Opini: Akhir Zaman, Krisis Iklim Global, dan Bahaya yang Mengintai Kita

(Ilustrasi: Matthew Laznicka)
Share:

“We are the first generation to feel the sting of climate change, and we are the last generation that can do something about it.”

– Jay Inslee

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Akhir zaman itu datang dalam krisis iklim. Selama satu tahun terakhir, kita melihat banyak bencana alam berskala besar terjadi di berbagai belahan dunia; kebakaran hutan di Brasill dan Australia, Taifun Hagibis dan Dorian di Jepang dan Kepulauan Bahamas, hingga banjir besar yang melanda Jabodetabek awal tahun ini.

Dalam skala yang lebih besar, krisis iklim dapat terlihat dari naiknya ketinggian air laut akibat pemanasan global. Menurut data NASA, ketinggian air laut mengalami kenaikan sebesar 4,3 cm dalam satu dekade terakhir. Kenaikan ini bukan hanya disebabkan oleh mencairnya gletser di kutub, melainkan juga karena berkurangnya volume air yang dapat diserap tanah akibat pembangunan dan pemompaan air tanah berlebih.

Tak cuma itu, temperatur global pun meningkat drastis. Tahun 2019 dinobatkan sebagai tahun terpanas kedua sepanjang sejarah, dengan temperatur global mencapai 0,98 derajat Celcius lebih tinggi dibanding rata-rata temperatur abad 20. Dekade ini juga merupakan dekade paling panas sepanjang sejarah, dengan kenaikan suhu yang signifikan selama lima tahun terakhir.

Baca juga: Mengenali Pemanasan Global, Bahaya ‘Kehangatan’ Dunia dan Solusinya

Krisis iklim tentunya membawa dampak buruk bagi manusia di berbagai lini kehidupan. Korban nyawa, infrastruktur yang rusak, hingga terhambatnya kegiatan ekonomi akibat bencana alam. Bhima Yudhistira, seorang peneliti di Development of Economics and Finance (INDEF) mengatakan, kerugian akibat banjir Jabodetabek awal tahun ini diperkirakan mencapai lebih dari 10 triliun Rupiah.

Langkah-langkah untuk memerangi perubahan iklim memang telah dilakukan. Sebanyak 194 negara telah menandatangani Persetujuan Paris (The Paris Agreement) yang dibuat pada Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) 2015 lalu. Persetujuan ini dimaksudkan untuk menahan laju temperatur global untuk tetap berada di bawah 2 derajat Celcius.

Sayangnya, Amerika Serikat (AS) sebagai penghasil emisi gas rumah kaca terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok mengundurkan diri dari persetujuan tersebut pada pertengahan tahun 2017 lalu. Presiden AS Donald Trump berpendapat, Persetujuan Paris dapat menghambat pertumbuhan ekonomi AS.

Hal serupa dikatakan Presiden Joko Widodo terkait produksi minyak kelapa sawit yang menjadi komoditas ekspor utama Indonesia. Dalam unggahan Instagramnya pada Sabtu (11/01/20) lalu, Jokowi menyatakan bahwa isu minyak kepala sawit tidak ramah lingkungan yang dimunculkan Uni Eropa (UE) hanyalah strategi bisnis antarnegara semata. Padahal, dampak konversi hutan dan lahan gambut untuk digunakan sebagai perkebunan sawit sudah jelas dirasakan masyarakat. Contohnya, peristiwa kabut asap yang terjadi di Riau, September lalu.

Dengan hutan-hutan yang terbakar, kota-kota yang tenggelam, dan kematian yang terasa semakin dekat, rasanya kita perlu berbuat lebih banyak. Mengurangi jejak karbon pribadi dengan menerapkan pola hidup ramah lingkungan bisa jadi langkah awal, tetapi kita juga perlu menuntut para pembuat kebijakan untuk mementingkan lingkungan dan membangun secara berkelanjutan. Bila tidak, mungkin kita akan lebih dulu mati diterjang ombak atau kepanasan sebelum mencapai usia lanjut.

“If you really think that the environment is less important than the economy, try holding your breath while you count your money.”

– Guy McPherson

 

Penulis: Charlenne Kayla Roeslie

Editor: Nabila Ulfa Jayanti

Ilustrasi: Matthew Laznicka

Sumber: climate.nasa.gov, climate.gov, worldwildlife.org, wsj.com, bbc.com, tirto.com