Seminar “Nasional is Me” Angkat Peran Jurnalis dalam Perangi Post-Truth

Michael Tjandra (kemeja hitam berkacamata) dan Astri Megatari (kemeja putih) yang berperan sebagai narasumber dalam seminar Nasional is Me, Senin (2/3/2020). Foto: ULTIMAGZ/Wiena Vedasari.Michael Tjandra (kemeja hitam berkacamata) dan Astri Megatari (kemeja putih) yang berperan sebagai narasumber dalam seminar Nasional is Me, Senin (2/3/2020). Foto: ULTIMAGZ/Wiena Vedasari.
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Seminar “Nasional is Me” membahas tentang pentingnya membiasakan perilaku disiplin verifikasi bagi pembaca dan jurnalis guna memerangi post-truth. Acara tersebut dilaksanakan Senin (02/03/20) di Lecture Theater Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

Dalam seminar tersebut, turut mengundang News Anchor RTV Michael Tjandra dan Government Public Relation Astri Megatari selaku narasumber. Menurut Michael, disiplin verifikasi  dapat menjadi payung masyarakat dalam menghadapi jutaan informasi yang beredar, yang belum terverifikasi kebenarannya. Selain itu, bagi jurnalis sendiri, disiplin verifikasi merupakan tanggungjawab dari profesi jurnalis yang membagikan informasi kepada masyarakat.

“Era informasi saat ini bisa dikatakan, mohon maaf, amburadul. Kami sendiri di newsroom harus mengecek dengan begitu banyak platform dan apps untuk menguji kebenaran setiap berita yang muncul di WA grup, di portal online, dan lain sebagainya,” ujar Michael dalam seminar ini.

Michael juga berpendapat bahwa saat ini, banyak sekali disruptif informasi. Era ini ditandai dengan penyebaran informasi yang berlangsung dengan cepat. Selain itu, masyarakat juga di-bombardir dengan banyaknya informasi yang beredar. Hal ini kemudian dimanfaat oleh oknum untuk membuat suatu pemahaman yang tidak terverifikasi kemudian dikatakan berulang kali, lalu hal itu akan mengakar di pikiran sebagian orang dan dianggap sebagai kebenaran.

“Dengan semakin canggihnya teknologi, semakin terpampang nyata dan jelas informasi-informasi yang tidak benar adanya. Kita sebagai jurnalis pantang dalam melakukan revisi. Lebih baik kita terlambat menginformasikannya, daripada kita salah menginformasikannya.” kata Michael

Di sisi lain, Astri memberikan sedikit gambaran mengenai sejarah era post-truth masuk ke Indonesia. “era post-truth di Indonesia sebenarnya diawali dengan polarisasi yang terjadi pada saat Pilpres 2014. Saat itu, kita ingat ada dua calon kuat, dan mulai dari situlah, polarisasi dalam masyarakat Indonesia itu terjadi.”

Astri mengatakan bahwa polarisasi ini kemudian membuat masyarakat Indonesia hanya memercayai berita yang mereka yakini sebagai kebenaran. Misalkan ada pendukung calon A kemudian ia membaca berita yang bernuansa negatif tentang calon A, pendukung tadi menganggap berita yang dibacanya adalah hoaks. Sebaliknya, bila ada berita negatif tentang calon B yang merupakan lawan dari calon A, berita negatif itu ‘digoreng’ habis-habisan.

“Jadi jurnalis itu modalnya satu, kemauan. Ketika era yang sekarang ini banyak informasi hoaks beredar, tugas kita semakin banyak, jadi enggak hanya riset. Kemauan yang akan membuat kita jauh melebihi jurnalis senior. Yang kedua adalah pendirian yang teguh karena banyak sekali arahan yang akan membuat kita terganggu ketika ketika memberikan informasi yang akurat,” kata Michael dalam penutup sesinya.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena V.

Editor: Agatha Lintang

Foto: Ida Ayu Putu Wiena V.