KomikFaktap Kenalkan Potensi Jurnalisme Komik di Seminar FORMASI

Ilustrator Komik Faktap Iskandar Salim berbagi ilmu tentang komik jurnalistik di Lecture Hall, Gedung C, Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada Rabu (10/04/19). (ULTIMAGZ/Sania Zelikha)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Pers mahasiswa independen asal Universitas Multimedia Nusantara (UMN) ULTIMAGZ menyelenggarakan acara bertajuk FORMASI untuk memperingati ulang tahunnya yang ke-11. Sebagai acara puncak, FORMASI mengadakan seminar Introducing To Comic Journalism on Millenials Era di Lecture Hall UMN pada Rabu (10/04/19). Mengundang komikus di balik akun @komikfaktap Iskandar Salim, seminar ini membahas mengenai potensi komik sebagai salah satu medium jurnalistik.

“Sepanjang pengalaman saya dari 2015 sampai sekarang itu, saya sadar bahwa komik tuh ternyata bisa jadi suatu medium untuk menyampaikan uneg-uneg kita, opini kita, atau bahkan juga bisa mempengaruhi orang,” ujar Iskandar.

Meski tergolong baru, penggunaan komik sebagai medium jurnalistik dinilai efektif. Sebab di zaman yang serba cepat ini, rentang perhatian manusia menjadi lebih singkat. Di era ini, visual menjadi cara tercepat untuk menyampaikan informasi kepada khalayak. Iskandar menuturkan bahwa sebenarnya manusia adalah makhluk visual, dan gambar lebih mudah diserap oleh otak dibanding kata-kata.

Di industri media sendiri, ada beberapa jurnalis yang terkenal karena komik-komik mereka, di antaranya Matt Bors dan Joe Sacco. Novel grafis Joe mengenai konflik Israel-Palestina, Footnotes in Gaza, bahkan menerima Ridenhour Book Prize pada 2010. Di Indonesia, kita mengenal kartunis seperti GM Sudarta dengan karakter Oom Pasikom, juga Benny Rachmadi dan Muhammad Misrad yang kerap kali mengkritik pemerintah dan masyarakat lewat kartun Benny & Mice.

Menurut Iskandar, kunci untuk membuat komik jurnalistik yang baik adalah dengan memperbanyak referensi dan ‘gudang’ inspirasi, baik dari menonton film, mendengarkan musik, maupun membaca. Selain itu, komikus harus percaya pada kemampuan intelektual audiensnya dan menahan diri untuk tidak membeberkan seluruh informasi yang ada. Dengan menahan sebagian informasi, audiens diajak berpikir sebelum akhirnya terjalin koneksi dan kesepahaman isi komik antara pembaca dan komikus.

“Pada saat pembaca itu menebak, ‘Oh, gue ngerti nih maksudnya. Kayak gini nih, gue ngerti maksud lo,’  mereka jadinya satu frekuensi sama kita, satu pemahaman sama kita, dan karena itu juga dengan sendirinya kita membangun ikatan dengan pembaca kita. Jadi itu reward buat pembaca maupun kita sebagai komikus. Itu bisa jadi modal kita untuk bangun fanbase,” tambah pria pengoleksi action figures ini.

Iskandar pun berpesan agar anak-anak muda yang tertarik menjadi komikus tidak takut untuk mencoba karena kini tersedia banyak platform digital yang bisa menjadi tempat berkarya, salah satunya media sosial. Terlebih, komik sedang naik daun dan sering dijadikan media alternatif untuk beriklan oleh berbagai merek ternama.

 

Penulis: Charlenne Kayla Roeslie

Editor: Nabila Ulfa Jayanti

Foto: Sania Zelikha