“Bridgerton” Tampilkan Perjuangan Perempuan Raih Haknya

Daphne Bridgerton, tokoh utama dalam serial "Bridgerton".
Daphne Bridgerton, tokoh utama dalam serial "Bridgerton". (Foto: ugolini.co.th)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com — Bridgerton merupakan serial yang menceritakan kehidupan para aristokrat London, khususnya dari sudut pandang perempuan saat musim perjodohan tiba pada tahun 1800-an.  Setiap tokoh perempuan di dalamnya memegang prinsip yang beragam dan menjadikan jalan cerita Bridgerton semakin menarik dan penuh pesan moral.

Beberapa tokoh perempuan muda dalam Bridgerton seperti Daphne Bridgerton (Phoebe Dynevor),  Eloise Bridgerton (Claudia Jessie), dan Penelope Featherington (Nicola Coughlan) benar-benar menunjukkan perbedaan prinsip yang kontras. Namun, di balik perbedaan mereka, ketiga gadis tersebut sama-sama memperjuangkan hak mereka sebagai perempuan.

Daphne Bridgerton

DaphneBridgerton
Daphne Bridgerton dalam suatu acara pesta di salah satu episode serial “Bridgerton” (Foto: kompas.com)

Daphne merupakan putri tertua dari keluarga bangsawan Bridgerton yang mempresentasikan standar sempurna seorang perempuan dalam dunia perjodohan bangsawan yang kompetitif dan memiliki banyak aturan. Karena kecantikan fisik dan sikapnya yang sesuai standar sosial, Daphne pun menjadi permata yang paling diincar para pria.

Besar dengan melihat kedua orang tuanya yang saling mencintai dan hidup berbahagia, Daphne ingin mencapai kebahagiaan hidup pernikahan yang sama seperti ibunya, Violet Bridgerton (Ruth Gemmell). Oleh karena itu, Daphne sangat gembira menyambut masa perjodohannya dan tidak sabar menemukan suami untuk membentuk keluarga yang penuh cinta.

“Ibu dan ayah, kalian berdua sungguh indah, Ibu. Itu yang kuinginkan. Aku berharap bisa menemukan [cinta] yang seperti itu,” kata Daphne kepada ibunya dalam suatu adegan.

Sayangnya, kakak laki-lakinya, Anthony Bridgerton (Jonathan Bailey), selalu menyingkirkan para pria yang datang melamar Daphne. Lebih parahnya lagi, ia juga membuat kesepakatan perjodohan Daphne bersama pria tua yang tidak disukai Daphne. Aksi Anthony ini membuat masa perjodahan Daphne tidak berjalan dengan baik dan tidak ada pria yang mau melamarnya. Merasa haknya sebagai perempuan untuk dapat memilih tidak dihargai, Daphne mencari cara untuk mendapatkan haknya tersebut dan mimpinya untuk menikah karena cinta.

Eloise Bridgerton 

EloiseBridgerton
Eloise Bridgerton di dalam rumahnya di salah satu episode serial “Bridgerton” (Foto: townandcountrymag.com)

Eloise Bridgerton adalah adik perempuan Daphne yang berkepribadian sangat berbeda dengannya. Tak jarang, kedua saudara ini beradu pendapat. Eloise adalah perempuan cerdik yang percaya bahwa perempuan juga memiliki takdir besar, lebih dari sekadar menikah muda dan menjaga rumah.

“Memiliki wajah yang bagus dan rambut yang indah bukanlah sebuah pencapaian. Tahukah kamu apa itu pencapaian? Masuk universitas!” tuturnya.

Pemikirannya yang unik pada era itu semakin menggebu-gebu karena kehadiran Lady Whistledown, sang wanita misterius penulis surat kabar gosip yang terkenal di kalangan aristokrat London. Ia melihat Lady Whistledown sebagai wanita sukses yang independen dan bahagia tanpa seorang pria. Mengetahui ada wanita sebebas Lady Whistledown, Eloise optimis dapat menjadi seperti idolanya.

Meski begitu, Eloise harus berjuang menghadapi kenyataan bahwa lingkungan sosialnya tidak mendukung mimpi suksesnya. Masyarakat era tersebut menganggap perempuan yang tidak menikah sebagai perempuan gagal. Oleh sebab itu, gadis-gadis sudah diajarkan dan dipersiapkan hanya untuk menikah sedari kecil.

Penelope Featherington

PenelopeFeatherington
Penelope Featherington di salah satu episode “Bridgerton” (Foto: thenews.com)

Sama seperti Eloise, sahabatnya, Penelope Featherington adalah gadis yang cerdik dan juga baik hati. Berbeda dengan Eloise yang sama sekali tidak tertarik dengan percintaan, Penelope masih berkeinginan untuk menikah, sama seperti perempuan-perempuan lain. Sayangnya, skandal buruk terjadi dan mencoreng nama keluarga Featherington. Hal ini membuat Penelope sedih karena peluangnya untuk sukses mencari pasangan menjadi semakin kecil. Apalagi, dirinya juga harus menghadapi perilaku buruk dari orang sekitarnya karena ia dianggap tidak memenuhi standar kecantikan.

Sekilas, Penelope terlihat seperti tokoh yang biasa saja. Rapuh, bahkan. Namun, di balik kepolosan, kekikukan, dan kelembutan hatinya, Penelope memiliki ambisi besar untuk hidup mandiri. 

Karakter Penelope seperti gabungan dari Daphne dan Eloise. Ia ingin bahagia dalam pernikahan dan sukses berkarir di saat yang sama. Penelope membuktikan bahwa perempuan seharusnya mempunyai hak yang sama untuk bisa melakukan apa saja seperti laki-laki. Tidak ada salahnya jika seorang perempuan memilih untuk menikah ataupun tidak menikah. Tidak ada salahnya juga jika seorang perempuan ingin menikah sembari mempunyai karir yang tinggi.

Serial Bridgerton merupakan karya adaptasi dari novel seri berjudul sama karya Julia Quinn yang dirilis oleh Netflix pada 25 Desember 2020. Bukan sekadar drama percintaan, serial produksi Shondaland ini juga menyelipkan isu rasial, keluarga, kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, edukasi seks, dan banyak hal lain di dalamnya. Meski berlatar tahun 1800-an, masalah-masalah yang diangkat oleh Bridgerton masih terasa relevan pada masa kini.

Penulis: Vellanda

Editor: Charlenne Kayla Roeslie

Foto: ugolini.co.thkompas.com, townandcountrymag.com, thenews.com

Sumber: cnnindonesia.com