Menggali Memori Tragedi Trisakti, Luka Lama yang Tak Diobati Reformasi

tragedi trisakti
(Sumber: straitstimes.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com ― Demo mahasiswa yang terjadi pada siang 12 Mei 1998, kini tepat terjadi 22 tahun yang lalu pada hari ini. Hal ini memang bukan cerita baru mengingat serangkaian protes mahasiswa sudah pernah digelar sebelumnya. Akan tetapi, demo yang sempat berjalan alot ini malah melahirkan tragedi kemanusiaan.

Mahasiswa dan aparat saling beradu pendapat. Aparat ingin massa kembali ke kampus. Sedangkan sudah jelas gerombolan mahasiswa yang geram atas instabilitas keadaan sosial, politik, dan ekonomi, ingin menyuarakan permintaan untuk memundurkan Presiden Soeharto yang sedang mengumandangkan aksi perdamaian di Mesir dalam acara KTT-G15.

Setelah berjalan dari kampus dengan tujuan gedung DPR/MPR dan terhadang aparat di pintu masuk kantor Walikota Jakarta Barat, aparat melarang mereka melanjutkan perjalanan dengan alasan mengganggu lalu lintas. Namun, massa tetap melakukan orasi di tengah jalan. Sampai akhirnya pada pukul 16.55 WIB, massa dan aparat mencapai kesepakatan, yaitu dua belah pihak mundur dan kembali ke tempat masing-masing.

“Wakil mahasiswa mengumumkan hasil negosiasi di mana hasil kesepakatan adalah baik aparat dan mahasiswa sama-sama mundur. Awalnya massa menolak tapi setelah dibujuk oleh Bapak Dekan FE & Dekan FH Usakti serta ketua SMUT massa mau bergerak mundur,” sebagaimana tertulis dalam siaran pers Senat Mahasiswa Universitas Trisakti (SMUT).

Pun demikian, dalam gerakan ‘balik kanan’ tersebut, tiba-tiba suara ledakan bedil terselip di antara ramai massa. Aparat secara membabi buta menyerang mahasiswa yang ingin kembali ke gedung Trisakti. Bahkan merujuk pada siaran pers SMUT, peristiwa berdarah ini melibatkan beberapa penembak jitu (sniper).  Aparat tanpa senjata api pun mengambil andil bagian dalam memukuli mahasiswa dengan pentungan atau tangan kosong dan melempar mahasiswa ke sungai. Kerumunan yang panik itu berhamburan lari di Jl S. Parman, Jakarta Barat.

Saksi Mata Perjuangan Seorang Martir

Massa berlarian ke arah kampus, beberapa mencari tempat perlindungan di balik mobil atau tembok. Mereka menangis ketakutan. Seorang mahasiswa berdiri di depan gerbang kampus, membantu rekan-rekannya yang berlarian untuk masuk ke dalam gedung. Dia merenggang nyawa, dapat menyaksikan dari dekat bagaimana hujan peluru itu mengenai gerbang Trisakti tempat ia berdiri.

“Jujur saja, untuk pertama kali saya merasa takut, karena saya berpikir ini waktunya saya akan mati,” ujar Alumni Trisakti Bhatara, Ibnu Reza dalam siaran radio BBC The Trisakti Shootings, Indonesia 1998, yang tayang pada 19 mei 2014.

Namun, pikirannya itu tidak menjadi kenyataan, dia tetap hidup dan beranjak masuk ke dalam gedung kampus Trisakti. Keadaan masih kacau di luar, Bhatara memutuskan untuk memberi kabar kepada ibunya melalui Telepon. Ibunya tentu khawatir, suara tembakan di luar gedung pun terdengar jelas oleh perempuan di seberang sana. Di sela ketakutan, sang anak tetap berusaha menenangkan ibunya.

“Saya berkata, ‘saya tidak apa, saya baik-baik saja, saya di dalam gedung kampus, berdoa saja untuk kami, saya akan aman’,” kata Bhatara menirukan perkataanya kepada sang ibu.

Berlindung di ruangan radio kampus, tiba-tiba pintu terbuka. Bhatara melihat secara langsung seorang kolega sedang dibopong dengan meja. Darah mengalir dari lehernya, nafas pemuda itu berat, matanya putih tidak menunjukkan pupil sama sekali. Korban tersebut bernama Hendriawan Sie.

