Hari Buku Nasional, Perpusnas, dan Minat Baca Indonesia

Ilustrasi seseorang sedang membaca buku. (ULTIMAGZ/Yvonne Jonathan)
Ilustrasi seseorang sedang membaca buku. (ULTIMAGZ/Yvonne Jonathan)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Sejak 2002, pemerintah menetapkan 17 Mei sebagai Hari Buku Nasional. Peringatan Hari Buku Nasional sebenarnya memiliki hubungan erat dengan berdirinya Perpustakaan Nasional (Perpusnas) dan minat baca masyarakat Indonesia.

Sejarah Perpusnas dimulai dari berdirinya Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (Ikatan Kesenian dan Ilmu Batavia) pada zaman kolonial Belanda. Pemerintahan Belanda mendirikan sebuah lembaga independen ini untuk memajukan penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan pada 1778. Kemudian pelopor Perpusnas ini yang berganti nama menjadi Lembaga Kebudajaan Indonesia pada 1950 dan kini menjadi Museum Nasional Indonesia.

Setelah itu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada saat itu, Daoed Joesoef, mencetuskan berdirinya Perpusnas pertama di Jakarta 17 Mei 1980. Inilah yang menginspirasi munculnya Hari Buku Nasional. Perayaan Hari Buku Nasional akhirnya ditetapkan pada 2002 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Kabinet Gotong Royong Abdul Malik Fadjar. Pemerintah berharap bahwa dengan adanya Hari Buku Nasional, minat baca masyarakat dan penjualan buku di Indonesia bisa meningkat.

Harapan ketika ditetapkan Hari Buku Nasional masih melekat sampai sekarang. Akan tetapi, ada beberapa penelitian yang mengungkapkan bahwa minat baca masih rendah.

Pada 2016, Organisasi Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) mengkalkulasi bahwa minat baca di Indonesia hanya mencapai 0,001 persen atau sama dengan 1 dari 1000 orang. Apabila melihat jumlah penduduk Indonesia dalam pada tahun yang sama, ada di kisaran 261 juta jiwa di Indonesia. Hal itu berarti hanya 261 ribu orang memiliki minat baca.

Selain itu, Central Connecticut State University (CCSU) merilis peringkat literasi 61 negara yang berjudul World’s Most Literate Nations pada Maret 2016. Zamrud khatulistiwa menduduki urutan ke-60 di peringkat tersebut. Faktor-faktor yang mempengaruhi tidak hanya pendidikan saja, tetapi dari ukuran perpustakaan dan akses kemudahannya bagi masyarakat. Meskipun demikian, Hari Buku Nasional masih tetap ada sebagai pengingat akan pentingnya buku dan minat baca di Indonesia.

Infografik Hari Buku Nasional. (Foto: ULTIMAGZ/Nadia Indrawinata)

 

Penulis: Nadia Indrawinata

Editor: Elisabeth Diandra Sandi

Foto: Yvonne Jonathan, Nadia Indrawinata

Sumber: idntimes.com, hot.detik.com, bobo.grid.id, news.detik.com, perpusnas.go.id, pinclipart.com