Catastrophic Thinking, Kebiasaan Memprediksi Skenario Terburuk

Ilustrasi seseorang yang tenggelam memikirkan skenario terburuk. Catastrophic Thinking. (Foto: pexels.com)
Ilustrasi seseorang yang tenggelam memikirkan skenario terburuk. (Foto: pexels.com)
Share:

JAKARTA, ULTIMAGZ.com – Pernahkah kamu melihat dirimu memikirkan skenario terburuk dari suatu peristiwa? Tenggelam dalam dugaan akan suatu hal, juga rasa takut yang belum tentu terjadi. Contohnya, seperti memprediksikan hal terburuk yang tanpa disadari malah berbalik menyerangmu.

Catastrophic thinking merupakan sebuah kebiasaan untuk memercayai bahwa sesuatu yang terburuk akan terjadi. Pemikiran seperti ini dapat membuat seseorang percaya bahwa suatu hal yang terjadi padanya akan sangat buruk dan membuatnya tak berdaya, dikutip dari pijarpsikologi.com.

Ron Breazeale dalam psychologytoday.com mengatakan bahwa catastrophic thinking membuat seseorang memikirkan skenario terburuk secara tidak rasional. Ron mengatakan bahwa kebiasaan seperti ini dapat meningkatkan rasa cemas dalam diri seseorang, dan membuat orang itu tidak dapat mengambil keputusan saat dibutuhkan, terutama dalam situasi sulit.

Pikiran seperti ini dapat membuat orang yang melakukan merasa sedih, tak berdaya, takut, dan stres. Bila terus dilakukan, budaya pikir seperti ini dapat membuat seseorang masuk dalam depresi, dilansir dari medicalnewstoday.com.

Joe Dilley dalam psychcentral.com mengatakan bahwa catastrophic thinking bermasalah, sebab pikiran ini mampu menjadi pemicu terjadinya hal-hal yang berusaha kita cegah. Seperti kata pepatah, apa yang kita pikirkan, itulah yang akan terjadi. Menjadi mungkin bahwa sering memprediksi skenario terburuk akan meningkatkan kemungkinan scenario terburuk tadi terjadi pada kita.

Ron dalam psychologytoday.com menghimbau, budaya pikir seperti ini perlu dikelola, bukan dikurangi. Mengutip medicalnewstoday.com, ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi catastrophic thinking.

Pertama, kamu harus mengakui bahwa ada hal-hal yang akan membuatmu tidak nyaman. Hidup tidak selalu dipenuhi dengan hal baik. Kita juga pasti akan merasakan hal buruk dalam hidup kita, tapi bukan berarti satu hal buruk akan membuat seluruh kehidupan kita buruk.

Kedua, kamu harus menyadari bahwa kamu berpikir secara irasional. Catastrophic thinking seringkali diikuti oleh pola pikir yang berbeda. Contohnya seperti ini, seseorang mulai merasa dirinya sedang sakit. Pikiran ini kemudian berlanjut ke arah negatif dan membuatnya berpikir bahwa sakit yang ia rasakan semakin parah. Pikiran itu berkembang dan membuatnya berpikir bahwa ia tidak akan sembuh dari rasa sakitnya. Saat seseorang menyadari budaya berpikirnya ini, orang itu akan menjadi lebih siap menghadapinya.

Ketiga, yakinkan diri sendiri untuk berhenti memikirkan skenario negatif yang muncul dalam otakmu. Meneriakkan kata ‘berhenti’, atau ‘sudah cukup’ akan membantumu mengubah arah pikiranmu dan mencegah pikiran negatif tadi terus berlanjut.

Keempat, coba pikirkan hasil lain. Alih-alih memikirkan hasil negatif, coba pertimbangkan hasil positif atau opsi yang kurang negatif dari sebuah fenomena.

Kelima, yakinkan dirimu bahwa kamu bisa menghadapi pikiran ini. Seseorang dengan budaya catastrophic thinking ini harus mulai percaya pada diri mereka, dan percaya bahwa mereka dapat mengatasi rasa takutnya.

Terakhir, rawat dirimu. Pikiran negatif tadi seringkali muncul saat seseorang merasa stres dan lelah. Cobalah untuk berisitirahat yang cukup dan melakukan sesuatu untuk menghilangkan stress. Berolahraga, meditasi, atau menulis jurnal dapat membantumu merasa lebih baik.

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena Vedasari

Editor: Xena Olivia

Foto: pexels.com

Sumber: pijarpsikologi.com, psychologytoday.com, medicalnewstoday.com, psychcentral.com