Dari Jerih Hingga Sedih, Novel ‘Laut Bercerita’ Ceritakan Kisah Zaman Orde Baru

Sumber: salihara.org
Share:

“Matilah engkau mati
kau akan lahir berkali-kali…”

SERPONG, ULTIMAGZ.com – ‘Laut Bercerita’, begitulah judul novel karya Leila S. Chudori yang terbit pada tahun 2017. Sesuai dengan judulnya, novel ini menceritakan kehidupan seorang mahasiswa Sastra Inggris yang bernama Biru Laut Wibisono. Hidup Laut tidak bisa dibilang aman karena ia merupakan mahasiswa pemberontak rezim Orde Baru pada masanya.

Kisah dimulai dengan Laut menceritakan waktunya bertemu ajal. Hari-hari disekap dalam penjara bawah tanah dengan pukulan akhirnya berakhir dengan kematian di lautan. Setelah itu cerita bergeser mundur ke tahun 1991 di Seyegan, Jogja. Laut mulai menceritakan awal mula dirinya bergabung di organisasi pemberontak. Kala itu Laut bertemu dengan Anjani yang kemudian menjadi kekasih Laut di kemudian hari.

Melalui tokoh Laut, Leila menceritakan karakter-karakter lainnya seperti Alex, Sunu, Daniel, Julius, Gusti, Bram, dan Kinan. Mahasiswa-mahasiswa ini tidak gentar dengan ancaman kekejaman rezim Orde Baru karena mereka yakin gerakan mereka bisa menggebrak rezim yang telah berkuasa semena-mena selama puluhan tahun. Wirasena, nama organisasi mereka melakukan berbagai macam kegiatan seperti membahas tulisan Pramoedya Ananta Toer yang kala itu merupakan bacaan terlarang.

Laut dan teman-temannya merasa tidak bisa berdiam diri ketika melihat rakyat hidup di bawah tekanan dan ketakutan. Penghilangan paksa dan penculikan merupakan hal yang dianggap wajar terjadi.

Alur cerita yang maju mundur membuat pembaca bisa menebak bahwa Laut dan teman-temannya pada akhirnya akan tertangkap. Leila masih menggunakan sudut pandang Laut hingga tengah cerita yaitu hingga Laut menceritakan hari-harinya di penjara. Namun ketika Laut akhirnya dibuang ke laut, sudut pandang bergeser menjadi sudut pandang Asmara Jati yang tidak lain adalah adik kandung laut.

Berbeda dari sudut pandang sebelumnya yang lebih memfokuskan cerita pada kegiatan terlarang dan usaha pelarian, sudut pandang Asmara lebih tertuju pada usahanya mencari keberadaan kakaknya. Beberapa teman Laut yang diculik dibebaskan namun beberapa dihilangkan tanpa ada kabar.

Asmara menceritakan bagaimana keluarganya hancur dan orangtuanya masih menanggap Laut hanya pergi tapi akan kembali suatu saat nanti. Tulisan Leila S. Chudori berhasil menyentil emosi pembaca dengan kisah keluarga yang rapuh.

“Jika mereka telah tiada, dimanakah jenazahnya, biar kami menguburnya?” kiranya itu yang selalu berputar-putar dikepala mereka.

Asmara yang merupakan dokter muda tidak pernah lelah berdiri di depan Istana Negara untuk mengingatkan seisi dunia bahwa masih ada ketidakadilan yang menimpa keluarganya. Peristiwa ini dilakukan secara rutin pada hari Kamis sehingga dinamai Kamisan.

Novel ini kemudian diangkat menjadi film pendek yang disutradarai Pritagita Arianegara. Film pendek yang berjudul sama seperti novelnya Laut Bercerita (The Sea Speaks His Name) diperankan oleh Reza Rahardian selaku Laut, Dian Sastrowardoyo sebagai Asmara dan Ayushita sebagai Anjani. Film berdurasi 30 menit ini merupakan ringkasan dari 379 halaman novel yang diambil beberapa adegan terpentingnya saja.

Sumber: discoverlyasian.wordpress.com

Meski novel ini merupakan karya fiksi, namun gaya penceritaan Leila membuat kisah Laut terasa nyata. Sejatinya kisah ini memang diangkat berdasarkan kejadian nyata kasus pemberontakan serta penghilangan secara paksa beberapa mahasiswa namun tokoh Laut dan hidupnya adalah fiksi belaka.

‘Laut Berceita’ merupakan karya sastra yang mencampur adukkan perasaan pembaca. Leila membawa pembacanya merasa ngeri dari kisah-kisah Laut dan simpati dari kacamata Anjani. Berlatar pada tahun 1998, pembaca muda yang tidak bersinggungan langsung dengan tragedi tahun itu jadi bisa mengerti garis besar kejadian yang terjadi.

Karya ini cocok untuk dibaca oleh semua orang dari rentang usia hingga dewasa. Perlu dicatatat Leila S. Chudori menggambarkan adegan penyiksaan dengan cukup gamblang sehingga bagi pembaca yang tidak kuat dengan imaji kekerasan untuk berhati-hati dalam membaca.

 

Penulis: Andi Annisa Ivana Putri

Editor: Hilel Hodawya

Gambar: Salihara.org

Sumber: edukasi.kompas.com, gaya.tempo.co, www.goodreads.com