Insecure, Ketakutan yang Membatasi

perasaan insecure dan ketakutan
Ilustrasi perasaan insecure.(Ilustrasi: pixabay.com)
Share:

“Why escape your intended purpose by copying and trying to be someone else? You will discover who you were meant to be only after you have shown confidence being yourself.”

― Suzy Kassem, Rise Up and Salute the Sun: The Writings of Suzy Kassem

SERPONG, ULTIMAGZ.com – Banyak dari kita yang pernah atau sedang berpikir bahwa diri kita harus melewati ekspetasi orang lain dan diri sendiri. Kita memasang tuntutan yang dianggap sesuai dengan citra kita, atau dianggap blend in dengan kehidupan pergaulan, atau ekspetasi orangtua yang tinggi.

Tuntutan demi tuntutan menjadi pemicu yang membentuk karakter masing-masing pribadi, membuat individu memaksakan diri untuk mencapai tuntutan tersebut. Saat tuntutan tak dapat dipenuhi, akan muncul rasa kecewa dengan diri sendiri, merasa tidak cukup baik, merasa tidak aman, dan kemudian merasa takut. Perasaan ini yang kemudian kita kenal dengan sebutan insecure.

Pemahaman Mengenai Insecure

Insecure sebenarnya adalah rasa tidak aman. Lebih lanjut, insecure merupakan kondisi atau keadaan dimana seseorang memandang dirinya cenderung negatif, sehingga orang itu kemudian merasa tidak aman, merasa kurang, rendah diri, dan sejenisnya,” ungkap psikolog di bidang klinis, Anna Rusdiyana saat diwawancara, Senin (16/02/2020).

Anna juga mengatakan bahwga insecure dapat terjadi karena pengaruh faktor dari dalam maupun luar diri. Dari dalam diri misalnya, orang yang insecure memiliki kecenderungan untuk selalu memandang sesuatu dari sisi negatifnya, hal itu kemudian membuatnya merasa tidak aman. Untuk faktor dari luar diri, orang yang insecure cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain. Faktor lain yang memengaruhi munculnya insecure yaitu adanya pengalaman traumatis yang kemudian menyebabkan seseorang merasa tidak aman.

Anna berpendapat bahwa jika hal itu terus berlanjut, insecure bisa saja memengaruhi kesehatan mental seseorang, salah satunya meningkatkan risiko adanya kecemasan berlebih. Selain itu, orang yang insecure juga susah melihat dirinya sebagai orang yang baik, dan hal itu membuat orang insecure kemudian susah untuk menghargai dirinya sendiri.

Permasalahan lain yang dialami oleh orang insecure adalah membentengi diri. Orang insecure cenderung membatasi dirinya dari pengharapan karena mereka merasa tidak layak, atau tidak pantas mendapatkan hal tersebut. Contohnya, ada seseorang yang merasa dirinya tidak cukup cantik di lingkup pergaulannya, kemudian saat ada orang lain yang tertarik padanya, orang yang insecure itu bersikap denial, merasa bahwa tidak mungkin ada orang yang bisa tertarik padanya.

Ada juga orang insecure yang kemudian memaksakan diri menjadi seseorang yang bukan dirinya, demi bisa fit in di lingkup pergaulannya. Hal ini tentunya menimbulkan masalah bagi orang tadi, sebab ia berpura-pura di depan lingkup pergaulannya dan tidak bebas menjadi dirinya sendiri.

Mengatasi Insecure

“Kalau untuk cara mengatasinya, seseorang bisa berlatih untuk mengenal kelebihan dan kekurangan dirinya. Terus bila ada kecenderungan untuk memandang sesuatu dari sisi negatif, coba berlatih untuk mencari bukti apakah pandangan negatifnya tadi benar,” ujar Anna.

Ia juga mengatakan, bahwa penting bagi orang yang insecure untuk belajar mengurangi kebiasaan membandingkan diri sebab setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing.

Mengutip Tina Gilbertson dalam psychologytoday.com, ia mengatakan bahwa untuk menghadapi insecure, ada tiga cara yang dapat dilakukan. Pertama, memisahkan diri dari perasaan insecure, lihat ke dalam diri, dan tanyakan siapa yang merasakan insecure. Orang yang merasakan insecure tadi pasti merasakan sakit, dan orang yang sakit tidak seharusnya dihakimi.

Kedua, berteman dengan diri yang sedang merasakan insecure, jangan langsung menghakimi diri, tapi melihat bahwa dirimu sedang merasakan insecure. Terakhir, menerima perasaan insecure tadi. Jangan menghakimi diri karena perasaan insecure yang dirasakan, tetapi menerimanya tanpa menolak pemikiran tersebut.

Memang, ada kalanya manusia perlu berubah untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ada kalanya kita tidak berpuas diri, berusaha mengembangkan segala aspek dalam diri kita. Pandangan keluarga, lingkungan sosial, pekerjaan yang dilakukan, bahkan ekspetasi pribadi membuat kita menuntut diri kita untuk terus berkembang.

Namun, hal tersebut membuat kita lupa bahwa kadang kita harus berhenti peduli dengan apa yang orang lain pikirkan. Dengan ekspetasi diri yang kemudian menghancurkan kita dari dalam dan membentengi diri dari kebahagiaan, kemudian menyadari bahwa kita perlu menerima diri kita apa adanya dan percaya bahwa diri tak seburuk yang dipikirkan orang lain, atau diri sendiri.

 

Penulis: Ida Ayu Putu Wiena V.

Editor: Andi Annisa

Sumber: psychologytoday.com

Ilustrasi: pixabay.com