Ini adalah film yang mendorong kita untuk berpikir tentang apa yang benar-benar penting bagi hidup kita.

Dilansir dari npr.org, film ini menjadi film debut bagi sutradara Darius Marder. Bersama dengan saudaranya, Abraham Marder, Darius menulis naskah film ini karena ingin mengangkat isu disabilitas khususnya pada orang tunarungu.

Darius Marder berhasil menceritakan kisah tentang kerugian sekaligus tentang potensi untuk mendapatkan keuntungan. “Sound of Metal” pada akhirnya adalah eksplorasi empati untuk mengatasi lingkungan sekitar kita dan mengakar di tempat yang baru. Film ini merangkul perubahan yang tidak terkendali dan tumbuh bersamanya alih-alih berjuang untuk kembali ke keadaan sebelumnya.

 

Penulis: Alycia Catelyn

Editor: Nadia Indrawinata

Foto: Amazon Studios

Sumber: thewrap.com, npr.org, indiewire.com