Mahasiswa ITB Ciptakan Alat Pencari Korban Kecelakaan di Laut

Ilustrasi kecelakaan kapal. (Sumber foto: Merdeka.com)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Tiga mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) menciptakan alat pencari korban kecelakaan di laut yang bernama Human Detection System (HDS). Inovasi HDS dikembangkan dari teknologi Machine Learning serta Unmanned Aerial Vehicle (UAV).

HDS dirancang oleh tiga orang mahasiswa ITB yaitu Nyoman Abiwinanda, Muhammad Arkaan Izhraqi, dan Adinda Sekarwangi. Alat ini diharapkan dapat membantu pencarian korban kecelakaan di laut, mengingat cukup banyak kecelakaan kapal yang menimbulkan korban hilang.

Menurut Arkaan, ide pembuatan alat ini berawal dari penggunaan drone oleh Badan SAR Nasional sebagai sistem UAV pencarian korban di lautan.

“Namun pencariannya masih bersifat manual tanpa adanya suatu sistem pendeteksi sehingga akan membutuhkan waktu yang lama dalam pencariannya,” ujar Arkaan di Bandung, Selasa (29/05/18) dikutip dari Antaranews.com.

Berbeda dengan UAV pada umumnya, Arkaan menyebut HDS lebih unggul. Sebab, sistemnya dapat bekerja otomatis tanpa pemantauan terus menerus oleh operator di ground station. Penemuan HDS diyakini dapat menjadi solusi dari masalah jangkauan pencarian yang luas dan operator yang tidak memungkinkan untuk memantau selama 24 jam.

HDS dibuat dengan mengintegrasikan sistem autopilot UAV, yaitu Hexa Copter dengan perangkat lunak pendeteksian objek. Dengan begitu, proses pencarian dapat dilakukan secara paralel dan otomatis.

Arkaan menjelaskan kalau awalnya Hexa Copter akan terbang sesuai dengan titik yang ditetapkan oleh operator di ground station sebagai bentuk inisiasi awal. Selanjutnya, video akan ditransmisikan ke ground station yang nantinya diproses dengan perangkat lunak pendeteksi manusia. Di bagian antarmuka ground station, sebuah notifikasi berupa bonding box akan muncul.

“Jadi kalau ada manusia yang terdeteksi maka kemudian akan diikuti bunyi alarm. Output akhir yang dihasilkan dari antar muka adalah posisi korban dalam bentuk koordinat,” kata Arkaan.

Walau memiliki keunggulan dibanding UAV biasa, Arkaan mengakui kalau HDS masih memiliki beberapa kekurangan.

“Sejauh ini, HDS baru mampu mendeteksi objek di dekat permukaan laut saja. Sehingga perlu dilakukan peningkatan pada pengambilan gambar seperti dengan digunakannya kamera inframerah,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Arkaan berharap produk HDS dapat diaplikasikan secara kongkrit, sehingga bisa mempercepat evakuasi korban kecelakaan di laut.

 

Penulis: Nabila Ulfa Jayanti

Editor: Gilang Fajar Septian

Foto: Merdeka.com

Sumber: Antaranews.com, Cnnindonesia.com, Tempo.co, Ayobandung.com, Pikiran-rakyat.com