Alasan Social-Platform ‘Menjadi Manusia’ Tak Keberatan Bahas Hal Tabu

CEO Menjadi Manusia Rhaka Ghanisatria mengisahkan tentang perjalanannya mendirikan Menjadi Manusia di Satrio Tower Building, Kuningan, Jakarta Selatan pada Sabtu (24/08/19). Menurutnya, orang-orang tak perlu ke rumah sakit jiwa seperti dirinya dulu untuk mendapatkan ruang bercerita dan didengarkan. (ULTIMAGZ.COM/Anisa Arifah)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – CEO social-platform Menjadi Manusia Rhaka Ghanisatria menceritakan alasan Menjadi Manusia tak keberatan membahas isu-isu sensitif atau pembicaraan yang masih dianggap tabu di Indonesia, seperti ateisme, LGBT, dan kisah percobaan bunuh diri. Melalui Inspira Class di Satrio Tower Building, Jakarta Selatan (24/08/2019) Rhaka bercerita soal lelahnya melihat orang-orang yang begitu close-minded (berpikiran tertutup) yang mudah menghujat mereka yang berbeda.

“Mengapa hal yang sensitif kami bahas? Karena ada yang mungkin merasa ‘Oh gua udah ngerti semua hal di dunia ini.’ Padahal, banyak hal yang belum diketahui. Itulah mengapa kami angkat orang yang gak percaya agama, orang yang transgender, orang yang mau bunuh diri, untuk mengingatkan lagi, manusia itu ada milyaran,” jelasnya. “Jadi, saya ingin orang-orang lebih open-minded.”

 “Melalui Menjadi Manusia, saya itu ingin mengatakan, dunia itu luas, dunia itu banyak manusianya,” tambah Rhaka.

Alasan untuk membahas isu-isu sensitif tersebut cocok dengan tujuan utamanya mendirikan Menjadi Manusia. Rhaka bercerita bahwa dirinya adalah penderita attention deficit disorder (ADHD) dan dulu merupakan seorang pecandu narkoba ilegal sehingga perlu dirawat di rumah sakit dalam jangka panjang. Di saat yang sama, kakaknya yang merupakan lulusan Universitas Indonesia sedang mengikuti berbagai studi dan lomba di luar negeri. Hal tersebut mendorong Rhaka untuk mendirikan Menjadi Manusia agar mempunyai ‘bisnis’ yang memberikan pengaruh bagi orang lain.

“Saya ingin ketika orang bertanya dan mencari jawaban (atas masalah masing-masing), maka mereka tidak perlu ke rumah sakit jiwa dulu,” tegas Rhaka.

CEO Menjadi Manusia itu mengemukakan bahwa ada tiga tahap di dalam social enterprise-nya. Pertama, acknowledge, mengetahi bahwa setiap orang mempunyai masalah dan itu tak mengapa. Hal ini dikarenakan manusia berjumlah milyaran dan cenderung mempunyai masalah yang sama sehingga tak ada yang sendirian.  Kedua, guidance. Menjadi Manusia menyediakan ruang support group atau grup penolong. Melalui ruang tersebut, orang-orang yang tak saling mengenal berkumpul dan saling bercerita mengenai permasalahan mereka.

Awalnya, pihak Menjadi Manusia cukup skeptis terhadap metode ini.

“Ternyata sekitar 75 persen orang menangis dan menceritakan masalah-masalah mereka. Ada yang mengalami kekerasan seksual oleh keluarganya atau ditinggal pacarnya saat hamil,” kata Rhaka. Menurutnya, ini adalah bukti bahwa orang-orang masih kekurangan ruang untuk bercerita dan didengarkan.

Ketiga, develop. Menjadi Manusia berwacana untuk memulai program “Belajar Hidup”. Nantinya, Menjadi Manusia akan bekerja sama dengan para psikolog untuk berbagi cara untuk menghadapi berbagai masalah dalam hidup.

“Selama ini kita hidup, di sekolah, kuliah, tak ada yang mengajarkan cara kita bangkit setelah mengalami kegagalan,” kata Rhaka memberikan alasan.

“Tujuan utama Menjadi Manusia adalah mendorong orang-orang menjadi lebih open-minded dan mengetahui bahwa mereka tidak sendirian,” tegas Rhaka.

Menjadi Manusia adalah media alternatif melalui Youtube dan media sosial sebagai ruang berbagi cerita bagi orang-orang yang mempunyai masalah atau pemikiran yang berbeda. Hingga kini, akun Youtube Menjadi Manusia telah mencapai 267.546 subscribers dan tiga video terpopuler Menjadi Manusia membahas mengenai transgender (1,9 juta penonton), kesehatan mental (714 ribu penonton), dan toleransi beragama (580 ribu penonton).

 

Penulis: Ignatius Raditya Nugraha

Editor: Nabila Ulfa Jayanti

Foto: Anisa Arifah