• About Us
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Advertise & Media Partner
  • Kode Etik
Thursday, March 5, 2026
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto
No Result
View All Result
ULTIMAGZ
No Result
View All Result
Home Event

Alasan Social-Platform ‘Menjadi Manusia’ Tak Keberatan Bahas Hal Tabu

Ignatius Raditya Nugraha by Ignatius Raditya Nugraha
August 30, 2019
in Event
Reading Time: 2 mins read
Alasan Social-Platform ‘Menjadi Manusia’ Tak Keberatan Bahas Hal Tabu

CEO Menjadi Manusia Rhaka Ghanisatria mengisahkan tentang perjalanannya mendirikan Menjadi Manusia di Satrio Tower Building, Kuningan, Jakarta Selatan pada Sabtu (24/08/19). Menurutnya, orang-orang tak perlu ke rumah sakit jiwa seperti dirinya dulu untuk mendapatkan ruang bercerita dan didengarkan. (ULTIMAGZ.COM/Anisa Arifah)

0
SHARES
1.9k
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – CEO social-platform Menjadi Manusia Rhaka Ghanisatria menceritakan alasan Menjadi Manusia tak keberatan membahas isu-isu sensitif atau pembicaraan yang masih dianggap tabu di Indonesia, seperti ateisme, LGBT, dan kisah percobaan bunuh diri. Melalui Inspira Class di Satrio Tower Building, Jakarta Selatan (24/08/2019) Rhaka bercerita soal lelahnya melihat orang-orang yang begitu close-minded (berpikiran tertutup) yang mudah menghujat mereka yang berbeda.

“Mengapa hal yang sensitif kami bahas? Karena ada yang mungkin merasa ‘Oh gua udah ngerti semua hal di dunia ini.’ Padahal, banyak hal yang belum diketahui. Itulah mengapa kami angkat orang yang gak percaya agama, orang yang transgender, orang yang mau bunuh diri, untuk mengingatkan lagi, manusia itu ada milyaran,” jelasnya. “Jadi, saya ingin orang-orang lebih open-minded.”

 “Melalui Menjadi Manusia, saya itu ingin mengatakan, dunia itu luas, dunia itu banyak manusianya,” tambah Rhaka.

Alasan untuk membahas isu-isu sensitif tersebut cocok dengan tujuan utamanya mendirikan Menjadi Manusia. Rhaka bercerita bahwa dirinya adalah penderita attention deficit disorder (ADHD) dan dulu merupakan seorang pecandu narkoba ilegal sehingga perlu dirawat di rumah sakit dalam jangka panjang. Di saat yang sama, kakaknya yang merupakan lulusan Universitas Indonesia sedang mengikuti berbagai studi dan lomba di luar negeri. Hal tersebut mendorong Rhaka untuk mendirikan Menjadi Manusia agar mempunyai ‘bisnis’ yang memberikan pengaruh bagi orang lain.

“Saya ingin ketika orang bertanya dan mencari jawaban (atas masalah masing-masing), maka mereka tidak perlu ke rumah sakit jiwa dulu,” tegas Rhaka.

CEO Menjadi Manusia itu mengemukakan bahwa ada tiga tahap di dalam social enterprise-nya. Pertama, acknowledge, mengetahi bahwa setiap orang mempunyai masalah dan itu tak mengapa. Hal ini dikarenakan manusia berjumlah milyaran dan cenderung mempunyai masalah yang sama sehingga tak ada yang sendirian.  Kedua, guidance. Menjadi Manusia menyediakan ruang support group atau grup penolong. Melalui ruang tersebut, orang-orang yang tak saling mengenal berkumpul dan saling bercerita mengenai permasalahan mereka.

Awalnya, pihak Menjadi Manusia cukup skeptis terhadap metode ini.

“Ternyata sekitar 75 persen orang menangis dan menceritakan masalah-masalah mereka. Ada yang mengalami kekerasan seksual oleh keluarganya atau ditinggal pacarnya saat hamil,” kata Rhaka. Menurutnya, ini adalah bukti bahwa orang-orang masih kekurangan ruang untuk bercerita dan didengarkan.

