Disney Indonesia & Pixar Studio Gelar Drawing & Workshop ‘The Incredibles 2’

The Incredibles 2 Drawing & Workshop dipandu oleh Shading Art Director Pixar Animation Studio, Bryn Imagire, yang berlokasi di Lippo Mall Puri, Jakarta Barat, Kamis (07/06/2018). (ULTIMAGZ/Gabriela Vivien)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Menyambut sekuel The Incredibles, Disney Indonesia bersama dengan Pixar Studio menggandeng Shading Art Director Bryn Imagire dalam acara bertajuk “The Incredibles 2 Drawing & Workshop” di Theater 2 Cinema XXI, Lippo Mall Puri, Jakarta Barat, pada Kamis (07/06/2018). Kegiatan yang tidak dipungut biaya ini dihadiri oleh lebih dari 250 mahasiswa dari enam universitas di Jakarta dan sekitarnya, salah satunya adalah Universitas Multimedia Nusantara (UMN).

Kegiatan diawali dengan pemutaran trailer The Incredibles 2 yang disambut dengan gelak tawa peserta workshop pada beberapa adegan di dalamnya. Kegiatan langsung dilanjutkan dengan sesi presentasi dan workshop yang dipimpin langsung oleh animator yang akrab disapa Bryn itu.

Dalam sesi presentasi dan workshop, Bryn banyak berbicara tentang teknis saat mengerjakan film The Incredibles 2. Dari mulai gambar-gambar inspirasi awal untuk setiap set dan properti film yang ia dapat dari berbagai observasi dan penelitian, hingga hasil final dari setiap set dan properti yang digunakan dalam film tersebut.

Oleh karenanya, dalam sesi ini seluruh media dan peserta yang hadir tidak diperbolehkan untuk mengabadikan momen menggunakan gawai atau kamera digital karena dikhawatirkan akan membocorkan hal-hal detail mengenai film yang baru akan tayang di Indonesia pada 14 Juni 2018 mendatang.

Menurut animator yang lahir dan dibesarkan di Sacramento, California, Amerika Serikat ini, seorang animator harus memiliki prinsip berpikir general to detail. Karena nantinya animator harus memikirkan keseluruhan isi set dan properti hingga bagian motif dan tone warnanya. Bryn mencontohkan ia harus mencari referensi suasana kota, gaya bangunan, eksterior maupun interior rumah pada era mid century dan harus menentukan motif hingga tone warna yang cocok dengan film yang sedang digarapnya.

Sebagai Costume Designer, Bryn pun diharuskan membuat berbagai macam kostum untuk masing-masing karakter. Menurutnya, membuat kostum untuk film animasi itu lebih sulit karena ia harus membuat model dan menentukan sendiri motif atau pattern yang akan digunakan.

Namun, berkat perkembangan teknologi semenjak film pertama The Incredibles dirilis tahun 2004, Bryn dan tim produksi dapat mempunyai software yang bisa memudahkan pekerjaan mereka selama menggarap The Incredibles 2.

Bryn mengatakan jika dalam dunia animasi “nothing is for free”. Setiap karya animasi harus dibayar oleh para tim produksinya dengan observasi, penelitian, dan produksi yang serius, sehingga pesan, tampilan, serta suasana dalam film tersebut dapat sampai kepada penontonnya.

Para mahasiswa yang hadir telihat antusias selama kegiatan berlangsung. Memang kebanyakan mahasiswa berasal dari jurusan animasi, sehingga relevan sekali materi ataupun pengalaman yang disampaikan Bryn. Tiga mahasiswi Fakultas Film jurusan Animasi asal UMN, Dina Gracia, Fionna Odelia, dan Keisha Antony pun mengungkapkan hal serupa.

Menurut Fionna dan Keisha, pengalaman yang disampaikain Bryn berkaitan dengan mata kuliah yang mereka pelajari. Misalnya, saat mendapat mata kuliah Visual Art Composition yang mempelajari tentang mood color pada suatu set dan landscape yang memiliki peran penting dalam film animasi.

“Walaupun pendek, banyak pengalaman yang bisa aku dapat dari beliau. Jadi kita tahu cara proses bagaimana satu film dibuat dengan sangat rumit, misalnya dari kostum desain dan background. Ternyata nggak gampang buat satu film, harus banyak effort dan memperhatikan detail-detailnya,” ungkap Dina.

Kegiatan dilanjutkan dengan sesi drawing. Masih dipandu oleh Bryn, para peserta diajak untuk membuat karakter dalam film The Incredibles 2 seperti Jack Jack, Helen, dan Edna. Kegiatan ini diakhiri dengan sesi tanda tangan poster The Incredibles 2 dan foto bersama dengan Bryn.

 

Penulis: Galuh Putri Riyanto

Editor: Gilang Fajar Septian

Foto: Gabriela Vivien