Pentas Robin of Sherwood: Gesa Karakter dan Hujan Satire Politik

Loxely yang diperankan oleh Adrianus Eduardo berlakon dalam pementasan ke-54 Teater Katak yang berjudul "Robin of Sherwood" di Gedung Kesenian Jakarta, Minggu (13/05/18). (ULTIMAGZ/Devonseta)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com — Teater KataK kembali menyuguhkan pentas besar pada produksinya yang ke-54. Bertajuk Robin of Sherwood, KataK berupaya menyulap stigma dan ide cerita kebangsaan Inggris yang dikaitkan dengan situasi di zaman ini.

Seperti pementasan yang sebelum-sebelumnya, KataK masih mengangkat tema kisah dari luar negeri. Usai dalam dua tahun terakhir mengangkat latar Mesir dan Prancis dalam lakon Cleopatra (2017) dan Les Misérables (2016), kini giliran latar Inggris yang menjadi tonggak utama dalam kisah Robin of Sherwood.

Berkisah pada awal abad ke-12, ada kekosongan kekuasaan saat Raja Inggris Richard “the Lionheart” pergi ke medan perang. Adik dari Pangeran Inggris, John, mengambil kesempatan ini untuk naik tahta.

Dengan dalil membela rakyat kecil yang tertindas, seorang pemuda bangsawan Inggris Loxely melawan kekuatan Pangeran Inggris dan pemerintah. Cerita berlanjut dengan perlawanan-perlawanan sengit antar kedua kubu: The Robins (termasuk Loxely) dan Pemerintah King John.

Berawal dengan metafora hiruk pikuk naiknya John sebagai raja, pentas berlanjut dengan plot yang lambat di mana akhirnya menjelma pada lingkaran kisah cinta Loxely dan Marion, kebimbangan karakter Sheriff, hingga etikat bodoh King John.

Kemunculan tokoh prajurit pada beberapa paruh berikutnya, membangun energi yang cukup menggembirakan.

Dua prajurit yang ingin menyita tanah dari keluarga Loxely sempat membangkitkan tawa pertama di paruh awal cerita. Meski dengan harapan lebih, usai adegan tersebut, dua karakter prajurit itu harus lenyap dan membaur dengan prajurit lainnya.

Adegan dua prajurit yang diutus Sheriff untuk menyita tanah milik keluarga Loxely.

Bersamaan dengan berlanjutnya perjalanan Loxely, kemunculan tokoh-tokoh lain pun terus terjadi, dan kadang seolah menghasilkan gesaan paksa untuk memenuhi keramaian panggung semata.

Contoh, hadirnya karakter tante girang (Antonius Willson dan Diana Valencia), mengarah sebagai pengikut atau dayang-dayang King John, namun berakhir sebagai karakter yang kurang memiliki visi atau sebagai komponen peramai saja.

Kisah ini juga menggaris besarkan kisah bertemunya Loxely dengan seorang perempuan bangsawan bernama Marion (Angelina Arcana). Dalam pencitraannya, Angelina terbilang sukses mendefinisikan  Marion sebagai perempuan yang berani dan menggebu-gebu.

Lain lagi dengan kebimbangan karakter yang tersorot pada Sheriff (Adhimukti Prabhawa). Pembawaannya memiliki iktikat dan tujuan yang penting, tetapi loncatan cerita yang mengagetkan justru membawa sang tokoh menjadi kehilangan visinya di paruh akhir cerita.

Namun, dengan loncatan ekstrem tersebut, karakter Sheriff setidaknya telah berhasil menyampaikan beberapa penggalan dialog satire yang bermakna cukup dalam dan membuat para penonton terhenyak.

Bangunan Dialog Satire dan Hubungan Situasi Zaman

Selama lebih dari dua jam yang terbagi dalam dua babak, akan terasa lelah apabila tidak ada komedi atau satire lepas yang dihadirkan sebagaimana keterkaitan cerita yang telah dibangun.

Beberapa karakter Robin berhasil menggunakan kata-kata yang piawai sebagai sindiran di mana kondisi cerita sangatlah sayang apabila tidak dikaitkan dengan topik yang banyak diperbincangkan saat ini, yakni politik.

Penggalan-penggalan dan “muntahan” sindir dari beberapa aktor memang terus terlontar pada beberapa paruh, namun piawainya dialog tersebut dapat terbalas dengan baik dan tidak menjadi sia-sia.

Selain berbicara soal politik dengan porsi minim, di beberapa bagian Robin juga telah mengundang untuk menyaksikan metafora isu-isu sekitar. Beberapa yang terangkat jelas adalah masalah kesejahteraan rakyat, pembayaran pajak, diskriminasi pada golongan lain, kekuasaan yang membutakan, hingga kesenjangan sosial.

Setiap paruh cerita memiliki makna yang sekiranya dapat menghasilkan pesan-pesan singkat yang memiliki koneksi dengan situasi masa kini, meskipun terasa hanya sesaat dan tidak begitu membekas.

Setidaknya, isu-isu sosial yang berhasil diangkat dan tersampaikan melalui Robin of Sherwood dapat menjadi cerminan untuk masyarakat—bahwa kenyataan akan terus mengikat sejalan dengan hadirnya solusi, dan tak lepas dari perselisihan untuk dapat diselesaikan.

 

Diulas berdasarkan Pentas Teater KataK Robin of Sherwood pada Minggu, 13 Mei di Gedung Kesenian Jakarta.

 

Penulis: Felix

Editor: Gilang Fajar Septian

Fotografer: Devonseta