Ketiga, develop. Menjadi Manusia berwacana untuk memulai program “Belajar Hidup”. Nantinya, Menjadi Manusia akan bekerja sama dengan para psikolog untuk berbagi cara untuk menghadapi berbagai masalah dalam hidup.

“Selama ini kita hidup, di sekolah, kuliah, tak ada yang mengajarkan cara kita bangkit setelah mengalami kegagalan,” kata Rhaka memberikan alasan.

“Tujuan utama Menjadi Manusia adalah mendorong orang-orang menjadi lebih open-minded dan mengetahui bahwa mereka tidak sendirian,” tegas Rhaka.

Menjadi Manusia adalah media alternatif melalui Youtube dan media sosial sebagai ruang berbagi cerita bagi orang-orang yang mempunyai masalah atau pemikiran yang berbeda. Hingga kini, akun Youtube Menjadi Manusia telah mencapai 267.546 subscribers dan tiga video terpopuler Menjadi Manusia membahas mengenai transgender (1,9 juta penonton), kesehatan mental (714 ribu penonton), dan toleransi beragama (580 ribu penonton).

 

Penulis: Ignatius Raditya Nugraha

Editor: Nabila Ulfa Jayanti

Foto: Anisa Arifah

Tags: AteismeInspira ClassKesehatan MentalMenjadi Manusiatransgender
Ignatius Raditya Nugraha

Ignatius Raditya Nugraha

Related Posts

Pemenang D&AD New Blood 2025 (wa.campaignbrief.com)
Event

D&AD Pencil: Alat Generasi Muda untuk Menulis Karir di Industri Kreatif

February 13, 2026
HUNT
Event

Mahasiswa UMN Gelar Treasure Hunt di Kampus lewat HUNT UMN 2025

December 9, 2025
Karya dari Satu Collective pada ADGI Design Week 2025.
Event

ADGI Design Week 2025: Lebaran Anak Desain Kembali Tahun Ini

December 6, 2025
Next Post
Hasil Drawing Grup Liga Champion 2019/2020 Kembali Hadirkan Grup Neraka

Hasil Drawing Grup Liga Champion 2019/2020 Kembali Hadirkan Grup Neraka

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 + twelve =

Popular News

  • wawancara

    Bagaimana Cara Menjawab Pertanyaan ‘Klise’ Wawancara?

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Risa Saraswati Ceritakan Kisah Pilu 5 Sahabat Tak Kasat Matanya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kisah Ivanna Van Dijk Sosok Dari Film ‘Danur 2 : Maddah’

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Gading Festival: Pusat Kuliner dan Rekreasi oleh Sedayu City

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Merasa Depresi? Coba Cek 4 Organisasi Kesehatan Mental Ini!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Pages

  • About Us
  • Advertise & Media Partner
  • Artikel Terbar-U
  • Beranda
  • Kode Etik
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Ultimagz Foto
  • Disabilitas

Kategori

About Us

Ultimagz merupakan sebuah majalah kampus independen yang berlokasi di Universitas Multimedia Nusantara (UMN). Ultimagz pertama kali terbit pada tahun 2007. Saat itu, keluarga Ultimagz generasi pertama berhasil menerbitkan sebuah majalah yang bertujuan membantu mempromosikan kampus. Ultimagz saat itu juga menjadi wadah pelatihan menulis bagi mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (FIKOM) UMN dan non-FIKOM.

© Ultimagz 2021

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Info Kampus
    • Berita Kampus
    • Indepth
  • Hiburan
    • Film
    • Literatur
    • Musik
    • Mode
    • Jalan-jalan
    • Olahraga
  • Review
  • IPTEK
  • Lifestyle
  • Event
  • Opini
  • Special
    • FOKUS
    • PDF
  • Artikel Series
  • Ultimagz Foto

© Ultimagz 2021