Dampak Jadi Kaum Rebahan dan Mager

Dampak mager (ultimagz)
Ilustrasi masyarakat yang sedang mager dan rebahan. (ULTIMAGZ/Kevin Oei Jaya)
Share:

SERPONG, ULTIMAGZ.com Sedang dalam posisi rebahan di atas kasur atau sofa?  Sedang tidak ingin melakukan apa-apa dan hanya ingin berselancar dalam dunia maya? Tandanya, kalian menjadi bagian dari kaum rebahan dan mager, Ultimates.

Akan tetapi, kita harus membiasakan diri untuk mengurangi tingkat kemageran dan seringnya rebahan, lho! Banyak dampak-dampak yang mengancam jika kita terus-terusan rebahan dan merasa mager. Sebelum lebih jauh, apa sih maksud dari istilah ‘kaum rebahan’ dan ‘mager’ itu?

Istilah ‘kaum rebahan’ terdengar beberapa tahun belakangan ini. Dilansir dari lektur.id, ‘kaum rebahan’ memiliki empat arti. Kaum rebahan merupakan sebutan untuk orang yang suka bermalas-malasan di tempat tidur, tidak produktif, tidak memiliki target, dan serba instan untuk mendapatkan sesuatu. Intinya, kaum rebahan adalah kaum yang selalu ingin merebahkan dirinya di atas kasur atau sofa sambil melakukan aktivitas yang dia bisa. Sedangkan istilah ‘mager’ merupakan singkatan dari ‘malas gerak’, di mana kita malas untuk bergerak dan melakukan sesuatu yang produktif.

Melansir vice.com, menurut penelitian World Health Organization (WHO)sebanyak 81% pelajar berusia 11-16 tahun di 146 negara terancam sakit-sakitan di masa tuanya karena kurang beraktivitas, terutama berolahraga. Studi penelitian ini terdapat dalam Jurnal The Lancet Child & Adolescent Health dan melibatkan sebanyak 1,6 juta pelajar di seluruh dunia.

Penelitian di atas juga memunculkan fakta-fakta unik baru. Hasil studi WHO menyebutkan bahwa perempuan lebih mager dibandingkan dengan laki-laki. Penelitian yang berlangsung pada tahun 2016 menyebutkan pelajar laki-laki di Filipina dan pelajar perempuan di Korea Utara merupakan pelajar paling pasif. Bangladesh dinobatkan menjadi negara dengan pelajar paling mager di dunia berdasarkan studi kasus itu.

Dalam penelitian milik WHO yang terdapat dalam Jurnal The Lancet Child & Adolescent Health, lebih dari 1,4 miliar orang dewasa di seluruh dunia berisiko lebih mudah sakit karena masa mudanya kurang olahraga. Selain itu, hasil studi juga menyebutkan bahwa negara-negara berpendapatan tinggi lebih jarang untuk beraktivitas dan berolahraga, seperti Amerika Serikat, Inggris, dan Jerman.

Menilik dari beberapa hasil penelitian di atas, tentu sangat disayangkan bila tren negatif tersebut terus dilanjutkan. Dilansir dari cnnindonesia.com, rasa malas dapat membunuh kita semua. Tubuh didesain untuk beraktivitas, tetapi kita malah jarang untuk bergerak. Ketika tubuh jarang bergerak, sejumlah masalah kesehatan akan muncul dan menghantui kaum rebahan. Gaya hidup seperti ini disebut gaya hidup sedenter, dimana kita hanya berdiam diri dan jarang bergerak. Gaya hidup ini memiliki dampak dampak tersendiri bagi kaum rebahan dan mager.

Dampak-Dampak Mager

Gaya hidup mager memiliki dampak-dampak yang berbahaya dan mengancam bagi tubuh, baik secara fisik maupun psikis. Apa saja dampak yang timbul dari seringnya merasa mager dan rebahan?

  • Risiko Kanker, Serangan Jantung, dan Diabetes

Tiga penyakit mematikan di atas merupakan dampak pertama yang akan dirasakan nanti jika kita sering rebahan dan merasa mager. Beberapa studi yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa kaum rebahan yang jarang beraktivitas memiliki risiko mengidap kanker. Kanker yang dimaksud seperti kanker usus, kanker rahim, dan kanker payudara.

Kabar bahagia bagi kalian yang sudah memiliki niat untuk lebih sering beraktivitas. Sebuah studi di Amerika Serikat, mengungkapkan bahwa risiko stroke pada pria yang melakukan aktivitas fisik berkurang 60%. Dilansir dari brilio.net dalam Nurses Health Study, wanita yang melakukan aktivitas fisik berpeluang 50% terhindar dari stroke dan serangan jantung.

Fakta menyebutkan seseorang yang menghabiskan 70 persen waktunya untuk bermalas-malasan menyebabkan peningkatan kadar gula dalam darah. Mengutip detikhealth, ada kurang lebih 10,7 juta orang di Indonesia yang mengidap diabetes. Hal tersebut disebabkan oleh kurangnya beraktivitas, alias mager.

  • Osteoporosis

Osteoporosis juga menjadi dampak yang muncul bila kita sering rebahan dan malas untuk gerak. Hal ini terjadi karena kurangnya aktivitas pada tubuh. Semakin kalian malas bergerak dan jarang beraktivitas, kekuatan dari tulang dan otot menjadi melemah. Alasannya adalah karena ketahanan dan kekuatan dari tulang dan otot menjadi berkurang bila kita jarang untuk bergerak. Tidak heran bila kita melihat banyak masyarakat berusia produktif yang terkena osteoporosis dan merasa encok.

  • Sulit Berkonsentrasi

Hal lain yang terjadi jika kita sering rebahan dan malas gerak adalah sulit untuk berkonsentrasi. Ahli kesehatan menyebutkan bahwa produksi hormon endorfin (senyawa kimia di tubuh untuk mengendalikan luka dan stres. ) akan berkurang saat tubuh kurang gerak. Hasilnya sirkulasi udara menjadi terganggu karena kadar oksigen yang kurang diterima oleh paru-paru.

Kita Harus Apa?

Agar dampak-dampak di atas tidak menimpa kalian, perlu rasanya untuk menguatkan niat dan tekad untuk aktif. Dengan niat dan tekad yang kuat, semua keinginan dan tujuan diyakini akan berhasil. Pepatah pernah berkata, proses tidak mengkhianati hasil. Kebiasaan baru menjadi produktif memang membutuhkan proses yang lama, tetapi percayalah bahwa hasil dari kebiasaan baru tersebut membawa kita menjadi individu yang lebih sehat. Selamat merubah kebiasaan burukmu, wahai kaum rebahan dan mager!

 

Penulis: Frengky Tanto Wijaya

Editor: Xena Olivia

Foto: Kevin Oei Jaya

Sumber: lektur.id, vice.com, kumparan.com, brilio.net, detikhealth.com, cnnindonesia.com