Adrianto Sinaga Ajak Kenal Production Designer dalam Pekan Sinemasi 2018

Production Designer film Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 Adrianto Sinaga menjadi pembicara dalam salah satu seminar Pekan Sinemasi di Lecture Theatre Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada Jumat (02/11/18). Seminar bertajuk 'Production Design, Konsep, dan Industrinya' ini menjadi salah satu rangkaian acara yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Film dan Televisi (HMFTV) UMN. (ULTIMAGZ/Rafaela Chandra)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Pekan Sinemasi 2018 mengadakan seminar bertajuk Production Design, Konsep, dan Industrinya di Lecture Theater Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Jumat (02/11/18). Dalam seminar yang dihadiri oleh banyak mahasiswa jurusan Film dan Televisi (FTV) ini, peserta diajak untuk lebih mengenal bagaimana bekerja sebagai Production Designer (PD) dengan Adrianto Sinaga sebagai pembicara. 

Adrianto Sinaga merupakan seorang production designer film Wiro Sableng: Pendekar Kapak Maut Naga Geni 212 (Angga Sasongko, 2018) dan film yang akan rilis A Man Called Ahok (Putrama Tuta, 2018). 

Production designer itu designer untuk film, seakan menjadi arsitek dari semua elemen visual yang ditampilkan dalam sebuah film,” ujar Adrianto. Ia menjelaskan, tugas seorang production designer adalah membuat penonton percaya pada elemen visual dan latar suatu film. Singkatnya, production designer harus bercerita.

Adrianto memberi contoh gambaran sebuah kamar. Kamar tersebut kosong dan gelap, lalu ada barang-barang di dalamnya. Walaupun tidak terdapat aktor dalam latar tersebut, penonton harus sudah bisa menangkap, ‘Oh, ini cerita horor’.

“Bercerita yang berdasar pada screenplay atau bercerita dari skenario secara visual. Misalkan, ada karakter. Kamar, mobil, hingga dompetnya akan seperti gimana, itu harus diatur,” jelasnya lagi. Tidak hanya memikirkan dekorasi untuk suatu adegan, seorang production designer harus berpikir bagaimana latar tersebut punya suatu cerita yang bisa tersampaikan tanpa perlu diceritakan secara langsung.

Seorang production designer pun harus bekerja sama dengan sutradara dan sinematografer dalam membangun karakter film agar sesuai dengan cerita yang telah ditentukan. Dalam tugasnya bercerita, seorang production designer harus melihat sebuah cerita dari sudut pandang skenario dan sudut pandang kamera.

“Misalnya pengambilan gambar dengan kamera akan seperti apa nanti. Kalau kalian buat kamar, tapi kamar sebelahnya nggak akan diperlihatkan, ngapain kalian buat. Jadi, kita hanya membuat apa yang kita butuh untuk bercerita,” tegas pria lulusan Fakultas Seni Rupa Institut Kesenian Jakarta tersebut. Ia pun menambahkan bahwa membuat sebuah moodboard dapat membantunya menemukan inspirasi untuk latar sebuah film.

Adrianto pun bercerita sedikit mengenai asal-usul munculnya production designer.

“Istilah ‘production designer’ di Amerika pertama kali dipakai di film Gone With The Wind,” ceritanya. Production designer pada film tersebut membuat visualisasi adegan satu per satu dengan menggambar menggunakan storyboard. Lalu, saat proses pembuatan film dieksekusi sesuai storyboard dengan memerhatikan presisi. 

                                                                                                                            

Penulis: Rachel Rinesya Putri

Editor: Geofanni Nerissa Arviana

Foto: Rafaela Chandra