Sikapi Media Sosial dengan Tebar Kebaikan

(Kiri-Kanan) Teguh Santosa, Lady Noor Chita dan Ringgo Agus sebagai pembicara dalam talkshow 'Spread positive vibes in social media' yang diadakan oleh Communication Festival 2018. Acara tersebut diselenggarakan pada (01/10/18) di Function Hall, Universitas Multimedia Nusantara (UMN) Tangerang, Banten. (ULTIMAGZ/Felisitasya Manukbua)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Media sosial sudah jadi kebutuhan sehari-hari bagi generasi Z. Namun, penggunaannya harus dibatasi agar tidak merugikan orang lain. Melalui talkshow Communication Festival 2018 pada Senin (01/10/18), Ringgo Agus Rahman, Lady Noor Chita, dan Teguh Santosa berbagi cara menggunakan media sosial untuk menebar kebaikan.

Pemain film Ringgo Agus Rahman menuturkan dirinya tidak membatasi diri dari pengaruh media sosial, melainkan berusaha memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Media sosial, menurut Ringgo, kini memberi ruang yang sempit bagi privasi. Sebagai artis, kehidupan pribadi dan keluarganya pun sudah jadi konsumsi publik di Instagram.

“Mungkin generasi yang akan datang ada yang bertanya, ‘Bu, privasi itu apa?’ Dan bisa jadi musnahnya kata ‘Apa kabar’. ‘Masih hidupkah ini orang?’ Bisa dilihat karena posting-an barunya. Sekarang sudah jadi seperti itu,” kata Ringgo.

Meski demikian media sosial tak selalu memberi dampak negatif pada penggunanya. Bila seseorang mampu memanfaatkan peluang seperti untuk bisnis, penggunaan media sosial menjadi lebih positif. Alih-alih menjauhi media sosial, masyarakat hendaknya tetap memakai dengan bijak.

“Apa yang lu lihat mungkin bisa bikin sakit hati nantinya, kayak rumput tetangga lebih hijau. Itu akan selalu ada dan elu memang tidak bisa menanganinya. Ada saatnya lu menepi dari media sosial, enggak harus selalu setiap saat buka,” imbuh Ringgo.

Tak jarang, terpaan informasi kehidupan orang dari media sosial membuat penggunanya merasa rendah diri atau insecure. Sebab apa yang ditampilkan tak sesuai dengan realita hidup masing-masing. Founder Ibunda.id Lady Noor Chita mengiyakan hal tersebut. Baginya setiap orang harus mencintai diri sendiri agar tidak terpengaruh komentar maupun konten dari orang lain.

Hal itu bisa dimulai dari memahami nilai hidup sendiri serta menghindari rasa iri.

“Kalau kita taruh value kita di kehidupan orang lain, artinya ya enggak bisa seperti itu. Kita harus membentuk value kita sendiri. Dan tadi, dikomentari body shaming segala macam, kita punya hak untuk tidak menerima informasi itu. Walaupun pasti baper, tapi setidaknya kita berusaha untuk tidak menjadikan itu suatu hal yang matters,” kata Chita.

 

Penulis: Nabila Ulfa Jayanti

Editor: Hilel Hodawya

Foto: Felisitasya Manukbua