ICN Festival Ajarkan Jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

(kiri-kanan) Moderator Sasti Hapsari Nurdiana, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise, Duta Besar Luar Biasa Republik Indonesia di Kolumbia Michael Manufandu dan Putri Indonesia Lingkungan 2018 Vania Firtiyanti Herlambang hadir dalam seminar ICN Festival 2018 bertajuk "Tuan Rumah di Negeri Sendiri" yang dilaksanakan pada Sabtu (12/05/18) di Audiotarium Gedung William Soeryadjaya, Universitas Prasetiya Mulya. (ULTIMAGZ/Evan Andraws)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – ICN Festival 2018, yang merupakan acara puncak dari ICN 2018 telah diselenggarakan di Audiotarium Gedung William Soeryadjaya, S1 Universitas Prasetiya Mulya, Sabtu (12/05/18) pekan lalu. Mengangkat tema “Akselerasi”, ICN mengadakan dua sesi seminar dalam penutupan rangkaian acaranya.

Sesi pertama yang bertajuk Tuan Rumah di Negeri Sendiri dihadiri oleh tiga narasumber, yakni Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise, Duta Besar Luar Biasa Republik Indonesia di Kolumbia Michael Manufandu dan Putri Indonesia Lingkungan 2018 Vania Fitrayanti. Seminar ini dimoderatori oleh Ketua Abang None Jakarta Sasti Hapsari.

Pada sesi pertama, para narasumber menekankan bagaimana generasi muda Tanah Air bisa lebih cinta dan bangga terhadap negaranya. Caranya pun bisa dilakukan lewat berbagai hal kecil, seperti lebih mencintai bahasa Indonesia.

Menekankan pada sumpah ketiga Sumpah Pemuda, menurut Michael, berbahasa satu bahasa indonesia itu penting. Ia menyayangkan masih banyak generasi muda yang lebih cenderung menggunakan bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia.

“Negara kita ini luas, kita itu punya sekitar 11.500 kepulauan yang memiliki bahasa sendiri-sendiri. Dan yang menyatukan negara kita adalah bahasa Indonesia. Kenapa kita nggak pakai bahasa satu kesatuan kita?,” kata Michael.

Michael bercerita tentang negara Kolumbia, yang warga negaranya terkenal sangat bangga dengan identitas mereka sebagai penduduk dari negara Amerika Selatan tersebut. Dengan aneka ragam suku dan bahasa di Indonesia, Michael menganggap bukan bahasa Inggris lah yang seharusnya menjadi bahasa penyatu, melainkan bahasa Indonesia.

Mendukung pernyataan Duta Besar Indonesia di Kolumbia, Vania juga berpendapat bahwa generasi muda harus bangga dengan negaranya sendiri.

“Bangga dengan negara kita sendiri, bangga dengan kekayaan budaya, suku, agama dan juga makanannya,” ujar Vania sembari tersenyum.

Vania juga mengatakan, para generasi muda bisa membantu mempromosikan nama Indonesia dengan cara mengembangkan bermacam potensi yang ada pada masing-masing individu. Ia mengambil contoh tentang teknologi di Indonesia, dimana kebanyakan gawai yang dimiliki oleh generasi muda merupakan merk luar negeri. Menurutnya, akan membanggakan bila insan Indonesia bisa menghasilkan gawai untuk rakyatnya.

Yohana pun juga meyakini bahwa para peserta yang mayoritasnya berasal dari kalangan mahasiswa, bisa memulai hal-hal yang menumbuhkan rasa nasionalis untuk kedepannya.

“Kalian yang akan menjadi agent of change. Kalian yang akan menjadi messenger of peace. Jangan lihat yang lain-lain dulu, Indonesia harus berdamai, bisa bersatu sehingga ke depannya negara ini bisa menjadi lebih baik lagi,” terang Yohana.

 

Penulis: Rachel Rinesya

Editor: Gilang Fajar Septian

Foto: Evan Andraws