Bukan Tanda Kelemahan, Menangis Juga Memiliki Manfaat

Menangis memiliki banyak manfaat untuk kesehataan fisik dan mental. (Sumber foto: 9gag)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.COM – Menangis adalah salah satu wujud ekspresi emosi yang manusia miliki. Namun, masyarakat masih kerap mengasosiasikan tangisan sebagai bentuk kelemahan seseorang tanpa melihat efek positif yang ada di belakangnya.

Menahan air mata bukanlah tindakan yang baik untuk kesehatan psikis. Menahan tangis sama halnya dengan meningkatkan stres yang tidak hanya berakibat buruk untuk kesehatan mental, tapi juga kesehatan tubuh secara jasmani.

Dengan menangis, tubuh akan menghasilkan hormon endorfin yang baik untuk kesehatan fisik maupun pikiran. Hormon yang juga dijuluki sebagai hormon ‘bahagia’ ini bertugas menstabilkan mood dan emosi, sekaligus membuang hormon-hormon dan zat kimia yang disebabkan oleh stres. Dengan terbuangnya hormon atau zat kimia tadi, perasaan pun akan menjadi lebih lega setelah menangis.

Selain itu, dalam air mata juga terdapat banyak hormon adrenocorticotropic (ACTH) yang berfungsi untuk merangsang hormon kortisol yang bermanfaat untuk mengendalikan stres dan mempertahankan tekanan darah supaya tetap normal. Terjaganya tingkat stres dan tekanan darah akan berujung pada peredaran darah yang lancar dan organ tubuh yang sehat.

Di luar manfaatnya untuk menjaga emosi dan kesehatan dalam tubuh, air mata juga memiliki kegunaan lain sebagai pembersih mata. Berbeda dari pembersih kekinian yang banyak menggunakan senyawa kimia, air mata bisa membersihkan mata secara alami sehingga lebih higienis dan tidak memiliki risiko.

Tidak ada salahnya untuk menangis. Selain menghadirkan beragam manfaat seperti yang sudah dijelaskan tadi, menangis juga merupakan salah satu wujud ekspresi emosi yang manusiawi untuk dilakukan. Dengan mengesampingkan stereotipnya sebagai tanda kelemahan, menyadari kesalahan lewat menangis juga dapat menjadi pelajaran yang berguna secara emosional.

 

Penulis : Theresia Amadea

Editor : Gilang Fajar Septian

Foto : 9GAG

Sumber : Merdeka.com, Alodokter.com, Psychologytoday.com