Salah seorang teman yang membopong kemudian menyodorkan dompet korban kepada Bhatara. Hendriawan ingin segera diberangkatkan ke rumah sakit oleh teman-temannya. Tugas Bhatara adalah menyimpan dompet itu dengan harapan akan dikembalikan langsung kepada Hendriawan suatu saat nanti. Namun, takdir berkata lain, Hendriawan tewas di jalan menuju rumah sakit dan menjadi salah satu dari empat martir reformasi.

“Saya melihat darah mengalir dari lehernya dan nafasnya sangat berat, pupil matanya tidak terlihat, seluruh matanya putih […] saya ingat (Hendriawan) dibopong dengan meja, namun dia meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit,” pungkas Bhatara mengenang tragedi yang terjadi 22 tahun lalu itu.

Dompet tersebut akhirnya dibawa Bhatara ke upacara penghormatan terakhir koleganya yang bertempat di Pemakaman Al Kamal, Kebon Jeruk Jakarta, pada 13 Mei 1998 (hari yang sama dengan kerusuhan dan pemerkosaan massal yang terjadi di Jakarta).

Di sana, dia bertemu seorang perempuan bernama Karsiah sedang menangisi anak semata wayangnya yang terkulai di dalam peti. Bhatara secara personal mengembalikan dompet sang anak kepada Karsiah. Sontak perempuan itu pingsan dengan air mata masih menghias pipinya.

“Saya masih menyimpan dompet Hendriawan sie, jadi saya datang ke pemakamannya dan memberikan dompet itu ke ibunya, ibunya kemudian menangis dan pingsan,” kata Bhatara.

Pewarta Foto dalam Malam Mencengkam dan Pemakaman Elang

Di sisi lain, Pewarta Foto Adek Berry mengurungkan niatnya untuk meliput demo mahasiswa siang hari, 12 Mei 1998. Dia baru saja melewatkan momen besar yang tidak diharapkan. Aparat menembak empat mahasiswa Trisakti. Hingga malam mencekam datang, sekitar pukul 20.00 WIB Adek berangkat ke rumah Rumah Sakit Sumber Waras.

Rute perjalanan dari kantor Tajuk, media tempatnya dulu bekerja, ke rumah sakit memang sepi. Namun, setibanya Adek di Sumber Waras, dia langsung mendapatkan suasana tegang dan emosional. Rumah sakit itu penuh dengan suara tangis mahasiswi yang saling berpelukan. Adek yang ingin mengabadikan momen itu malah diusir oleh beberapa mahasiswa yang melarangnya memotret.

“Mahasiswa laki-laki dengan mata merah habis menangis melarang aku memotret. Suasana emosional dan tegang. Mereka mengusirku,” tulis Adek dalam bukunya “Mata Lensa: Jejak Ketangguhan Jurnalisfoto Perempuanyang terbit pada 2017.

Setelah melihat kejadian emosional di Sumber Waras, Adek langsung beranjak ke gedung Trisakti. Di sana, massa berlindung saat aparat menghujani mereka dengan peluru karet maupun tajam. Tidak banyak yang ia bisa dapat di sana. Sepi dan gelap menyelimuti gedung itu, di teras terdapat serangkai bunga anggrek berwarna ungu dan terlihat bentuk abstrak jejak kaki di tanah berlumpur yang sudah bercampur dengan darah.

“Selain bunga anggrek warna ungu, hampir tidak ada yang bisa aku potret di sana,” tulisnya.

Adek pun kembali ke kantor lewat tengah malam. Namun tidak lama, dia harus langsung berangkat ke rumah salah satu keluarga korban penembakan Trisakti, Elang Mulya Lesmana, di Ciputat, Tangerang Selatan. Di ruang tengah terbaring tubuh Elang, beserta foto dirinya di bagian kepala.

Setelah mendapatkan beberapa momen Adek memutuskan untuk lebih awal tiba di tempat peristirahatan Elang yang terakhir, TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Seperti dugaan, tempat itu masih sepi, hanya terdapat beberapa mahasiswa yang duduk di dekat lubang untuk Elang.

Pemakaman pun dibuka oleh suara tahlil yang terdengar dari pembawa keranda. Sang ayah menyambut jasad anaknya dari dalam liang kubur. Setelah jasad ditimbun dengan tanah, nisan di tegakkan, dan bunga ditabur, ayah Elang menangis, sembari memeluk nisan sang anak.

