Tuntutan Kebebasan Pers Kampus di May Day 2018

Ikut berorasi dengan para jurnalis profesional, para jurnalis kampus menyampaikan suara karena selama ini merasa terbungkam oleh peraturan kampus pada Selasa (1/5/18) di sekitaran Jakarta Pusat. (ULTIMAGZ/Nico Nathanael)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Pada May Day 2018, Selasa (01/05/18), pekerja media yang tergabung dalam Forum Pekerja Media melakukan unjuk rasa dari Kedutaan Besar Amerika Serikat hingga Patung Arjuna Wiwaha. Salah satu tuntutan yang mereka sampaikan adalah untuk menghentikan kekangan kepada pers kampus, yang saat ini sering terjadi untuk menjaga citra kampus.

Adi Briantika selaku Ketua Serikat Pekerja Lintas Media (SPLM) Jakarta menjelaskan jika tindak pembungkaman dari kampus dilakukan dengan penyortiran terhadap berita-berita yang terbit dari media kampus. Apabila pihak kampus merasa tidak senang dengan tulisan yang mereka sortir, maka mereka akan meminta media kampus untuk merevisi tulisannya. Jika media kampus menolak untuk merevisinya, maka kampus bisa menarik atau melarang peredaran berita tersebut.

Adi Briantika, Ketua Serikat Pekerja Lintas Media (SPLM) Jakarta sedang berorasi dan membakar semangat para jurnalis.

“Pengecekan itu bertujuan menyortir tulisan-tulisan yang tidak memihak, berita buruk, dan bernilai jelek yang berisikan materi-materi yang merugikan kampus,” tutur Adi. “Kalau istilah lama membredel, kalau sekarang tidak dibredel tapi disortir.”

Dirinya menerangkan, jika ada kesepakatan dari perundingan tentang pembiayaan dari kampus, maka sebaiknya pihak kampus dan mahasiswa bekerja sama agar karya yang diproduksi dapat berimbang, aktual, akurat dan juga memiliki unsur klarifikasi dan konfirmasi.

Aliansi Jurnalis Indonesia (AJI) Jakarta turut menyuarakan aspirasi mereka di hari buruh internasional di kawasan Jakarta Pusat bersama para buruh yang lainnya. (ULTIMAGZ/Nico Nathanael)

Perundingan dan kerja sama untuk menghindari penyotiran dinilai Adi sebagai langkah yang tepat.

”Maka harus ada kerja sama antara mahasiswa dengan kampus supaya menghasilkan karya berkualitas, sehingga kode etik, nilai jurnalistik, dan kaidah bahasa juga ada dalam karya-karya mahasiswa,” lanjut Adi. “Pers mahasiswa yang independen adalah hal baik, karena sudah belajar pasal independensi, nilai kebebasan, tidak memihak”.

Ketua Federasi Serikat Pekerja Media Independen (FSMPI) Sasminto Madrim menjelaskan bahwa ada gerakan untuk mendorong dewan pers supaya dapat memberikan media kampus perlindungan yang sama dengan jurnalis profesional.

Ketua Federasi Serikat Pekerja Media Independen (FSPMI) Sasmito Madrim. (ULTIMAGZ/Nico Nathanael)

“Walaupun secara UU belum diatur perlindungan pers kampus, kami mendorong dewan pers untuk terlibat,” kata Sasminto.

Sasminto menambahkan bahwa Forum Pekerja Media berusaha membantu media kampus, salah satunya lewat Aliansi Jurnalis Independen (AJI) yang dalam Kongres Solo lalu mengajak teman-teman pers kampus untuk menjadi anggota AJI.

“Dengan menjadi anggota AJI maka media kampus bisa berjuang bersama-sama dengan AJI ketika mendapat intimidasi, kekerasan atau dilaporankan kepada pihak polisi,” tutupnya.

 

Penulis : Theresia Amadea
Editor : Gilang Fajar Septian
Foto : Nico Nathanael