Geliat Nafsu di Ladang Tebu: Keluarga Disfungsional di Tanah yang Tercemar

Heryana G. Benu sebagai Kurdi dan Mohamad Yusuf sebagai Judin dalam salah satu pentas Helateater Salihara 2019 bertajuk "Geliat Nafsu di Ladang Tebu" yang diselenggarakan pada Sabtu (30/03/19) dan Minggu (31/03/19) di Komunitas Salihara. (Foto: Komunitas Salihara)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com—Pentas bertajuk “Geliat Nafsu di Ladang Tebu” yang diadakan pada Sabtu (30/03/19) dan Minggu (31/03/19) di Komunitas Salihara menjadi pentas kedua dari rangkaian acara Helateater Salihara 2019. Diperankan oleh kelompok teater asal Bandung Teater Gedor, pentas ini merupakan sebuah adaptasi dari naskah berjudul “Desire Under the Elms” karya Eugene O’Neill.

Pentas berdurasi kurang lebih 120 menit ini mengisahkan tentang seorang petani bernama Sugram Sutar dan ketiga anaknya—Judin, Kurdin, dan Aris. Dalam kegiatan sehari-harinya, Judin dan Kurdin bekerja di sebuah lahan pertanian tebu milik Sutar, yang sudah berada dalam kondisi rusak penuh dengan limbah plastik. Di sisi lain, Aris yang menggantikan posisi Ibunya yang telah meninggal, bekerja di dalam rumah. Mereka juga tengah dihadapkan pada konflik asmara dan perebutan tanah berupa lahan pertanian tersebut, terutama ketika Mardiyah, istri baru dari Sutar, datang ke rumah.

“Geliat Nafsu di Ladang Tebu” menekankan pada emosi berupa hawa nafsu yang tak terkendali. Adanya emosi yang digambarkan oleh masing-masing karakter tersebut mengakibatkan peristiwa buruk yang terjadi dalam keluarga mereka. Sementara itu, sikap keserakahan juga kerap ditunjukkan sebagai tema utama dalam beberapa adegan, terutama dalam konflik perebutan lahan antara Sutar, Mardiyah, dan Aris.

Penyampaian dialog yang kuat serta kemampuan akting yang apik dari setiap pemain membuat suasana intens pentas ini semakin terasa. Meski berasal dari naskah yang tergolong lama, hasil terjemahan dan saduran serta pembawaan para pemain pun berhasil menyampaikan makna cerita kepada para penonton yang hadir pada malam itu. Adapun hal unik dalam pentas ini adalah latar panggung dan pakaian para pemain yang terbuat dari plastik, seakan-akan membaur dengan cerita yang disampaikan.

Teater Gedor sendiri adalah satu dari empat kelompok teater yang terpilih melalui proses Undangan Terbuka sebelum resmi tampil di Helateater Salihara 2019. Dengan mengusung tema Teater Adaptasi, keempat kelompok tersebut akan mementaskan adaptasi dari beberapa naskah asing yang telah dibaur dengan budaya Indonesia. Perhelatan yang berlangsung sejak 2014 silam ini juga akan menampilkan dua “pentas tugas akhir” dari peserta Kelas Akting Salihara 2019 sebagai penutupnya.

 

Penulis: Audrie Safira Maulana

Editor: Nabila Ulfa Jayanti

Foto: Komunitas Salihara