“Hatiku turut menangis, merasakan kesedihan seorang ayah yang memeluk nisan anaknya. Calon sarjana yang dibanggakan telah tiada, menjadi korban dalam kematian yang sangat tragis,” tulis Adek dalam bukunya pada halaman 35.

Orde Baru Runtuh, Reformasi Terjadi, Luka Sejarah Tak Terobati

Hanya butuh satu hari, tragedi tersebut menyulut kemarahan. Pada tanggal 13, 14 dan 15 Mei 1998, Jakarta sudah berubah menjadi sebuah kekacauan. Adek merasakan kemarahan masyarakat di Jakarta, dia menjadi saksi mata atas pembongkaran mesin ATM di Tanah Abang, Jakarta Pusat, penjarahan di berbagai toko, sampai gelombang demo mahasiswa setelah tragedi Trisakti.

Menurut Bhatara Ibnu Reza, bagai gas yang disulut, rasa jenuh yang terlalu lama disimpan masyarakat akhirnya meledak dan membakar Jakarta. “Orang-orang marah, mereka marah karena kejadian di kampus, penembakan, krisis ekonomi, itu adalah akumulasi dari kemarahan.”

Titik akhir dari semua kekacauan itu terjadi pada 22 Mei 1998. Seorang laki-laki tua memakai kacamata, bersiap dengan pengeras suara untuk membacakan sesuatu yang ingin didengar orang-orang. Presiden Soeharto akhirnya mengumumkan pengunduran dirinya dari Istana Merdeka, Jakarta Pusat.

“Saat Soeharto mendeklarasikan pengunduran dirinya, kita sangat senang, menangis dalam kebahagian. Tapi hanya seperti itu,” ucap Bhatara.

Pun demikian, turunnya The Smiling General –panggilan dunia international kepada Soeharto- tidak menghentikan pergolakan secara total. Peristiwa berdarah, seperti Semanggi I dan II, kerusuhan Salemba, dan rangkaian demonstrasi menuntut pengadilan Soeharto, masih mewarnai Indonesia.

Setelah turunnya Soeharto dari kursi kepresidenan, Indonesia terus bergejolak – “Mata Lensa: Jejak Ketangguhan Jurnalisfoto Perempuan”

Bhatara tidak mengamini tragedi Trisakti sebagai pemicu turunnya Soeharto dari tampuk kepemimpinan. Dia percaya tragedi yang menewaskan empat mahasiswa Trisakti; Elang Mulia Lesmana (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Arsitektur), Hafidhin Royan (Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Jurusan Teknik Sipil), Hery Hartanto (Fakultas Teknologi Industri), dan Hendriawan Sie (Fakultas Ekonomi), hanyalah bagian dari perjuangan panjang Indonesia mencapai demokrasi.

Menurut Bhatara yang sekarang merupakan aktivis kemanusiaan, rezim yang menggantikan orde baru pun tidak menimbulkan perubahan yang berarti. Dia mengaku kecewa terhadap pemerintah yang tidak mengusut tuntas peristiwa berdarah ini. Kejadian melihat koleganya bertaruh nyawa masih sering terbesit dalam benaknya, air mata pun tidak terelakan.

“Saya bahkan menangis ketika bangun tidur dan mengingat Hendriawan Sie berjuang untuk hidupnya di depan saya, dan kasus ini tidak pernah diselesaikan hingga sekarang,” pungkas Bhatara.

Kejadian itu tidak akan pernah hilang dari kepalanya. Bahkan dia mengatakan bahwa semangat perjuangannya akan dia simpan sampai keinginannya tercapai.

“Saya menyimpan ini sampai sekarang, dan mungkin sampai saya mati. Sampai negara berkata ‘kita harus menyelesaikan semua sejarah pelanggaran Hak Asasi Manusia’, setelah itu baru kita bisa melakukan rekonsiliasi dengan masa lalu,” tutup Bhatara.

 

Penulis: Andrei Wilmar

Editor: Andi Annisa Ivana Putri

Sumber: Buku “Mata Lensa: Jejak Ketangguhan Jurnalis Foto Perempuan”  (2017), bbc.co.uk, Press Release Senat Mahasiswa Universitas Trisakti (SMUT), kaltimkece.id, tirto.id, nytimes.com

Foto: straitstimes.com