SERPONG, ULTIMAGZ.com – UMN ECO adakan seminar dan lokakarya (workshop) ecoprint di Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada Kamis (21/05/2026) untuk mendukung deforestasi. Keduanya merupakan bagian dari acara tahunan UMN ECO yang tahun ini bertemakan Nirvana Roots.
Acara dimulai dengan seminar yang diadakan di Ruang Nias, Gedung D, UMN dengan tajuk Peran Mahasiswa dalam Gerakan Reforestasi Berbasis Keberlanjutan. Seminar ini mendatangkan Maharani Ayu dari LindungiHutan sebagai narasumber, membahas bagaimana mahasiswa dapat memulai langkah kecil untuk peduli dengan lingkungan
Baca juga: Ekofeminisme: Menelusuri Hubungan Feminisme dan Lingkungan
Maharani menjelaskan kekhawatirannya tentang isu lingkungan yang sering diangkat hanya untuk tren semata. Ia juga menyinggung bagaimana kampanye lingkungan yang banyak tersebar hanya bertahan sementara.
“Takutnya dari campaign–campaign atau movement itu malah jadi menciptakan toxicity. Aku gak pengen itu terjadi juga. Karena culture movement itu bukan saling menyalahkan sih, tapi soal bagaimana kita membangun culture of awareness,” jelas Maharani. Ia kembali menekankan bahwa fokus kampanye adalah untuk merangkul dan membangun kesadaran berbagai pihak.
Di sisi lain, Maharani juga menjelaskan perubahan lingkungan yang dapat terjadi dari satu orang melalui multiplier effect. Ia memaparkan bahwa konsistensi seseorang dapat berpengaruh ke orang lain, bahkan mendorong terjadinya gerakan suatu komunitas.
Sehubungan dengan ini, Maharani menyebut workshop ecoprint UMN ECO sebagai langkah awal yang baik bagi mahasiswa dalam membawa perubahan.
“Ini sudah langkah yang bagus dari awal, untuk membangun prinsip eco value dan movement reforestasi yang bagus,” ujar Maharani.

Pengenalan Isu Lingkungan dengan Ecoprint
Acara kemudian dilanjutkan dengan workshop ecoprint di Gedung D, UMN. Ecoprint sendiri merupakan teknik mencetak dengan bahan alami, seperti dedaunan dan bunga, ke media kain atau media lainnya. Pada workshop kali ini, UMN ECO menggunakan kantong serut kecil sebagai media untuk mengaplikasikan cetakan.
Selena Clarisa Lesmana, Supervisor UMN ECO 2026, menjelaskan bahwa ecoprint dipilih sebagai wadah untuk memperkenalkan isu lingkungan kepada mahasiswa UMN.
“Mahasiswa UMN bisa tahu teknik ecoprint itu bagaimana dibuatnya. Lalu, ada benefit-nya juga. Mereka bisa menggunakan pouch itu untuk simpan koin atau notebook, jadi pouch-nya berguna dan materialnya eco friendly. Serta, kita pakai daun asli buat diketok, jadi keindahannya itu didapat dari alam secara natural,” jelas Selena saat diwawancarai ULTIMAGZ pada Kamis (21/05/2026).
Selena juga menyampaikan tentang teknik ecoprint, mulai dari merendam kantong dalam air tawas, menjemur kantong, dan mengetuk daun dengan palu ke permukaan atas kantong. Proses pengetukan ini akan membuat pigmen daun tercetak di permukaan kantong.
Salah satu peserta Nirvana Roots, Lusi, mahasiswi Jurnalistik 2024, menyampaikan bahwa rangkaian favoritnya adalah workshop ecoprint.
“Seru banget, mukul-mukul daun di atas plastik terus nanti jadi berbentuk sebuah seni itu kayak artistik banget. Aku suka banget,” ujar Lusi saat diwawancarai ULTIMAGZ. Lusi juga menyampaikan bahwa ia mendapatkan pengalaman baru melalui workshop ini.
Baca juga: Flora Endemik Papua: Menelusuri Kekayaan Alam Indonesia Timur
“Aku dapat pengalaman baru tentang proses ecoprint. Mulai dari pemilihan daun sampai teknik mencetak motif alaminya. Selain itu, aku juga jadi lebih paham pentingnya menjaga lingkungan melalui hal-hal kreatif,” tambah Lusi.
Rangkaian Nirvana Roots UMN ECO menjadi langkah awal mahasiswa untuk peduli akan isu-isu lingkungan, terutama reforestasi. Melalui hal kecil, mahasiswa diajak untuk dapat membawa perubahan dengan konsisten.
Penulis: Faith Terresa Tiominar Tambunan
Editor: Celine Valleri
Foto: ULTIMAGZ/Febrian Dwianto




