Kartini Abad 21: Wanita-Wanita Muda Penerima Nobel Perdamaian

Medali penghargaan Nobel. (Foto: Chemistry World)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Bicara soal perjuangan seorang perempuan, tentu kita akan teringat dengan sosok Raden Ajeng Kartini yang memperjuangkan emansipasi wanita. Hari ini (21/04/19) tepat 55 tahun Indonesia memperingati tanggal 21 April sebagai hari besar yang dikenal dengan “Hari Kartini”.

Terinspirasi oleh kebebasan gadis-gadis di Eropa, Kartini memiliki cita-cita memajukan wanita pribumi. Kumpulan suratnya pada sahabat-sahabat Eropanya kemudian diterbitkan menjadi buku yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang. Di surat-surat inilah buah pikirannya tertuang. 

Bila Kartini di usia muda dapat menginspirasi banyak orang lewat perjuangan emansipasinya, saat ini “Kartini-Kartini” lain hadir memerjuangkan hak asasi manusia dengan cara berbeda. Berikut wanita peraih penghargaan Nobel dengan usia muda di abad 21:

Malala Yousafzai

Foto: Time Out

Malala adalah seorang gadis Pakistan yang aktif memperjuangkan penghentian penindasan anak-anak dan remaja, serta hak pendidikan anak. Pada tahun 2008, ketika usianya masih 11 tahun Malala memberikan pidato yang berisikan kritik terhadap aksi penutupan sekolah perempuan yang dilakukan oleh kelompok Taliban.

Beranjak ke tahun 2012, Malala sempat ditembak oleh milisi (pasukan semi militer) Taliban tepat di kepala dan leher. Akibat peristiwa tersebut, ia mendapat perawatan secara intensif di Inggris. Pasca kesembuhannya, gadis kelahiran 12 Juli 1997 itu mendirikan Malala Fund pada 2013. Melalui organisasi tersebut, Malala mengampanyekan pendidikan anak perempuan. Pada tahun yang sama, kisahnya diangkat menjadi sebuah buku berjudul I Am Malala: The Girl Who Stood Up for Education and Was Shot by the Taliban.

Berkat seluruh aksi heroiknya ini ia mendapat Nobel perdamaian pada tahun 2014 di saat umurnya baru 17 tahun. Hal ini membuatnya mencetak sejarah baru sebagai penerima Nobel termuda.

Nadia Murad Basee Taha

Foto: bbc.com

Nadia Murad yang berasal dari Irak pernah merasakan kekejaman ISIS. Pada tahun 2014 ketika dirinya berusia 19 tahun, Nadia ditawan dan dijadikan budak seks oleh prajurit ISIS. Ia diperkosa serta disiksa tiap harinya hingga akhirnya berhasil melarikan diri ke Jerman.

Lepas dari tawanan ISIS, Nadia kemudian membaktikan dirinya untuk menghentikan kekerasan seksual sebagai senjata perang. Ia membagikan kisahnya untuk menyadarkan masih banyak saudari perempuan yang diculik, diperkosa, dan diperjual-belikan. Nadia dianugerahi penghargaan Nobel di usianya yang masih 21 tahun.

“Perdagangan manusia dan perbudakan massal telah menjadi suatu alat yang dipakai oleh teroris untuk merendahkan masyarakat dan kemanusiaan secara keseluruhan,” katanya melalui sebuah pernyataan seperti yang dikutip oleh liputan6.com.

Tarik mundur ke tahun 1903, Marie Curie menjadi wanita pertama yang berhasil menerima penghargaan Nobel. Marie menerima Nobel dalam kategori Fisika, karena menemukan unsur Radium (Ra) untuk pertama kalinya. Penghargaan yang didapatnya menjadi gebrakan besar di institusi pendidikan karena pada masa itu perempuan masih dianggap kurang mumpuni untuk berilmu tinggi.

Penghargaan Nobel merupakan suatu bentuk apresiasi terhadap individu dan organisasi yang berjasa besar dalam bidang sastra, perdamaian, fisiologi, kedokteran, kimia, atau fisika. Sejak diadakan pada tahun 1901, penghargaan bergengsi itu didominasi oleh laki-laki. Tercatat hingga 2015, dari 870 penerima Nobel hanya 48 di antaranya yang merupakan wanita.

 

Penulis: Andi Annisa Ivana Putri

Editor: Anindya Wahyu Paramita

Sumber: Tirto.id, id.wikipedia.org, liputan6.com.

Gambar: Chemistry World, Time Out, bbc.com