Flora Endemik Indonesia yang Berada di Garis Kepunahan

Bunga Rafflesia, salah satu flora endemik Indonesia yang kian mendekati kepunahan. (Foto: Pegipegi.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Indonesia merupakan surga dari ribuan flora dan fauna. Dilewati oleh garis khatulistiwa, Indonesia diberkahi oleh iklim tropis yang mendukung keanekaragaman hayati. Menurut Kepala Pusat Konservasi Tumbuhan LIPI Mustaid Siregar, baru 8.000 jenis flora yang telah teridentifikasi. Jumlah tersebut diperkirakan hanya 20 persen dari seluruh jumlah flora di Indonesia.

Meski variasi flora Indonesia sangat banyak, berbagai macam spesies kian mendekati kepunahan setiap tahunnya. Tambah lagi, banyaknya jumlah flora yang belum teridentifikasi membuat langkah pencengahan tidak bisa dilakukan maksimal. Sayangnya, beberapa faktor kepunahan tersebut diakibatkan oleh perilaku manusia. Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati (IPH) LIPI Prof. Dr. Bambang Prasetya menuturkan, pada umumnya kepunahan atau biodiversity lost disebabkan adanya alih fungsi lahan, ekploitasi lahan, dan penebangan liar. Bambang menambahkan, faktor pencemaran ekosistem baik di darat dan perairan, serta pengaruh tanaman liar yang bersifat invasif turut berpengaruh terhadap kelestarian flora. 

“Hal ini diperburuk pemerintah daerah yang tidak mengontrol ketat bahwa, setiap pembangunan perkebunan harus ada upaya konservasi biodiversity yang ada di lahan itu. Misalnya, dipindahkan ke tempat konservasi,” ujar Bambang seperti dikutip dari Republika.co.id.

Berikut adalah beberapa flora Indonesia yang berada di ambang kepunahan.

  1. Kantong Semar (Nephentes)

Kantong semar merupakan flora karnivor unik yang memangsa serangga seperti lebah dan nyamuk. Salah satu faktor yang menyebabkan flora ini berada di ambang kepunahan adalah perdagangan liar dan alih fungsi lahan. Penjualan kantong semar marak terjadi di dunia maya. Akibatnya, kantong semar harus dilestarikan di area konservasi untuk menjaga keberadaannya.

Foto: artikelrumah123.com
  1. Anggrek Tebu (Grammatophyllum speciosum)

Anggrek ini digadang sebagai anggrek terbesar dan terberat. Pada satu rumpun dewasa, anggrek ini bisa mencapai berat lebih dari satu ton dengan panjang malai hingga tiga meter. Populasi anggrek tebu kian menurun akibat waktu tumbuh yang lama dan juga eksploitasi yang dilakukan oleh para pengumpul anggrek.

Foto: floraku.com
  1. Bunga Padma Raksasa (Rafflesia Arnoldii)

Datangnya ancaman terhadap kepunahan bunga yang akrab disebut bunga bangkai ini disebabkan oleh penurunan luas habitat akibat penebangan liar. Merujuk pada Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 1999, bunga ini sudah masuk ke dalam flora yang dilindungi.

Foto: pegipegi.com
  1. Bunga Edelweiss Jawa (Anaphalis Javanica)

Bunga yang kerap disebut bunga abadi ini dahulu banyak bermekaran di pegunungan Jawa, seperti Gunung Gede, Pangrango, dan Papandayan. Mitos yang beredar mengenai bunga edelweiss menyumbang alasan bunga ini hampir punah. Menurut mitos, memetik bunga itu dan memberinya kepada pujaan hati merupakan lambang ketulusan cinta serta keabadian sepasang sejoli. Selain itu, maraknya aksi kebakaran hutan di daerah pegunungan tempat bunga ini hidup turut mendukung kelangkaan bunga edelweiss.

Foto: generasibiologi

(Baca juga: 3 Satwa Endemik Indonesia di Ambang Kepunahan)

Tak hanya terjadi di Indonesia, masalah kepunahan flora maupun fauna dialami pula di negara lain. Sebagai contoh, Baiji atau lumba-lumba air tawar di Tiongkok yang punah akibat polusi sungai.

Tidak dapat dipungkiri bahwa, perburuan liar dan perusakan habitat menjadi penyebab punahnya flora maupun fauna. Menurut data PBB, jika tren perburuan liar terus berjalan tidak terkendali, maka tidak akan ada stok ikan yang dapat dieksploitasi untuk penangkapan ikan komersial pada 2048 di Asia Pasifik.

Ilmuwan PBB Robert Watson mengatakan bahwa keanekaragaman hayati dan ekosistem lebih dari sekadar makhluk, karena keseimbangan mereka adalah jaminan bagi manusia. Robert menyimpulkan apa yang terjadi ini merupakan efek samping dari pertumbuhan populasi manusia yang membuat kebutuhan akan makanan, air bersih, dan energi semakin banyak. Selain itu, cara manusia yang rakus dalam mendapatkan semua itu membuat populasi ragam hayati semakin kritis.

 

Penulis: Andi Annisa Ivana Putri

Editor: Anindya Wahyu Paramita

Foto: pegipegi.com

Sumber: Mongabay.co.id, detik.com, cnnindonesia.com, republika.co.id