Hindari Begadang, Hindari Penyakit

Mahasiswa yang begadang
Ilustrasi dampak begadang bagi mahasiswa (ULTIMAGZ/ Veronica Novaria)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Gawai dan tugas seringkali membuat kita lupa untuk tidur dengan benar. Begadang merupakan kegiatan yang dapat membahayakan kesehatan tubuh. Oleh karena itu, pola tidur yang baik harus dilakukan sejak dini.

Banyak hal yang dapat menjadi penyebab sedikitnya jam tidur, seperti tugas yang menumpuk, candu bermain gawai, dan berbagai macam kesibukan lainnya. Padahal, waktu tidur yang cukup bagi mahasiswa dan orang dewasa adalah tujuh hingga delapan jam sehari. Namun, kesibukan bisa membuat seseorang hanya tidur 4-5 jam sehari atau lebih parahnya hanya tidur 2 jam.

Dampak begadang sangat berpengaruh bagi kesehatan dan kegiatan yang kita lakukan sehari-hari. Menurut penelitian yang dilakukan oleh David Dinges dari University of Pennsylvania School of Medicine di Philadelpia mengatakan bahwa kurang tidur karena begadang dapat menganggu kegiatan belajar. Kurangnya tidur juga dapat menyebabkan otak mengikis bagiannya dalam proses mengingat.

Selain itu, begadang juga menyebabkan mood seseorang menjadi kacau. Seseorang jadi mudah marah jika kurang tidur. Selain mengganggu kegiatan sehari-hari dan mood, kurangnya tidur juga berdampak buruk untuk tubuh.

Dampak buruk bagi kesehatan kita adalah obesitas, hipertensi, dan diabetes. Menurut studi yang dilakukan oleh Wisconsin Sleep Cohort Study, durasi tidur yang pendek menyebabkan kenaikan indeks massa tubuh atau berat badan

Cinta Ayuning Tyas dan Widyasari Kumala pada studinya “Hubungan Jumlah Jam Tidur Malam Hari dengan Indeks Massa Tubuh di Fakultas Kedokteran X” menjelaskan bahwa ada dua hormon yang mengatur nafsu makan. Hormon tersebut adalah ghrelin yang merangsang keinginan untuk makan dan hormon leptin yang mengisyaratkan bahwa energi sudah tercukupi. Namun, kurang tidur menyebabkan meningkatnya hormon ghrelin dan menurunkan hormon leptin. Hal ini yang menyebabkan seseorang naik berat badannya bahkan beresiko obesitas.

Obesitas berhubungan pula pada diabetes. Seseorang yang telah megalami obesitas lebih berisiko pada diabetes. Rasa lapar yang dirasakan kurang tidur mendorong keinginan makan di malam hari. Metabolisme glukosa yang terdapat dalam tubuh menjadi terganggu yang memicu risiko diabetes.

Risiko hipertensi pada seseorang yang memiliki pola tidur buruk 9,02 lebih besar daripada mereka dengan pola tidur yang baik. Hal ini telah diteliti oleh Shofa Roshifanni dalam “Risiko Hipertensi Pada Orang Dengan Pola Tidur Buruk”, seseorang yang kurang tidur akan mengalami stress. Kemudian, stress akan meningkat seiring dengan meningkatnya tekanan darah secara  bertahap. 

Pola tidur yang baik perlu diterapkan mahasiswa dan orang dewasa lainnya. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan fokus dalam belajar, semangat dalam beraktifitas, dan mencegah penyakit yang tidak diinginkan sejak dini.

Beberapa pola tidur yang dianjurkan adalah tidur yang cukup, tidur siang singkat, mematikan lampu saat tidur, termasuk lampu monitor dari komputer atau laptop, dan hindari hanya berbaring saat tidak dapat tidur. Adanya midnight thoughts atau pikiran yang menghantui malam-malam sebelum tidur terkadang menjadi salah satu penyebab sulitnya tidur. Saat hal ini terjadi, bangunlah terlebih dahulu untuk melalukan aktivitas yang membuat rileks lalu baru kembali mencoba tidur.

Menurut penelitian “Strategi Hidup Sehat Sebagai Upaya Pencegahan Terhadap Hipertensi Dini” yang dilakukan Nindya Sekar Mayuri, Sofidita Ghifrani, Haula Nanda Ardinia, dan Rosiana Dwy Setyaningsih, tidur siang singkat di tengah aktivitas berat dapat membantu pencegahan hipertensi. Durasi tidur siang cukup 20-30 menit saja.

Berikut ini merupakan beberapa cara lain yang dianjurkan kementerian kesehatan dalam menjaga pola tidur yang baik.

infografik kemenkes

 

Penulis: Maytiska Omar

Editor: Andi Annisa Ivana Putri

Foto:  Veronica Novaria

Sumber: Hellosehat.com, liputan6.com