Najwa Shihab Ajak Jurnalis Muda Hadapi Revolusi Media di Era Digital

Najwa Shihab sebagai narasumber membahas mengenai "Bagaimana teknologi membuat perubahan?" dalam seminar Televisionair 2019, Senin (04/03/19) lalu di Function Hall Universitas Multimedia Nusantara (UMN). (ULTIMAGZ/Felisitasya Manukbua)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Media kampus UMN TV kembali membuka rangkaian acara Televisionair dengan menyelenggarakan seminar bertajuk People & Stories di Function Hall Universitas Multimedia Nusantara (UMN) pada Senin (04/03/19). Mengundang jurnalis senior sekaligus pendiri Narasi TV Najwa Shihab, seminar ini membahas mengenai perkembangan media di era digital.

“Teknologi mengubah begitu banyak hal dalam hidup kita, termasuk cara kita mengonsumsi informasi. Sekarang menjadi dua arah, sekarang menjadi tidak lagi hanya satu orang yang berpengaruh atau satu institusi yang berpengaruh. Semua orang bisa jadi penyampai informasi,” ujar Najwa.

Perkembangan teknologi memang membuat arus informasi semakin deras tak terbendung. Pola konsumsi informasi pun bergeser, masyarakat tak lagi menunggu informasi yang disodorkan kepada mereka, melainkan mencari tahu sendiri. Sebagai penyedia informasi, tugas jurnalis dan pembuat konten di era digital adalah menyediakan informasi yang punya kedalaman konteks serta informasi yang relevan dan terverifikasi sehingga memudahkan masyarakat untuk menentukan pilihan.

Di era revolusi digital, tak bisa dipungkiri bahwa media terseok-seok untuk tetap hidup. Media cetak dan penyiaran tradisional secara perlahan kehilangan konsumennya yang beralih ke media baru yang bergerak di ranah digital, seperti YouTube, portal berita daring, dan televisi streaming. Hal ini didukung dengan hasil survei Neilsen Consumer Media View 2018 yang menunjukkan bahwa 44% masyarakat Indonesia mengakses konten video melalui portal televisi daring.

Najwa menuturkan kunci jurnalis untuk tetap relevan di zaman yang serba cepat ini adalah dengan mengikuti perkembangan teknologi dan mempelajari keterampilan-keterampilan baru, tapi tidak terbatas pada itu. Setiap detik, teknologi baru muncul dan kemungkinan besar kemampuan jurnalis dalam mempelajarinya tidak akan bisa mengimbangi perkembangan teknologi itu sendiri.

“Jadi yang dibutuhkan sebetulnya bukan kemampuan kita menguasai satu aplikasi atau satu teknik tertentu, yang dibutuhkan sekarang adalah kemampuan kita untuk mau sabar dan telaten dan menjadi life-long learner,” ucapnya.

Wanita yang telah menggeluti profesi jurnalis selama 18 tahun ini pun berpesan agar jurnalis muda memandang perubahan sebagai sesuatu yang perlu dirangkul. Media dan jurnalis harus turut berubah dan terus belajar agar tidak ditinggalkan karena, mengutip Benjamin Franklin, ‘When you’re finished changing, you’re finished.’

Penulis: Charlenne Kayla Roeslie

Editor: Nabila Ulfa Jayanti

Foto: Felisitasya Manukbua