Pameran Virtual Galeri FSD “Tjap Tiga Jari” Hadir Dalam Bentuk Interaktif

Pembukaan pertama pameran Tjaptijar, karya mahasiswa Fakultas Seni dan Desain UMN dilakukan secara online dan dilaksanakan pada Senin (03/7/2020) pagi. (ULTIMAGZ/ Caroline Saskia)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com—Galeri Fakultas Seni dan Desain Universitas Multimedia Nusantara (FSD UMN) 2020 mengadakan pameran virtual berjudul “Tjap Tiga Jari” atau “Tjaptijar” pada 3-7 Agustus 2020. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pameran hadir dalam bentuk permainan interaktif sebagai hasil kolaborasi dengan Game Design Club (GDC) UMN.

Judul “Tjap Tiga Jari” diambil dari cap tiga jari, tahap yang harus dilakukan oleh siswa ketika lulus sekolah. Judul yang ditulis dalam ejaan lama ini pun memiliki arti bahwa semua karya yang ditampilkan sudah ‘lulus’ dari tahap kurasi.

“Awalnya pameran ini rencananya akan diadakan di UMN, pada awal April. Akan tetapi karena kondisi pandemi COVID-19 dan himbauan physical distancing, pameran yang dilakukan secara ‘fisik’ rasanya tidak mungkin untuk direalisasikan,” ungkap Clairine Bryna dari divisi humas Galeri FSD UMN.

Pembukaan pertama pameran Tjaptijar, karya mahasiswa Fakultas Seni dan Desain UMN dilakukan secara online dan dilaksanakan pada Senin (03/7/2020) pagi. (ULTIMAGZ/ Caroline Saskia)

Oleh karena itu, Clairine menambahkan bahwa pihak panitia memutuskan untuk tetap menyelenggarakan pameran secara virtual dalam bentuk permainan interaktif. Hal ini pun dibuat dengan tujuan pengunjung tidak sekadar melihat-lihat karya, tetapi juga menghadirkan pengalaman yang membuatnya menjadi semakin menarik.

Untuk melihat-lihat pameran hasil karya mahasiswa fakultas seni dan desain ini, para pengunjung diharuskan untuk mengunduh sebuah file berbentuk .zip yang dapat ditemukan di akun Instagram @galerifsd_umn. Permainan yang mengambil latar tempat di sebuah sekolah ini hanya bisa dimainkan dengan sistem operasional Windows.

Saat baru memulai, pengunjung akan masuk ke dalam sebuah gedung sekolah dan menjelajahi lorong-lorong serta ruangan untuk menikmati galeri. Namun, ada sesuatu yang aneh. Beberapa karya hanya berwujud kanvas kosong.

Di sinilah para pengunjung memiliki peran ganda sebagai pemain. Karya-karya hilang ini tersembunyi di berbagai lokasi dalam permainan. Nantinya, para pemain pun harus mencari-cari dan mengembalikan karya ke tempatnya masing-masing.

Penulis: Nadia Indrawinata

Editor: Xena Olivia

Foto: Caroline Saskia