Rekomendasi Film Mengenai Kesehatan Mental

(Ilustrasi: Nataliya Smirnova)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Kesehatan mental menjadi bahan percakapan hangat dalam beberapa tahun terakhir. Media pun tak ketinggalan menyajikan potret orang-orang yang dengan penyakit mental dan mencoba menghapus stigma yang ada di sekeliling penyakit mental seperti depresi, autisme, gangguan kecemasan, dan schizoprenia. Berikut merupakan rangkuman tiga film yang mengenai penyakit dan kesehatan mental.

Melancholia (2011)

Disutradarai oleh Lars von Trier, Melancholia adalah film drama fiksi ilmiah yang bercerita tentang dua kakak-beradik, Justine (Kirsten Dunst) dan Claire (Charlotte Gainsbourg) tepat sebelum planet baru bernama Melancholia menghantam bumi. Terdiri dari dua bagian, film ini berfokus pada penyakit mental yang diderita kedua karakter utamanya dan respon mereka menghadapi kehancuran.

Di bagian pertama, kita diajak untuk mengenal Justine lewat resepsi pernikahannya. Walau baru menikah, bukan berarti depresi yang dialaminya hilang begitu saja. Selama setengah film, adegan selalu berpindah antara suasana pesta yang riuh dan episode-episode kesedihan dan kesendirian yang dialami Justine di resepsi pernikahannya sendiri.

Bagian kedua bercerita mengenai Claire dan gangguan kecemasannya. Seiring planet Melancholia semakin mendekat dengan bumi, Claire diserang kepanikan karena memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi. Terlebih, saat kehancuran sudah di depan mata.

 

Black Swan (2010)

Dalam Black Swan, Natalie Portman berperan sebagai Nina Sayers, seorang balerina yang mengidap gangguan makan dan halusinasi kronis. Ia bercita-cita untuk mendapatkan peran ganda sebagai Swan Queen dalam pertunjukkan Swan Lake karya Tchaikovsky.

Setelah melewati audisi, Nina mendapatkan perannya, walau menurut direktur artistiknya ia tak bisa bermain sebagai Black Swan. Lalu muncul Lily (Mila Kunis), balerina baru yang sangat cocok memerankan Black Swan dan bisa merebut posisi Nina sebagai Swan Queen.

Dalam film ini, kita mengikuti perjalanan Nina dalam mencapai kesempurnaan, yang kemudian menyebabkan halusinasi kronis akibat stress yang dialaminya. Tak hanya halusinasi, film ini juga menyajikan potret gangguan makan yang umum dialami oleh balerina karena tekanan untuk memilki tubuh ideal.

 

Inside Out (2015)

Film animasi produksi Pixar ini berkisah tentang berbagai emosi yang mengontrol otak Riley, seorang anak kecil berusia 11 tahun yang baru saja pindah ke San Francisco. Otak Riley digambarkan sebagai ‘kantor’ tempat lima emosi dasar manusia—Joy, Sadness, Fear, Disgust, dan Anger—bekerja.

Riley kesulitan beradaptasi dengan lingkungannya yang baru, namun Joy ingin Riley selalu bahagia dan tak memperbolehkan Sadness untuk mengontrol otak Riley. Tetapi dengan tidak memperbolehkan Riley merasakan kesedihan, Joy perlahan ‘membunuh’ kepribadian Riley, dan kantor tempat para emosi bekerja pun hancur perlahan.

Inside Out memberi pengertian bahwa segala bentuk emosi penting untuk dirasakan, termasuk kesedihan dan rasa sakit. Hal tersebut menjadi krusial dalam pembentukan kepribadian dan kesehatan mental manusia, terutama remaja. Menganggap bahwa perasaan-perasaan itu tak ada sama saja dengan ‘membunuh’ diri sendiri. Kita tak akan bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya jika selalu menghindari kesedihan.

 

Penulis: Charlenne Kayla Roeslie

Editor: Hilel Hodawya

Ilustrasi: Nataliya Smirnova