Cheta Nilawaty: Representasi Penyandang Disabilitas Masih Belum ‘Pas’

Cheta Nilawaty (berkerudung abu-abu) berbagi cerita sebagai wartawan Tempo yang juga penyandang disabilitas netra di Ngobrol Sabtu: Media dan Disabilitas, Sabtu (16/02/19). (ULTIMAGZ/Nabila Ulfa Jayanti)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com—Remotivi bekerjasama dengan Jakarta Barrier Free Tourism (JBFT) menyelenggarakan diskusi bertajuk “Ngobrol Sabtu: Media dan Disabilitas” pada Sabtu (16/02/19) di Ruang & Tempo Co-working Space, Gedung Tempo. Berfokus pada representasi masyarakat disabilitas di media pada umumnya, wartawan tunanetra Tempo Cheta Nilawaty juga turut hadir sebagai salah satu pembicara dalam diskusi ini.

Ketika terpaksa kehilangan indera penglihatannya pada 2016 silam, Cheta sempat mengalami masa-masa kesulitan sebagai seorang tunanetra. Sebelumnya, ia jarang atau bahkan tidak pernah bersinggungan dengan para penyandang disabilitas.

Berkat para seniornya yang pernah berinteraksi dengan mereka, ia pun mulai belajar untuk hidup dengan kondisinya sekarang, terutama melalui komunitas yang ia temui.

Menurut Cheta, representasi kelompok disabilitas dalam media masih dianggap kurang benar. Ia menilai bahwa representasi yang dilakukan saat ini merupakan perwakilan stigma yang dibangun oleh masyarakat. Stigma tersebut menunjukkan bahwa kelompok disabilitas masih cenderung dilebih-lebihkan (overestimate) atau diremehkan (underestimate) di media, baik di media berita maupun non-berita.

“Karena memang menurut saya benar, itu merepresentasikan, tapi representasi ini memang lebih untuk menjelaskan, karena kalau memaparkan fakta secara telanjang saya yakin tidak akan ada yang bisa membaca kondisi atau fakta sebenarnya dari keadaan disabilitas itu sendiri,” tuturnya.

Sebagai seorang wartawan Tempo, Cheta bersyukur karena ia mampu bekerja di ruang kerja yang kondusif dan terbuka terhadap siapapun. Pasalnya, Tempo juga telah membuat kanal khusus bagi masyarakat disabilitas yang ingin menyuarakan cerita atau pendapat mereka. Kanal ini juga terbit berkat tujuan Cheta untuk mendeskripsikan fakta sebenarnya seputar masyarakat disabilitas.

“Mereka membuatkan kanal khusus kayak ‘Ini, loh, ada forumnya untuk bicara’,” jelasnya. “Kami dari Tempo, menurut saya, sangat dengan senang hati menerima berbagai isu, cerita, yang sifatnya tidak fiktif tentunya, tanpa mengabaikan prinsip-prinsip jurnalisme,”

Meski masih dalam tahap proses, Cheta berharap bahwa penyandang disabilitas lebih dapat dianggap setara dengan masyarakat lain untuk ke depannya. Ia juga memotivasi mereka untuk terus menyuarakan isi hati mereka agar lebih didengar di ranah publik.

“Kita bikin forum yang memang bisa menyuarakan ini, lalu bersuaralah sekeras-kerasnya, segamblang-gamblangnya, senyata-nyatanya, keadaan apa yang dirasakan,” kata Cheta.

Penulis: Audrie Safira Maulana

Editor: Nabila Ulfa Jayanti

Foto: Nabila Ulfa Jayanti