7 Filosofi Makanan Khas Indonesia

Ilustrasi filosofi makanan khas Indonesia (Foto: ULTIMAGZ/ Dionisius Adrian)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Indonesia merupakan negara dengan kekayaan yang luar biasa, salah satunya kekayaan kuliner. Setiap daerah di Indonesia memiliki makanan khas masing-masing dengan berbagai macam bumbu dan rempah. 

Uniknya, makanan khas daerah-daerah ini tidak hanya sedap untuk disantap, tetapi juga memiliki filosofinya tersendiri. Filosofi tersebut menjadi makna yang berarti bagi setiap orang dan dapat digunakan sebagai nilai-nilai kehidupan. Berikut tujuh filosofi makanan khas Indonesia:

  1. Nasi Tumpeng

Nasi tumpeng dibentuk mirip gunung dan dikelilingi lauk-pauk, seperti ayam, telur, tahu ataupun tempe. Pada umumnya, makanan ini disajikan dalam acara-acara tertentu, seperti syukuran.

Alasan nasi tumpeng berbentuk kerucut seperti gunung dimaknai menjadi harapan kehidupan yang sejahtera. Lauk-pauk yang dihidangkan juga bahkan memiliki makna tersendiri. Biasanya lauknya berjumlah tujuh atau pitu dalam bahasa Jawa. Pitu dimaknai dengan pitulungan atau pertolongan.

Cabai merah yang diletakkan di pucuk nasi tumpeng pun tak hanya sebatas pemanis, tetapi juga memiliki filosofi. Cabai merah yang berada di puncak melambangkan api sebagai sumber penerangan atau teladan.

  1. Gado-Gado

Makanan ini bisa dibilang sebagai saladnya orang Indonesia. Disebut salad karena bahan makanannya adalah sayuran yang direbus lalu dicampurkan telur rebus, kentang rebus, dan ditambahkan bumbu kacang. Semuanya diaduk menjadi satu hingga bumbu kacang yang sudah dicampur menjadi rata.

Zaman dulu, gado-gado ini dikenal sebagai makanan peranakan Cina yang diadaptasi dari pecel khas Jakarta. Orang-orang sering menganggap kalau gado-gado ini adalah makanan pelengkap.

Dari nama yang digunakan yaitu ‘Gado-Gado’ sering diartikan sebagai campuran yang berbeda-beda. Istilah ini diibaratkan sebagai Indonesia yang memiliki berbagai keberagaman.

Namun, ada pendapat lain yang mengatakan bahwa gado-gado berasal dari kata ‘digado’, yang dalam bahasa Betawi artinya dimakan begitu saja tanpa nasi, meski umumnya banyak yang memakai Lontong.

  1. Gudeg

Makanan khas Yogyakarta dengan cita rasanya yang cenderung manis ini sangat populer di masyarakat Indonesia. Siapa sangka makanan ini juga memiliki makna yang begitu mendalam.

Konon, gudeg tercipta setelah pendirian kerajaan Mataram. Pada saat mendirikan kerajaan banyak pohon yang ditebang untuk membuka pemukiman, pohon yang dipotong ini juga termasuk pohon nangka. Buah-buah nangka yang masih muda inilah yang diolah menjadi Gudeg.

Masyarakat Yogyakarta sendiri memaknai Gudeg sebagai simbol menyatunya rakyat dengan penguasa. Selain itu, Gudeg mencerminkan filosofi berupa ketenangan, kesabaran, dan ketelitian.

  1. Ketupat

Makanan satu ini tentu sudah tidak asing. Tidak hanya disajikan saat Ramadan, ketupat juga menjadi bahan utama makanan seperti Ketoprak dan Coto Makasar.

Makanan berbentuk segi empat ini berbahan dasar beras dan santan. Konon, ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga saat perayaan hari keagamanan. Saat itu, Sunan Kalijaga memperkenalkan dua jenis perayaan, Bakda Lebaran dan Bakda Kupat (yang dilaksanakan satu minggu setelah lebaran).

Nama Ketupat pun ternyata sebuah singkatan dari ngaku lepat (mengakui kesalahan) dan laku papat (empat tindakan). Oleh karena itu, biasanya ketupat dihidangkan setelah prosesi maaf-maafan selesai yaitu pada saat bulan Ramadan.

  1. Kerak Telor

Kerak telor merupakan makanan khas Betawi berbahan dasar telur, ketan putih, dan kelapa muda parut. Kerak telor biasanya dimasak dengan tungku yang terbuat dari tanah liat dan panasnya arang. Biasanya makanan ini hadir saat hari-hari perayaan ulang tahun kota Jakarta dan acara-acara adat Betawi.

Kerak Telor memiliki makna sebagai sisi kehidupan manusia yang mengalami perubahan lingkungan secara alamiah. Kerak Telor juga sebagai lambang dari pergaulan yang harmonis.

  1. Nasi Liwet

Nasi yang dicampur dengan lauk pauk ini merupakan makanan khas Jawa Tengah dan Jawa Barat. Dalam tradisi Sunda, Nasi liwet tercipta karena alasan penghematan. Dahulu kala, masyarakat tradisional menyantap nasi yang langsung bercampur dengan lauknya. Ngeliwet akan membuat kalian ingat mengenai berhemat dan tidak boros.

Nasi liwet menjadi tren di kalangan masyarakat karena cara memakannya yang unik, yaitu memakannya secara beramai-ramai atau yang biasa disebut bancakan. Bancakan adalah memakan Nasi Liwet bersama-sama dengan berlesehan. Nasi dan lauknya disajikan dengan daun pisang sebagai alasnya.

  1. Sate Lilit

Umumnya, Sate lilit terbuat dari ikan tuna ataupun daging yang dicacah, dihancurkan, dan diberi bumbu. Disebut sebagai sate lilit karena daging yang sudah dicacah tersebut dililitkan di batang kayu atau batang sereh dan dibakar.

Makanan khas Pulau Dewata ini biasanya dihidangkan pada saat upacara adat di Bali. Bukan tanpa alasan, kata “lilit” ini berasal dari kata kilit atau “ikat” yang melambangkan pemersatu. Harapannya adalah masyarakat Bali harus bersatu dan tidak bisa dipecah-belah.

Itulah filosofi dari tujuh makanan khas Indonesia. Makna-maknanya baik untuk kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. 

 

Penulis: Fabio Nainggolan

Editor: Abel Pramudya

Foto: Dionisius Adrian

Sumber: hipwee.com, travelingyuk.com, idntimes.com, tirto.id